Kata orang laki-laki dan perempuan, itu tak bisa berteman. Pasti ada salah satu di antara mereka yang akan jatuh juga untuk mencintai. Dunia dengan segala teorinya, tapi hal itu sepertinya tak berlaku untuk Suuzan Pratiwi Swastika. Dia dan Leonardo Gunawan adalah sahabat sejak SMP. Tidak, tidak. Mereka bahkan tak cocok dikatakan temenan. Mereka justru lebih mirip dikatakan musuh bebuyutan. Bagaimana tidak? Hampir setiap kali mereka bertemu mereka selalu saja berantem. Entah gara-gara Leo jajan es tapi yang disuruh bayar Suuzan, entah itu karena Leo ngerecokin Suuzan yang lagi pedekate sama Ketua OSIS demenan dia, atau saat Leo ketahun nonton sesuatu yang tak seharusnya dan Suuzan secara terang-terangan ngadu ke guru BP. Mereka selalu tak pernah berhenti berdebat dan saling mengejek. Bertemu pertama kali saat SMP di ekstrakurikuler pramuka. Gara-gara terlambat datang dan dihukum bareng, akhirnya mereka jadi dekat. Saat SMA mereka memilih untuk sekolah di sekolah yang sama meskipun itu berarti Suuzan harus mati-matian belajar kebut semalam gara-gara Leo pengen sekolah di sekolah paling favorit di kota Semarang. Leo adalah jara kelas. Meskipun tampilannya mirip berandalan, tapi dia cerdas. Bahkan tanpa harus belajar terlalu rajin, dia bisa mendapatkan nilai yang bagus. Tak heran dia menjadi kesayangan para guru. Sangat berbeda dengan Suuzan yang otaknya pas-pasan, tapi untungnya Leo mau membantu Suuzan supaya nialinya bagus. Orang tua Suuzan punya harapan tinggi supaya anaknya jadi seorang dokter. Padahal boro-boro jadi dokter, nilai biologinya saja kacau parah.
“Berapa kali kubilangin. Kamu harus nyelesain rumus ini dulu kalau mau ngerjain yang ini. Kalau kamu langsung lompat, ya nggak akan ketemu jawabannya!”
Sudah tak terhitung berapa kali Leo ngomel ke Suuzan yang tak juga mengerti dengan apa yang diajarkan Leo. Suuzan pun ikutan kesal. Hari ini ada pertandingan basket dan si ketua OSIS, Damar Candra Alsaka juga ikutan bertanding. Sudah sejak tadi Suuzan tak fokus pada apa yang dijelaskan oleh Leo. Saat ini mereka ada di bangku taman yang ada di sekolah. Kebetulan ada pohon beringin di dekat mereka duduk.
“Udahan yuk. Sampai kapanpun, aku ngga bakal bisa. Matematika bukan passionku.” Suuzan menunduk. Ia kecewa pada dirinya sendiri, tapi ia juga tak fokus.
Tangan Leo langsung mengacak-ngacak rambut Suuzan yang sudah direbonding semingguan ini. Meskipun dia tak pintar di sekolah, tapi Suuzan cukup modis, meskipun dengan gayanya yang sedikit tomboi. Beberapa cowok di sekolah pernah berusaha mendekatinya, tapi bagi Suuzan, Damar adalah tujuan hidupnya. Dia sudah jatuh cinta pada Damar saat pertama kali masuk sekolah ini. Damar kakak kelas yang keren, Ketua OSIS, pintar dan digandrungi banyak cewek.
“Ngaku aja kamu pengen nonton Damar main basket. Matematika itu nggak sulit. Kamunya aja yang nggak mau mikir.”
Suuzan nyengir. Meskipun kadang Leo sering kali menyebalkan, tapi dia paling tahu apa yang dipikirkan Suuzan. Dia tahu Suuzan tak ingin jadi dokter. Suuzan suka menulis. Dia pintar beropini dan membuat esai, tapi tentu orang tuanya tak akan mendukung Suuzan jika dia bilang ingin menjadi seorang penulis.
“Lulus SMA nanti ambil jurusan sastra aja. Kalau kamu masuk jurusan kedokteran, aku khawatir pasien yang kamu rawat kelak bukannya sembuh malah makin sakit,” ledek Leo. “Entar pas nyuntik pasien kamu malah bayangin mukanya si Damar.”
“Huss! Enak aja! Kamu pikir aku dokter malpraktek. Gini-gini aku masih punya empati.” Suuzan menghela nafas, seolah sudah merasa menyerah dengan masa depannya. “Tapi gimana ya, Yo, Aku nggak akan mungkin keterima di jurusan kedokteran. Kamu kan tahu otakku dedel.”
“Iya, dedel. Bikin orang naik darah.” Leo sedikit melotot ke Suuzan. “Di otakmu isinya cuma Damar, Damar, Damar. Dia lho nggak pernah tahu kalau kamu ada di sekolah ini. Kalau kamu naksir dia, ya ngomonglah.”