TEMAN TAPI KOG MESRA

Yui Sakura
Chapter #2

2. Bucin Tapi Juga Bodoh

Ekspresi Suuzan berubah ketika Damar terlihat di lapangan. Ia mendapatkan sorakan dari para gadis yang menonton pertandingan itu. Padahal ini hanya pertandingan latihan saja. Bukan beneran pertandingan serius.


Leo mendengus. Dia tahu temannya itu suka mati gaya setiap kali dihadapkan pada Damar.


“Duduk gih. Berdiri terus pegel nih kaki.”


Leo langsung duduk di sembarang tempat, lantas memperhatikan pertandingan dengan tenang. Sementara tatapan Suuzan masih fokus pada Damar. Dia bermain dengan lincah. Sosoknya sangat berkharisma seolah-olah ada cahaya ilahi yang menyinari dia. Kata Suuzan berbinar-binar menatap Damar, sang pujaan hati.


Leo memperhatikan Suuzan yang tetap berdiri dan menatap Damar tanpa berkedip sama sekali. Dengan sekali hentakkan, Leo menarik tangan Suuzan, membuatnya duduk di sampingnya. Hampir saja tubuh Suuzan menubruknya.


“Leo!” bentak Suuzan.


“Mau berdiri sampai pertandingan selesai? 40 menit itu lama. Kalau mau terus berdiri ya terserah.”


Suuzan bersungut-sungut. Meskipun maksud Leo benar, tapi tak seharusnya dia menarik Suuzan di hadapan banyak penggemarnya Damar. Bisa malu banget kalau mereka melihatnya saat jatuh.


Suuzan mencoba menahan diri untuk tak berperang dengan sahabatnya itu. Dia harus terlihat elegan, baik dan mempesona saat melihat Damar. Ia pun menonton pertandingan ini dengan sangat tenang. Ketika Damar berhasil membuat three points pun Suuzan menyoraki Damar seperti yang dilakukan gadis-gadis lain. Dia menjadi gadis yang manis setiap kali berhubungan dengan Damar.


“Ck, ck, ck. Kenapa kau nggak bisa begitu ke aku?” Leo melirik temannya, kesal karena Suuzan selalu berbeda saat berurusan dengan Damar.


“Maksudnya?” Suuzan merespon tanpa menoleh pada Leo.


“Kamu tuh nggak pernah bersikap manis sama aku. Padahal kita kenal sejak SMP. Kalau udah soal damar aja tiba-tiba jadi good girl.”


“Ih, apaan sih, Yo. Ngapain aku jadi manis ke kamu? Mang kamu pernah bersikap manis ke aku? Enggak kan? Ada-ada aja. Mending kamu pikirin gimana caranya buat berhenti tebar pesona sama cewek-cewek. Kalau niat pacaran. Buruan pacaran. Jangan diajak jalan doang, setelah itu nggak ada kejelasan.”


“Namanya juga seleksi… “


Pembicaraan ini harus terhenti karena tiba-tiba handphonenya Leo berdering. Suara poliponik yang khas terdengar dari handphonenya. Suuzan melirik, seperti sudah tahu siapa yang menelpon. Leo buru-buru pergi. Ia memilih menjawab telepon di tempat lain yang lebih privat.


“Dasar playboy,” gerutu Suuzan.


Ia lanjut fokus pada pertandingan Damar. Waktunya sudah hampir habis. Timnya Damar sudah mengumpulkan poin sebanyak 11 poin, sementara lawannya 10 poin. Perbedaanya terlalu tipis. Alhasil permainan semakin menegang. Pergerakan para pemain menjadi lebih cepat dan beberapa kali bola hampir masuk ke keranjang. Sayangnya perlawanan di setiap tim sangat kuat sehingga mereka selalu bisa saling mencegah.

Lihat selengkapnya