TEMAN TAPI KOG MESRA

Yui Sakura
Chapter #3

3. Ijin Nonton Dengan Gebetan

“Kenapa sih, senyam-senyum sendiri. Gila kamu ya?”


Leo memergoki Suuzan sejak tadi selalu tersenyum sambil menopang dagu sejak jam pelajaran Pak Markus, guru Fisika. Dibandingkan memperhatikan pelajaran dan rumus-rumus yang menguras otak, Suuzan lebih suka membayangkan Damar. Tentu saja dia tidak bisa lepas dari pikiran ini. Suuzan merasa bahwa terkena lemparan bola basket ternyata membawa berkah untuknya. Gara-gara kejadian itu, dia mendapatkan nomor handphone Damar. Dan sejak saat itu pula mereka saling mengirim pesan.


Tak seperti yang selama ini dibayangkan, ternyata Damar adalah sosok yang supel. Dia tipe-tipe soft boy yang selalu bicara dengan suara pelan. Apalagi dia baik dan sangat perhatian.


Di awal-awal kejadian lemparan bola itu, Damar tak henti-hentinya bertanya tentang kondisi Suuzan. Hal ini tentu saja menjadi kesempatan bagi Suuzan untuk bersikap sedikit manja pada Damar. Kapan lagi dia bisa berinteraksi dengan pria pujaannya.


“Apaan sih, ganggu aja?” Suuzan bersungut-sungut pada Leo, merasa bahwa sahabatnya itu selalu saja mengganggu kesenangannya.


“Iya-iya yang sekarang mulai deket sama gebetannya. Lupa deh sama aku. Sampai lupa kalau hari ini harus ngumpulin tugas LKS ke Bu Juju.”


Suuzan mengernyitkan keningnya. Ia baru tersadar saat Leo bicara.


“Bu Juju? Matematika?”


Leo mengangguk tegas. Suuzan seketika berdiri. Dia mencari buku matematika di dalam tasnya. Ekspresinya terlihat panik. Leo sudah tahu kalau sahabatnya begitu ceroboh.


“Di perpustakaan. Cepetan. Bu Juju hari ini pulang sebelum jam dua. Kalau kamu bisa ngumpulin tugas sebelum jam itu, mungkin kami bisa dapat nilai.”


“Leo, kamu memang the best.”


Leo nyinyir dengan bibirnya. Sementara Suuzan segera keluar dari kelas menuju ke perpustakaan. Di sini adalah tempat yang paling tepat untuk mengerjakan tugas dadakan. Leo bisanya yang sering membantunya mengerjakan tugas. Suuzan tinggal menyalinnya saja. Si penjaga perpustakaan, Fuad, sudah hafal dengan kelakuan Suuzan. Jadi dia membiarkan Suuzan masuk dan duduk di tempat biasa. Di sana sudah ada LKS milik Leo. Dia pun segera menulis tugas di LKS-nya sendiri dengan nyontek milik Leo. Gerakan tangannya cepat sekali. Sekarang sudah jam satu lebih lima menit. Waktunya tak banyak. Suuzan harus bisa mengumpulkan tugas sesuai instruksi guru.


“Suuzan? Ngapain di sini?”


Suuzan terkejut ketika mendengar suara Damar. Saat menoleh, Damar memang ada di perpustakaan ini. Dia tak sendirian. Dia bersama dengan teman-teman sekelasnya.


“Eh, enggak, Mas. Aku cuma sedang ngerjain ini.” Suuzan malu saat ketahuan oleh Damar.


Damar memperhatikan LKS milik Suuzan. Ia lantas tersenyum.


“Santai aja. Aku nggak judgment kog.”


Teman Damar tampak berbisik-bisik di telinga Damar, tapi matanya menatap ke arah Suuzan.


“Eh, Zan, malam minggu besok kamu ada waktu nggak ya?” Tiba-tiba saja Damar bicara seperti itu pada Suuzan.


“Emangnya kenapa, Mas?” Suuzan heran tapi juga deg-degan. Apa maksud Damar bertanya seperti itu?


“Enggak, ada film bagus. Katanya tentang vampir dan cewek gitu. Kamu kau ikut nonton nggak? Nanti aku yang traktir tiketnya deh.”


Bak seperti disiram air surga. Tiba-tiba saja Damar mengajak Suuzan nonton? Apa nggak salah? Dari sekian banyak cewek yang naksir Damar, kenapa Suuzan yang diajak.


“Emh, nanti aku nanya Mama dulu ya, Mas. Soalnya aku nggak boleh keluar terlalu malam.”


“Lho, nggak perlu malam. Nonton yang sore aja. Biar pulangnya nggak kemalaman.”


Suuzan sebenarnya sangat ingin ikut dengan Damar, tapi dia ragu dan takut melakukan kesalahan. Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya bagi Suuzan pergi nonton dengan Damar. Suuzan tak ingin membuat kesalahan.


Lihat selengkapnya