Tiba waktunya nonton film di sebuah bioskop yang letaknya ada di dalam mall terkenal di kawasan Simpang Lima. Tahun 2008 adalah tahun yang paling hits untuk mall ini. Hampir semua kalangan datang ke sini untuk menikmati wisata udara dingin. Kalau di luar mall kan panas, apalagi Semarang kalau musim kemarau seperti ini bisa bikin telur ceplok tanpa harus pakai kompor.
Leo memarkir motornya di tempat parkiran mall. Sementara Suuzan sedang sibuk dengan perasaan gugup yang menyerangnya saat ini. Dia sudah memakai celana cutbray jeans kebanggaannya dan kaos warna hitam yang seharusnya press body tapi karena badan Suuzan terlalu trepes jadi tak ada yang bisa ditonjolkan.
Untuk pertama kalinya Suuzan memoles wajahnya dengan bedak. Itu pun milik Mamanya. Ia juga meminjam lipstik Mamanya yang berwarna pink terang. Sekarang dia sudah mirip seperti artis ibukota yang siap mau konser.
“Ngapain sih pake make up segala?” Leo justru protes dengan penampilan sahabatnya itu. “Aneh tahu nggak!”
“Kenapa sih? Namanya usaha. Siapa tahu Damar kesengsem sama aku.”
Leo menghembuskan napas kesal. Ia memilih tak mendebat temannya karena dia tahu kalau Suuzan tak akan pernah peduli dengan kata-katanya kalau sudah tentang Damar.
Mereka pun masuk ke mall itu menuju ke bioskop yang ada di lantai tiga. Suuzan berjalan sangat lambat. Sebenarnya dia super gugup tapi dia berusaha bersikap tenang saja.
“Cepetan jalan napa sih?” Leo terus saja mengomel. Bahkan retensi ngomelnya meningkat beberapa kali lipat dibandingkan biasanya. Kenapa nih anak? Kesambet mungkin.
Suuzan meraih tangan Leo untuk berpegangan. Dalam sekejap dia menjadi lebih santai.
“Untung ada kamu, Yo,” kata Suuzan.
“Jadi mending nonton Damar apa jalan sama aku?”
“Apaan sih, Yo. Ya jelas Damar lebih penting. Dia itu masa depan aku. Sementara kita, kita bakal gini-gini aja. Kamu bakal kuliah, jadi orang sukses, terus nikah sama seseorang dan ninggalin aku. Kalau aku nggak ngusahain masa depanku gimana coba?”
“Mang yakin Damar bakal jadi masa depan kamu?”
Sambil berjalan Suuzan tersenyum. “Masih dalam khayalan sih. Seenggaknya ada kemajuan. Aku dan dia sering SMS-an. Kadang dia nelpon aku nanyain.’Kamu udah makan belum. Ihh, Damar so sweet banget.”
“Perasaan aku juga sering nanya begitu tapi kamu nggak pernah bilang aku so sweet?” Leo bingung melihat tingkah sahabatnya itu.
Setelah melewati dua lantai, mereka pun sampai di bioskop kesayangan warga Semarang. Suuzan celingukan mencari dimana Damar.
“Leo!”