Diantar oleh Damar adalah sebuah berkah karunia yang sangat besar untuk Suuzan. Sudah hampir dua tahun dia naksir sama kakak kelasnya ini. Ia berusaha jaim meskipun sebenarnya dia ingin tertawa lepas mengekspresikan kegembiraannya. Di dalam hati dia bersyukur karena motor Leo macet. Ia tahu Leo pasti bisa mengatasi masalahnya.
Dalam perjalanan, ia malu-malu untuk pegangan di pinggang Damar. Malam ini tak terlalu ramai. Setelah lewat daerah Pandanaran jalan ke arah Semarang atas sudah lengang. Tahun 2008 Semarang bukan kota yang terlalu sibuk. Makanya banyak yang suka tinggal di Semarang meskipun kata orang panas dan orang-orangnya gender blak-blakan.
“Kamu udah ngantuk belum, Zan?”
“Belum, Mas. Emangnya kenapa?”
Tentu saja belum ngantuk. Justru jantungnya berdegup kelewat kencang. Kalau dia tak komat-kamit sepanjang jalan, bisa-bisanya jantungnya lompat ke jalanan.
“Sebenarnya pengen ngajak jalan sih,” kata Damar. “Tapi nggak boleh pulang lebih dari jam sembilan ya?”
Suuzan juga kecewa dengan aturan yang diberikan ibunya. Sekarang adalah jaman modern. Kenapa harus pulang di bawah jam sembilan? Toh dia tetap pulang. Nggak bakal aneh-aneh.
“Boleh kok, Mas, ya asal nggak larut malam aja. Memangnya mau ngajak kemana?”
Suuzan punya ide sendiri. Ia bisa beralasan motornya Leo mogok dan butuh waktu untuk membetulkan. Kesempatan untuk bersama Damar tak akan terulang lagi.
“Pegangan gih. Aku takut kamu jatuh.”
Suuzan bingung. Apa dia boleh pegangan sama Damar? Gimana kalau ketahuan para gadis pemujanya! Bisa habis jadi bahan gosip satu sekolah. Belum tuntas untuk memutuskan, Damar meraih tangan Suuzan, menuntunnya untuk memeluk pinggangnya dari belakang. Sontak saja Suuzan jadi seperti patung. Jantungnya tak lagi berdegup kencang, tapi sudah copot. Apa ini? Ini beneran Damar? Damar si ketua OSIS yang juga anak basket? Astaga. Aroma parfum Damar sangat khas. Suuzan sudah menetapkan hati, pokoknya dia tidak akan beralih ke lain hati. Mau digosipin kek, mau dijadikan bulan-bulanan cewek-cewek satu sekolah, yang penting dia sama Damar.
Damar membawa Suuzan ke daerah Minjem yang dikenal cukup sejuk dan jadi tempat nongkrong anak-anak muda di masa itu. Ada sebuah danau buatan yang sebenarnya itu milik dari perusahaan real estate ternama di kawasan itu. Mereka duduk di bangku yang menghadap ke danau itu. Suuzan tak pernah tahu apa itu romantis tapi malam ini dia merasa hidupnya diserang oleh kata-kata romantis itu.
“Mas Damar rumahnya mana sih? Kok tahu tempat ini?”
“Tlogosari. Aku sering ke sini kok sama teman-temanku.”
“Tlogosari? Jauh banget. Kenapa mau nganterin aku ke sini? Jauh lho, Mas. Nanti Mas Damar pulangnya gimana?”
“Ya, nggak gimana-gimana. Kan tinggal naik motor, gas. Apa susahnya. Tempat ini juga paling deket sama rumahmu. Jadi nanti nggak akan kemalaman.”
Saat Damar ngomong, Suuzan tak henti-hentinya menatap Damar. Dari sisi manapun dia memang ganteng. Tipe-tipe soft boy yang digilai para cewek.
“Terus kenapa ngajak aku ke sini?”
“Gimana ya…” Damar mulai menggaruk kepalanya. “Sebenarnya aku agak bete tadi waktu nonton. Harusnya kita kan nonton berdua aja. Teman-temanku tiba-tiba pengen ikut. Eh, kami juga kebetulan sama Leo. Aku jadi nggak ada momen sama kamu.”