Setelah puas berkeliling, mereka berdua kembali pulang. Hampir empat jam berkeliling mal, belanjaannya hanya satu paper bag tanggung berisi make up dan skincare milik Denis yang harganya lumayan menguras kantong.
“Gila, barang kecil begitu harganya mahal banget.”
“Heh, namanya make up sama skincare yang berkualitas itu nggak ada yang murah.”
“Kesempatan banget lo ya. Mentang-mentang gue yang bayar, beli lipstik. Padahal di rumah udah ada banyak.”
“Ini itu warna baru, belum punya gue. Rencananya sih nunggu gajian baru beli, tapi karena lo traktir gue hari ini, jadi ya udah.”
“Warna baru apaan sih? Orang warnanya juga sama merah.”
Nanda menggaruk kepalanya, tidak paham dengan gadis satu ini. Melihat lipstik yang dibeli Denis, rasanya di rumah sudah ada berbagai merek. Kenapa harus membeli lagi, padahal masih ada?
“Buta warna ya mata lo? Ini beda warnanya.”
“Perasaan lo udah ada deh yang warnanya kayak gitu. Kenapa beli lagi? Mana cuma beda model lagi.”
“Beda, Nanda. Yang gue punya itu lip tint, sedangkan ini lip matte.”
“Nggak paham gue.” Nanda cuma geleng-geleng kepala.
Sahabatnya itu sudah punya beberapa lipstik dengan berbagai warna, tapi tetap saja setiap kali dia mentraktir, benda kecil itu tidak akan tertinggal dari daftar belanjaan Denis.
“Makanya nikah gih, biar paham apa aja kebutuhan cewek.”
“Maunya sih gitu, tapi kan baru putus. Apa lo aja yang nikah sama gue?”
“Dih, gini amat efek abis diputusin.” Denis memasang wajah julid.
“Bukan efek galau ini. Lo pernah ngerasa nggak sih di fase di mana kita udah capek buat kenal orang baru dan mulai dari awal lagi? Hal kayak gitu yang lagi gue rasain.”
“Emm, ngerasa sih. Kayaknya gue juga sama kayak lo, udah masuk fase itu. Selama ini gue bukannya nggak mau mulai hubungan, tapi udah ngerasa males buat jelasin ke orang baru apa yang kita suka dan nggak. Hal itu bikin gue tetap stuck di tempat.”
Selama ini bukannya Denis cuek dengan omongan orang-orang yang menyuruhnya cepat cari pasangan. Ia hanya belum menemukan yang cocok. Bohong jika ia tidak iri melihat teman-temannya yang punya pasangan; dalam hatinya, ia juga ingin merasakan bahagianya memiliki pasangan.
“Lo masih berharap bisa balikan sama Satria atau mantan lo yang lain?”