Setelah mempertimbangkan dengan matang, Denis menyetujui ide Nanda. Semua ini gara-gara mimpi mereka menjadi keluarga bahagia dengan anak kembar laki-laki. Meski terdengar aneh, Denis mempercayainya sebagai sebuah petunjuk dari Tuhan—bahwa memang sudah saatnya ia mencoba lebih dekat dengan Nanda.
Hal pertama yang dilakukan adalah Nanda mengantarnya ke kantor dan menjemputnya. Tidak jauh berbeda dari sebelumnya, hanya saja sekarang dilakukan setiap hari, bukan hanya saat mobil Denis mogok atau ketika jadwal perawatan di bengkel.
Mereka tidak ingin terlalu terlihat seperti pasangan karena masih merasa canggung. Bukan, lebih tepatnya terasa aneh karena tidak terbiasa. Bahkan untuk sapaan pun mereka masih menggunakan lo–gue. Tadi sempat mencoba aku–kamu, tetapi rasanya justru semakin janggal.
"Dee, tumben dianter sama Adi. Mobil lo mogok?" Nanda memang lebih sering dipanggil Adi atau Surya oleh orang-orang selain keluarga dan teman dekatnya sejak kecil. Cuma Denis yang manggil dia Nanda, sebenarnya ini bentuk balas dendam karena Nanda gak mau pangil dia Putri pas TK dan ternyata panggilan itu masih dipakai sampai sekarang.
"Enggak, cuma lagi pengin aja," jawab Denis menanggapi pertanyaan Vivi, teman kerjanya.
Vivi tidak bertanya lagi karena sudah tahu kebiasaan kedua sahabat itu. Meski awalnya ia mengira mereka pasangan—tingkah mereka memang agak ambigu untuk ukuran pertemanan.
Denis langsung mengerjakan pekerjaannya yang sudah ada di meja, sama seperti karyawan kantor lain yang akan sibuk di hari Senin.
Berbeda dengan Denis yang sibuk di hari Senin, Nanda justru tidak terlalu padat kegiatannya. Pembukaan tiga cabang restoran berjalan sukses, jadi hari ini ia bisa beristirahat setelah seminggu sebelumnya harus bekerja lembur.
Karena teman-temannya sibuk bekerja, Nanda hanya berdiam diri di rumah sambil menonton serial animasi tentang seorang anak perempuan yang berteman dengan seekor beruang. Jika Denis ada di sini, pasti ia akan diejek—sudah besar, tapi masih suka menonton kartun.
Jangan salahkan dia. Salahkan saja saluran TV yang menampilkan sinetron tidak bermutu dengan alur cerita yang itu-itu saja. Belum lagi saluran berita yang isinya seputar politik—benar-benar membosankan, dipenuhi orang-orang penuh pencitraan.
"Ck, enggak ada siaran yang bagus sih," gumam Nanda sambil terus mengganti saluran TV, mencari tontonan yang sekiranya menarik setelah serial kartun itu selesai.
"Apa gue coba nonton drakor aja, ya? Kata Denis ada yang seru filmnya."
Nanda langsung mencari judul drama Korea yang pernah Denis ceritakan. Ceritanya tentang seorang siluman rubah yang kembali ke masa lalu karena mengejar seseorang yang mencuri batu pelindung alam baka dan dunia manusia.
Setelah menemukannya, Nanda langsung menonton dari awal episode. Memang tidak terlalu menegangkan, tapi cukup seru karena penonton dibuat penasaran dengan sosok pria bertopeng merah putih itu.
"Argh, kaku badan gue," keluh Nanda sambil melemaskan otot-otot tubuhnya. Tidak terasa, enam episode berhasil ia tonton dalam satu hari, padahal durasi setiap episodenya satu jam.
Nanda melirik jam dinding. Rupanya sudah pukul empat sore. Seharian ini waktunya habis untuk menonton drama Korea, bahkan sampai melewatkan makan siang.
Namun, Nanda mengakui drama ini memang seru. Padahal niat awalnya hanya menonton satu atau dua episode saja, tapi malah bablas sampai episode terbaru. Sekarang ia mengerti kenapa Denis bisa betah di rumah menonton drama.
"Bunda masak apa, ya?" Nanda bangkit untuk melihat apa yang dimasak bundanya hari ini. Namun, ternyata tidak ada apa-apa selain nasi di rice cooker.