Di vila ada enam kamar yang diisi masing-masing dua orang. Kali ini waktunya pengundian nomor kamar biar adil, katanya. Padahal bentuk dan luas kamarnya sama, enggak ada yang beda, tapi memang dasarnya orang-orang freak, hal kayak gini malah diributin.
"Dee, lo enggak bisa satu kamar sama bini gue, woy!"
"Bisa lah, Ko. Di sini kan gue sama Nanda belum nikah, enggak boleh satu kamar."
"Lo bisa tidur sama pacarnya Janu, ngapain harus sama bini gue?"
"Enggak mau, gue maunya sama Rere. Koko sama Nanda aja, dia tidurnya enggak ngorok, enggak banyak gerak juga."
"Masalahnya gue mau tidur dikelonin bini gue, Denis, bukan dikelonin sama laki lo."
"Udahlah, Ko, ngalah aja sama Denis. Pundung nanti dia."
"Gue bukan lo yang selalu ngalah kalau sama Dee. Pokoknya gue enggak mau tidur sama lo." Nanda diam, tidak lagi ikut perdebatan mereka.
"Koko nyebelin!" Denis melepaskan rangkulannya pada Rere dengan muka cemberut.
"Dee, lo enggak ngerti gimana enaknya tidur bareng bini. Nikah gih, biar tahu rasanya."
"Nanti kalau Nanda ngelamar gue."
Perkataan Denis membuat semua yang ada di sana melotot menatap Nanda, seolah meminta penjelasan tentang ucapan perempuan itu.
"Apa? Kenapa melotot gitu?" Nanda bertanya santai, seakan perkataan Denis bukan hal yang mengejutkan.
"Jelasin kenapa Denis bilang gitu," Adam langsung bertanya tidak sabaran. Hubungan kedua orang ini sudah terasa mencurigakan sejak satu bulan lalu.
"Ya gitu, nanti kalau udah siap bakal gue lamar Denis."
"Lah, terus kalau lo nikah sama Denis, si Hanum gimana?"
"Gue udah putus dari sebulan lalu. Dan lagi, gue lagi uji coba pacaran sama Denis. Kalau kita cocok, bakal nikah."
"Uji coba pala lo. Ini nikah, Nan, bukan hal yang main-main."
"Gue ngerti, Ko. Lagian gue sama Denis enggak ada niatan buat main-main. Makanya kita coba buat pelan-pelan jalanin hubungan lebih dari teman, dan sejauh ini kita cocok."
Nanda menjelaskan hubungan yang sedang dijalaninya dengan Denis agar teman-temannya tidak salah paham atau salah mengartikan apa yang mereka jalani saat ini.
"Nan, lo cinta kan sama Denis? Gue enggak mau lihat dia sedih kayak tiga tahun lalu."
"Tenang aja, Jan. Gue rasa emang selama ini kita saling suka, cuma memang denial aja."
Nanda mengerti kenapa Jani begitu khawatir. Tiga tahun lalu Denis memang merasakan patah hati yang parah, bahkan butuh waktu lama untuk kembali ceria seperti sekarang.