Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Nanda dan Denis masih setia duduk di ruang tamu ditemani dengan nyamuk dan hawa dingin. Sebenarnya, kedua orang ini terpaksa terdampar di sana karena kamar mereka dikunci dari dalam.
Pelakunya tentu dua pasangan mesum yang sedang asyik membuat adik bayi dan melupakan dua orang yang tengah menggerutu karena ingin mandi dan istirahat. Jika saja mereka bukan anak baik, sudah jelas pintu kamar akan digedor agar penghuninya keluar.
“Mereka kapan sih selesainya? Udah lebih dari setengah jam, loh, ini,” keluh Denis yang sudah merebahkan dirinya dipangkuan Nanda.
“Gak tahu. Mungkin masih lama. Kalo lo capek, mending ke kamar Jani buat mandi sama pinjem baju. Gue mau ke kamar Pandu.” Nanda mengelus rambut Denis yang sedikit berantakan.
Akhirnya, terpaksa Denis menggedor kamar Jani untuk numpang mandi dan pinjam baju. Untuk malam ini, dia mengungsi di kamar Jani. Entah Nanda akan tidur di mana, palingan sama Pandu.
Sudah tahu pasti, kalau cewek kumpul di kamar, pastinya bakal bahas banyak gosip. Berawal dari kata lo tau gak, bisa meluber ke mana-mana, bahkan gosip tentang perselingkuhan para pejabat atau tokoh terkenal, tentunya sambil merawat kulit dengan menggunakan masker.
“Kalo kamar Nanda dipakai Jean, itu anak tidur di mana?” tanya Jani penuh rasa penasaran, karena tidak ada lagi kamar kosong di villa ini.
“Palingan sama Pandu. Kan gak mungkin juga dia tidur sama lo di sini. Pengen gue banting itu anak,” jawab Denis.
“Buset, muat emang kasurnya Pandu? Kan sekamar sama Haikal, itu anak dua badannya bongsor, ditambah Nanda yang udah kayak titan. Kenapa gak sama Adam aja? Kan itu anak tidur sendiri soalnya Janu sama pacarnya.” Jani melontarkan banyak pernyataan, karena menurutnya pilihan Nanda aneh. Ada kamar yang lebih lega, tapi memilih untuk berdempetan.
“Lo kan tahu dari dulu Nanda gak suka sama Adam, jadi ya dia lebih milih dempet-dempetan sama Pandu.” Denis tidak ingin menjelaskan lebih banyak lagi.
“Emang kenapa sih dari dulu perasaan itu anak anti banget sama Adam, selalu kayak jaga jarak gitu?” Jani masih tidak mengerti kenapa hubungan Nanda dan Adam seperti perang dingin, padahal sepertinya mereka tidak pernah bertengkar.
Denis hanya mengangkat bahu, pura-pura gak tahu, padahal mengerti alasannya.
Adam itu belok, dan dia suka sama Nanda dari zaman kuliah. Mulai saat itu, Nanda gak pernah lagi mau dekat sama Adam, bahkan sekadar jalan beriringan aja gak mau. Apalagi satu kamar. Kalau hari ini gak ada kamar lain selain kamar Adam, dia yakin Nanda bakal milih tidur di ruang tamu sambil digigit nyamuk semalaman.
Hal seperti ini tidak harus diceritakan ke teman-temannya yang lain, kan? Selain bisa membuat hubungan yang lain merenggang dengan Adam, bisa saja nantinya Nanda jadi bahan ejekan, meski dalam konteks bercanda sekalipun.
“Gue doain semoga aja salah satu pacarnya hamil biar kapok si Janu.”
Jani sudah muak dengan kelakuan kembarannya yang hobi tidur dengan banyak perempuan.
“Jahat banget doa lo. Nanti kalo beneran jadi, kasihan kembaran lo dihajar Om Cahyo.” Denis geleng-geleng kepala melihat Jani menyumpahi kembarannya.
“Biarin. Janu itu gak bakal kapok kalo belum kena batunya.”