Embun masih menggantung di atas dahan dan ranting membawa aroma segar yang jarang ditemukan di perkotaan. Pagi ini mereka merencanakan untuk mengadakan piknik ala-ala di belakang vila. Sejak matahari belum muncul, para perempuan sudah sibuk memasak di dapur, sedangkan tugas para laki-laki adalah menata halaman belakang agar nyaman digunakan untuk piknik.
Selain itu, mereka juga menyiapkan beberapa permainan untuk menambah keseruan. Hanya dengan modal tali rafia dan ranting-ranting pohon, mereka membuat permainan halang rintang. Benar-benar orang-orang yang kreatif.
“Ini rantingnya udah kuat, kan? Jangan sampai patah nanti,” Ko Edwin bertanya pada Nanda dan Haikal yang bertugas memasang rafia.
“Udah kok, Ko. Aman ini mah. Lagian kan peraturan mainnya gak boleh kena rafia,” jawab Haikal yang masih sibuk mengikat tali rafia.
“Oke, kalo gitu gue mau cek makan udah jadi apa belum.”
“Ko, sekalian bawa dagingnya ke sini biar sekalian bakarnya. Nanti tinggal makan.” Ko Edwin hanya mengacungkan jempolnya sebagai balasan perkataan Nanda.
Setelah semuanya selesai, barulah mereka makan-makan bersama. Permainan dilakukan setelah makan agar lebih semangat dan punya tenaga, hitung-hitung bakar lemak setelah makan banyak.
“Jadi kita bakal dibagi jadi tiga tim. Satu tim isinya empat orang. Cara baginya hitung sampai empat, nomor yang sama satu tim. Mulai dari gue. Satu.” Ko Edwin menjelaskan pembagian tim.
“Dua.”
“Tiga.”
“Empat.”
Dan seterusnya sampai habis.
Tim pertama: Ko Edwin, Janu, Jani, Windi.
Tim kedua: Rere, Pandu, Jean, Laras.
Tim ketiga: Nanda, Denis, Haikal, Adam.
“Kok gue cewek sendiri sih? Gak adil ini.” Protes Denis saat dia tidak memiliki teman perempuan.
“Ya gimana lagi, kan ceweknya ganjil.” Denis yang mendengar jawaban Jean hanya cemberut.
Mau bagaimanapun pembagian timnya, pasti akan ada satu perempuan atau laki-laki yang sendirian, soalnya jumlah keduanya sama-sama ganjil.
“Jangan rewel, Dee. Pokoknya itu tim kalian,” tukas Ko Edwin. Jumlah perempuannya ganjil mau di model seperti apapun jelas akan ada yang perempuan sendiri, mau ditukar ke yang lain jadinya terkesan tidak adil.
Denis tidak jadi protes lagi. Mereka memulai permainan pertama yang dimainkan dua orang, yaitu berdiri di atas satu lembar kertas yang semakin lama semakin kecil. Untuk permainan ini, kebanyakan dilakukan perempuan karena badan mereka yang kecil. Sedangkan untuk tim tiga, yang maju adalah Nanda dan Denis.
Tidak mungkin juga menurunkan Haikal dan Adam yang sama-sama punya badan besar. Yang ada nanti malah kalah di awal permainan. Nanda juga tidak rela kalau yang main Denis bersama yang lain, meski temannya sendiri sekalipun—tidak ada cowok lain yang boleh menyentuh Denis selain dirinya.