Temen Agak Sonoan Dikit

Banyu Milli
Chapter #8

Bab 8. Ketemu hantu

Malam selalu menjadi waktu paling jujur bagi tempat-tempat lama—saat sunyi membuka rahasia yang siang hari disembunyikan cahaya. Sang mentari telah kembali ke peraduan untuk beristirahat sejenak selayaknya anak muda yang ada di villa ini, Karena lelah bermain game sejak siang, semuanya langsung terlelap. Tidak ada yang begadang. Tepat pukul sebelas malam, suasana vila terasa sangat sepi. Hanya Nanda yang masih terjaga, duduk diam dengan perasaan tidak enak yang sejak tadi menggelayuti dadanya.

Nanda memang peka. Ia bisa melihat mereka yang berasal dari dunia lain. Namun, seharian bersama Denis membuatnya lupa satu hal penting: tempat ini bukan hanya dihuni manusia.

Sejak kecil, ia selalu kebingungan. Setiap kali Denis berada di dekatnya, makhluk-makhluk itu akan menghilang atau menjauh. Padahal biasanya, mereka justru mencoba berinteraksi dengannya.

Prang!

Nanda tersentak. Suara pecahan benda terdengar dari arah dapur.

Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Ia keluar kamar, berjalan mengendap-endap sambil meraba dinding mencari sakelar. Begitu lampu menyala, langkahnya terhenti.

Di tengah dapur berdiri sosok perempuan berambut pirang bergelombang, mengenakan gaun bangsawan Belanda era penjajahan.

Nanda mundur perlahan. Ia sadar betul, ini bukan manusia. Namun sebelum ia sempat keluar dari area dapur, perempuan itu berbalik.

Refleks, Nanda berteriak sambil memejamkan mata. Pengalamannya selama ini mengajarkan satu hal: hantu jarang punya wajah ramah.

“Eh, ganteng. Kamu kok teriak?”

“Pergi! Gue gak mau lihat lo!” Nanda berusaha mengusir hantu itu agar tidak mendekatinya.

“Jahatnya. Padahal wajahku cantik sekali. Kamu akan menyesal tidak ingin melihatnya.” Suara serak yang dibuat centil membuatnya merinding sekujur badan.

“Bodo amat! Paling juga masih cantikan cewek gue ke mana-mana!” Tubuhnya bergetar ketakutan, tapi dia berusaha untuk tetap berani dengan mata tetap memejamkan rapat-rapat ia terus menjawab setiap ucapan hantu Belanda tersebut.

“Gadis kecil yang menyebalkan itu? Masih cantikan aku. Aku tinggi, badanku bagus.”

“Gak peduli! Gue sukanya yang kecil montok, bukan yang tinggi besar!”

Dalam hatinya, Nanda terus berharap ada yang datang dan mengusir makhluk ini.

“Kamu harusnya buka mata dulu. Nanti pasti kamu akan suka denganku.”

“Lo kenapa sih maksa? Kalo mau ganggu, jangan kayak gini!” Lama kelamaan Nanda dibuat frustasi dengan hantu satu ini, kenapa tidak langsung pergi setelah mendapatkan pengusiran yang jelas.

“Hihihi… aku suka sama kamu. Wajahmu mirip sekali dengan kekasihku dulu. Dia orang pribumi, seperti kamu.”

“Gue bukan pacar lo! Jangan ganggu gue. Pacar gue galak. Lo bisa dibanting nanti!”

Nanda tidak mau seumur hidup diikuti. Katanya, hantu Belanda kalau sudah suka, akan terus mengikuti ke mana pun orang itu pergi. Ia tidak mau bernasib seperti itu—susah jodoh karena diikuti hantu perempuan.

Lihat selengkapnya