Temen Agak Sonoan Dikit

Banyu Milli
Chapter #10

Bab 10. Kondangan

Suara riuh dari band dan tamu yang datang membuat Denis ingin kabur dari rumah yang sudah di hias sedemikian rupa agar terlihat indah. Denis tengah berada di rumah tantenya untuk menghadiri acara pertunangan sepupunya. Sejujurnya, dia ingin segera pergi dari sana karena terlalu malas jika ditanya soal pasangan.

Namun, tidak sopan jika tidak datang. Jadi, dia mengajak Nanda untuk menemaninya. Lagipula, mereka sudah termasuk pasangan karena telah sama-sama setuju untuk menjadi sepasang kekasih, meski masih kurang meyakinkan setidaknya sudah bisa dibilang ada gandengan.

“Lama banget sih make-up-nya. Mama udah ngomel-ngomel dari tadi,” ujar Nanda sambil duduk di ranjang, memperhatikan Denis yang tengah merias wajahnya.

“Sabar elah, ini gue lagi pakai eyeliner. Kalau sampai berantakan, makin lama lagi,” balas Denis.

“Kok tumben lama sih?”

“Gara-gara mama tadi minta dibantuin nata rambut, jadinya gue make-up paling akhir. Udah, ayo turun,” ujak Denis setelah memastikan make up dan gaya rambutnya sudah rapi.

Keduanya pun turun untuk berangkat bersama ke acara pertunangan sepupu Denis. Mereka mengenakan baju couple batik. Sebenarnya, baju itu adalah baju wisuda mereka dulu, tapi masih bagus. Jadi, daripada beli baru, lebih baik mengenakan yang sudah ada.

“Males banget gue ketemu tante-tante gue. Nanti mereka pasti cerita anaknya ini, anaknya itu,” keluh Denis.

“Kalau cerita, bibirnya biasa aja. Nggak usah monyong gitu,” goda Nanda sambil ingin menarik bibir Denis, tapi langsung ditepis.

“Jangan sentuh! Kalau lipstik gue berantakan lagi, lu yang harus benerin.” Mata Denis melotot penuh peringatan pada Nanda yang tangannya suka culamitan.

“Sini, gue buat bibir lu merah alami,” ujar Nanda sambil mendekatkan wajahnya, bercanda.

“Mesum lu!” Denis mendorong wajah Nanda menjauh.

“Mesum tandanya gue masih normal,” balas Nanda santai.

Denis hanya memberikan tatapan julid. Entah kenapa, Nanda terlihat seperti cowok yang buru-buru ingin menikah. Padahal sebelumnya tidak seperti ini, apa karena mereka sudah selangkah lebih maju dari sekedar teman? Makanya Nanda menjadi lebih berani soal sentuhan dan interaksi yang lebih intim lainnya.

Denis memikirkan hal ini sepanjang perjalanan, perubahan Nanda ini jadi pertanda baik atau justru sebaliknya. Jujur saja Denis belum merasa perubahan perasaan apapun pada Nanda, ia merasa mereka masih selayaknya teman.

Tatapannya beralih pada Nanda yang tengah menyetir sambil mendengarkan musik, Denis menjadi bertanya-tanya—akankah dia bisa jatuh cinta pada Nanda. Ia merasa seperti berada di meja perjudian yang mana taruhannya adalah hubungan persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya, jika Denis bisa jatuh cinta dengan Nanda maka ia menang. Namun, jika ia tidak bisa jatuh cinta maka Denis akan kalah dan kehilangan sahabatnya—Nanda.

***

Sesampainya di tempat acara, rupanya sudah banyak kerabat lain yang datang. Denis langsung mengajak Nanda menemui sepupunya untuk sekadar mengucapkan selamat.

“Selamat ya, Nafa, buat pertunangannya,” ucap Denis sambil cipika-cipiki dengan sepupunya. Sementara itu, Nanda hanya bersalaman dengan calon suami Nafa.

Lihat selengkapnya