Temen Agak Sonoan Dikit

Banyu Milli
Chapter #11

Bab 11. Bisik-bisik tetangga

Unggahan Denis bersama Nanda yang terlihat mesra itu bagaikan batu yang dijatuhkan ke permukaan air tenang. Riaknya menyebar cepat. Kubu Hanum langsung gempar.

Pesan berdatangan dari berbagai arah—teman lama, kenalan jauh, bahkan orang yang sudah lama tak bertegur sapa. Hampir semua media sosial Denis dan Nanda dipenuhi pertanyaan yang sama: kalian tunangan, ya?

Wajar saja. Foto yang Denis unggah menampilkan mereka berdiri di depan dekorasi dengan tulisan congratulations, tersenyum terlalu dekat untuk sekadar disebut biasa.

“Nan, kayaknya kita harus bikin klarifikasi di sosmed, deh,” keluh Denis. Tubuhnya terhempas lesu ke sofa, ponselnya terlepas begitu saja hingga jatuh ke lantai. “Capek banget jawab satu-satu.”

“Udah kayak seleb aja pake acara klarifikasi,” jawab Nanda sinis. Ia menggeser posisinya, membiarkan kepala Denis bertumpu di pahanya.

“Lagian ngapain, sih, lu mikirin sampai segitunya?” lanjutnya sambil mengelus rambut Denis pelan. “Kalau lu diemin, nanti juga reda sendiri. Orang bakal bosen.”

Nanda tak ingin Denis tertekan hanya karena omongan orang lain. Ia paham betul cara kerja gosip—semakin ditanggapi, semakin liar. Diam sering kali lebih ampuh daripada seribu pembelaan.

“Tapi, Nan,” Denis mendengus kesal. “Temennya Hanum itu lho, nyinyir banget. Mereka bikin status nyindir gue.”

Kemarin malam Denis tak sengaja melihat unggahan Galuh—teman dekat Hanum—di Instagram. Sebuah kalimat singkat, tapi menusuk: munafik banget, katanya cuma temen, tapi diembat juga.

Denis tahu betul ke mana arah sindiran itu. Lagipula, di antara mereka, siapa lagi yang belakangan ini dekat dengan “teman sendiri” selain dirinya?

Nanda menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia menunduk, menatap wajah Denis yang kusut oleh emosi.

“Dengerin gue, Dee,” ucapnya tenang. “Omongan orang yang nggak tahu apa-apa nggak perlu lu tampung semuanya. Kalau lu kelelahan cuma gara-gara mereka, berarti mereka menang.”

Denis terdiam. Dadanya masih terasa sesak, tapi sentuhan Nanda perlahan menenangkannya. Di luar, hujan turun tipis—seolah ikut meredam riuh yang sejak tadi berisik di kepalanya.

Untuk sesaat, Denis memilih diam. Membiarkan dunia ribut sendiri, sementara ia berbaring di tempat yang, setidaknya untuk sekarang, masih terasa aman.

“Ini semua salah lo, sering putus-nyambung sama Hanum!” dengkus Denis. Rasa kesalnya belum juga surut, jadi ia melampiaskannya pada Nanda tanpa saringan.

“Kok jadi gue, sih?” Nanda membela diri sambil menyelipkan bantal ke punggungnya agar tak pegal. “Yang salah itu cara mikir mereka.”

“Lagian sekarang kita udah punya pasangan masing-masing,” lanjut Nanda santai. “Hanum juga udah bahagia sama berondongnya.”

“Pokoknya itu salah kalian yang putus-nyambung!” Denis menegaskan protesnya dengan cubitan kecil di paha Nanda.

Lihat selengkapnya