Denis merebahkan tubuhnya di ranjang empuk kamar setelah menyelesaikan pekerjaan dadakan yang bahkan bukan tanggung jawabnya. Tatapannya kosong menembus langit-langit kamar, pikirannya berputar pada satu hal yang sama.
Rasa bersalah.
Ia menghela napas panjang. Kata-kata kasarnya tadi terngiang jelas di kepalanya. Mengusir Nanda dengan nada tinggi bukan hal yang pernah ia bayangkan akan ia lakukan.
Pemuda itu justru menjadi sasaran pelampiasan kekesalannya—padahal Nanda tidak bersalah apa pun. Hanya Denis yang sedang tenggelam dalam suasana hati buruk, terjepit oleh tekanan yang datang bertubi-tubi.
“Gue minta maaf sekarang… atau nunggu nanti?” gumam Denis pelan.
Ia mengubah posisinya menjadi tengkurap, jemarinya menggulir layar ponsel, menatap riwayat pesan dengan Nanda yang kini sunyi. Rasa bersalah itu kuat, menekan dadanya. Namun, ketakutan yang muncul bersamaan dengannya juga tak kalah besar.
Denis takut jika Nanda masih marah. Takut jika menghubunginya sekarang justru akan membuat semuanya semakin runyam.
Ia hafal betul kebiasaan Nanda—jika marah atau kesal, ia akan memilih menjauh. Menarik diri, menghilang sementara, hingga emosinya benar-benar reda. Barulah ia akan kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Dan itu yang paling Denis takuti.
Denis mengakui, sikapnya tadi terlalu kasar. Bahkan mungkin kelewat batas. Seingatnya, sejak mereka remaja, tak pernah ada pertengkaran yang membuat Nanda pergi menjauh seperti ini. Biasanya justru Denis yang menghindar, kesal karena terus dijahili.
Kali ini berbeda, Nanda pergi begitu saja tanpa memenangkan Denis. Ada perasaan kehilangan dan sedikit kecewa karenanya, tapi Denis tahu itu bukan salah Nanda; dirinya saja yang tadi kelewatan.
"Chat aja lah, kalo gak dibales ya biyarin aja," putus Denis pada akhirnya.
Dia mengetik permintaan maaf yang panjang sebelum di hapus lagi, mengetik lagi dan hapus lagi—begitu seterusnya. "Kenapa susah banget sih, tinggal bilang maaf aja padahal!"
Denis melempar ponselnya menjauh ke sisi lain kasur, ia membenamkan wajahnya pada bantal untuk meredam teriakan kekesalannya. Untuk melampiaskan kekesalan yang tak kunjung mereda, Denis memukul-mukul bantal.
Setelah puas “menganiaya” bantal yang tidak bersalah, Denis akhirnya memilih mandi, berharap pikirannya bisa sedikit lebih jernih. Gejolak emosi karena PMS membuatnya merasa seperti kehilangan kendali—semua hal tampak salah di matanya.
Namun, tentu saja itu bukan sepenuhnya salahnya. Menurutnya, orang-orang di sekitarnya saja yang terlalu pandai memancing emosi.
“Hah… badan gue sakit semua. Kapan, sih, PMS gue nggak nyiksa kayak gini?” gumam Denis sambil memijat bahunya yang terasa kaku.