Suasana hati Denis yang buruk karena PMS masih belum reda, tapi kali ini yang menjadi sasaran amarahnya bukan Nanda, melainkan teman sekantornya—Kania, yang kemarin tak bisa dihubungi dan membuat Denis harus membereskan pekerjaannya yang berantakan.
“Lu itu bisa gak sih tetap online waktu liburan?” tanya Denis, nada suaranya tajam menahan kesal. Sejak pagi emosinya sudah di ujung tanduk, dan melihat Kania bersikap seolah tak bersalah hanya membuat dadanya makin sesak.
“Bisa aja, cuma males kalau harus ditelepon buat ditanyain kerjaan.”
Jawaban itu membuat tangan Denis nyaris gatal ingin menjambak rambut perempuan di depannya.
“Kalau mau liburan tenang, ya kerja yang bener! Jangan asal ngerjain terus ngilang!” bentaknya. Bagaimana ia tak marah? Semua berkas yang kemarin dilimpahkan padanya penuh kesalahan dan revisi dari klien.
“Gue udah kerjain. Kalau klien minta revisi, itu di luar kendali gue.”
Kania tetap membela diri, sama sekali tak merasa bersalah.
“Kalau gitu ya tetap online, dongo. Biar gak jadi beban orang lain!”
Kata-kata itu meluncur sebelum Denis sempat menyaringnya. Rahangnya mengeras. Daripada perdebatan makin panjang dan sia-sia, ia memilih berbalik pergi.
Memang begitulah Kania. Kalau ada anak magang, pekerjaannya selalu dilempar ke mereka. Semua orang tahu kenapa ia bisa santai seperti itu—ayahnya kenalan kepala divisi, dan status “orang dalam” membuatnya seolah kebal.
“Gak usah kasar gitu, biasa aja ngomongnya!” teriak Kania saat Denis sudah di ambang pintu.
Tanpa menoleh, Denis hanya mengangkat jari tengah sebagai balasan. Ia keluar ruangan dengan napas memburu, lalu menyeberang ke kafe kecil di depan kantor. Ia butuh kopi. Butuh jarak. Kalau tidak, mungkin hari ini benar-benar ada yang ia lempar.
Biar saja Kania mengadu ke kepala divisi. Denis sudah tak peduli bahkan kalau harus dipecat.
Masih banyak kantor lain yang tak setoksik ini. Dan kalau benar-benar kepepet, ia bisa meminta pekerjaan sebagai waiter di restoran milik Nanda. Apa pun lebih baik daripada bertahan di kantor yang diisi rekan kerja menyebalkan dan atasan yang semena-mena.
“Kayaknya gue mulai cari lowongan aja daripada bengong kesel begini,” gumamnya sambil membuka ponsel.
Jarinya bergerak cepat menelusuri situs lowongan kerja, berpindah dari satu laman ke laman lain. Belum ada yang cocok. Ia tak menyerah, mulai menghubungi beberapa teman, menanyakan apakah kantor mereka sedang membuka posisi.
Denis sudah memutuskan: ia baru akan resign kalau ada pekerjaan baru, atau setidaknya panggilan wawancara di tangan.
Bukan karena ia takut menganggur—ibunya masih mampu membiayai hidupnya. Hanya saja, Denis tahu ibunya tak akan mau membiayai tiket konser, album, atau segala perintilan idolanya dan jujur saja, kehilangan pekerjaan mungkin masih bisa ditanggung.
Namun kehilangan dana fangirling? Itu mimpi buruk yang jauh lebih mengerikan.