Sisa jam kerja Denis dilewati dengan suka cita, nyanyian lirih dengan nada tidak jelas terus keluar dari bibirnya. Hal ini membuat Tika yang duduk di sebelahnya kesal sendiri karena merasakan terganggu dengan nyanyian bernada sumbang itu.
"Seneng banget kayaknya lu hari ini," ujar Tika.
"Gue bahagia banget, soalnya si gundik bakal pergi," jawab Denis, tanpa merasa bersalah.
"Bukan lu kan yang laporin dia ke istri sahnya?" tanya Tika dengan nada yang sedikit khawatir.
Denis menatap Tika, dengan senyum miring yang terpatri. "Kalaupun bukan gue, pasti ada orang lain yang lapor. Tingkah si Kania itu udah bikin banyak orang kesel," jawabnya.
"Jangan sampai lu nanti di pecat atau dibuat resign sama ketua divisi gara-gara urusan ini."
Denis hanya mengangguk saja sebagai jawaban, lagipula dia juga ingin cepat-cepat keluar dari sini. Tinggal di kantor toxic ini sudah membuatnya muak, kesabarannya susah terkuras habis, Denis akan mencari pekerjaan yang lebih santai dari ini.
Lagipula kemampuannya tidak buruk, pengalaman kerja selama 1 tahun ditambah dengan lulusan universitas ternama. Selain itu pengalaman magang selama kuliah, sertifikat pelatihan yang dimilikinya sudah cukup jadi penunjang untuk mencari kerja lagi. Denis bertahan ditempat ini hanya karena dekat dari rumah, ia tidak perlu berlama-lama di jalan karena macet.
Sekarang mau jauh pun tak apa, Denis sudah punya sopir pribadi gratis, siapa lagi kalo bukan Nanda sabahat yang sedang mencoba menjadi pacar. Bicara soal pacar, Denis baru ingat jika mereka ini pacaran selama hampir dua bulan ini.
Hubungan yang berawal dari iseng ini ternyata berjalan cukup harmonis, Denis tidak pernah merasa selancar ini selama pacaran—tidak ada debat, tidak pertengkaran karena tempat makan ataupun keluhan karena lupa membalas pesan.
"Njir sama gue cocok sama Nanda," gumamnya pada diri sendiri.
"Cocok apaan Den?" tanya Vivi yang duduk disamping kanannya.
"Gak ada kok, gue cuma ngomong sendiri."
Denis menoleh dengan senyum kaku yang tersungging diwajahnya, ia merasa malu karena Vivi mendengar ucapannya. Bukan apa-apa Vivi ini teman kerja yang bisa dibilang dekat dengannya dan ia pernah bilang ke Vivi kalo tidak akan pernah kepincut dengan Nanda.
Akan tetapi, ia sekarang malah pacaran dengan Nanda, meski hubungan mereka hanya sebatas percobaan semata. Hanya saja Denis merasa seperti menjilat ludahnya sendiri, ya Nanda sekarang jauh lebih dewasa sih—tidak seperti waktu kecil yang tingkahnya menyebalkan.
"Kok gue jadi kepincut sama pesona itu bocah sih, padahal aib dia itu dah banyak yang gue tahu," gumamnya sambil menutup wajahnya yang terasa panas.