Tiga hari sudah Denis tidak bicara dengan Nanda, bahkan ia dengan sengka berangkat lebih pagi untuk naik kereta daripada diantar Nanda. Pesan hanya dibalas seadanya, keganjilan ini tentu saja membuat Nanda bertanya-tanya, mengapa Denis mengabaikannya?
Rasanya Nanda tidak membuat kesalahan apapun, ia tidak memecahkan botol serum mahal yang gadis itu miliki ataupun mematahkan lipstik yang baru dibelinya. Nanda tidak berulah sampai-sampai Denis harus memusuhinya seperti ini, tapi kenapa gadis itu menganggapnya hama yang harus dihindari.
"Pokoknya gue harus ngomong sama dia, gak bisa gue diginiin!"
Nanda bangkit dari duduknya untuk menghampiri Denis yang weekend ini hanya berdiam di rumah, pesan ajakan jalan darinya pun diabaikan sejak semalam. Mereka tidak bisa seperti ini terus, karena jujur saja Nanda tidak bisa terlalu lama didiami oleh Denis.
Langkah kaki Nanda terhenti saat sampai di gerbang rumah Denis, gadis itu terlihat sedang duduk di tangga teras dengan wajah yang kusut. Alarm bahaya langsung muncul di kepala Nanda, diam-diam ia berjalan ke sudut yang tidak terlihat untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Play victim banget si Kania itu, dia yang gundik malah nuduh gue yang jadi pelakor. Lagian si Hanum itu ngapain masih sok galau bahas Nanda, orang dia udah punya berondong!"
"Bangsat emang dua orang itu, Jan. Ig gue jadi diserang sama komplotan mereka, bajingan!"
Nanda bisa mengerti jika Denis menghadapi masalah yang berkaitan mantannya itu, meski entah apa yang terjadi sehingga Denis sampai mencak-mencak seperti itu. Bertanya langsung hanya akan membuat Nanda menjadi sasaran amarah Denis, tapi kalau tidak bertanya yang ada gadis itu makin memusuhinya.
Sebagai pria yang waras Nanda jelas memilih untuk menanggung resiko Denis mengomel padanya daripada gadis itu memusuhinya entah sampai kapan, setidaknya jika ia bertanya sekarang Denis hanya akan marah hari ini, besok akan damai. Namun, jika Nanda diam maka Denis akan ikutan diam dan akan ada kemungkinan masalah ini di ungkit kembali jika mereka berdamai.
Nanda menghampiri Denis dan duduk di sampingnya, tatapan tajam gadis itu sempat jatuh padanya sebelum telepon di akhir sepihak oleh Denis.
"Kenapa lu kemari?" tanya Denis dengan nada yang datar.
"Mau tanya salah gue apa sampai lu tega giniin gue," jawab Nanda.
"Gak ada yang salah, lu balik aja sana!" Denis mendorong Nanda agar menjauh.
"Gak! Dari kemarin lu gak nyapa gue dan menghindar. Itu yang lu bilang gak ada yang salah?" Nanda mengubah posisinya agar bisa berhadapan dengan Denis.
Denis memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Nanda yang berjongkok di depannya. "Apaan sih, gue cuma bosen lihat lu," elaknya.