BINTANG KECIL
Bintang meninggalkan kamarnya dengan tas ransel yang sudah penuh berisi pakaian. Dia sudah siap berangkat besok pagi.
Saat ini pukul dua pagi. Bintang duduk di depan teras, menyeruput kopi hitam manis dan sebatang rokok kretek.
"Tidak bisa tidur?"
"Tidak, Pak."
Bintang memegang bungkus rokok itu dan menawarkannya pada Pak Rasyid, bapak Bintang.
"Ketika negara kita sudah merdeka sepuluh tahun silam, kita akhirnya hidup damai."
"Benarkah begitu, Bapak? Kenapa tiba-tiba Bapak mengungkit masa lalu?"
"Ketika dulu kamu masih empat belas tahun, kamu ikut bersama tim surveyor, karena kamu hobi berpetualang. Dulu atasan kamu adalah para penjajah. Sekarang sudah sepuluh tahun...."
"Pak, aku tidak mengerti."
"Pekerjaan ini selalu meninggalkan keluarga. Masa depanmu juga, entah cerah atau tidak, Bapak tidak tahu...."
"Bapak mau aku berhenti?"
"Kamu bisa ambil pekerjaan lain. Kamu bisa buka usaha, biar Bapak yang modalkan."
"Aku ingat, Pak. Para penjajah itu dengan suka-suka menyuruh kami masuk ke hutan belantara. Menyuruh kami untuk melakukan survei topografi, supaya mereka bisa memahami medan dengan baik, lalu bisa dengan mudah membunuh rakyat kita. Memang rasanya perih sekali saat ranting-ranting itu menusuk bahuku, atau saat lintah-lintah itu menempel di pahaku. Tapi semua itu... sepertinya kekacauan di alam liar lebih parah dibandingkan kekacauan di kepalaku. Bapak ingat Ibu?"
Pak Rasyid membakar rokok kretek itu. Dia mengembuskan asap yang panjang.
"Ibumu perempuan baik, Bintang."
"Baik untuk dirinya sendiri. Meninggalkan anak dan suami demi penjajah berwajah ganteng."
"Bapak bahkan tidak tahu di mana dia sekarang."
"Itulah tujuanku bekerja, Pak. Tujuan yang bodoh. Mungkin ketika aku sudah ahli, nanti akan dibawa sekolah ke luar negeri. Mungkin aku bisa bertemu dengannya."
..........................................
AMIN, SEORANG PEMIMPIN
Amin berjalan pelan menuju kamar yang remang. Dibukanya pintu itu, sedikit saja agar dapat mengintip kedua anaknya yang sedang tidur. Kamar memang dibuat tidak gelap total, anak-anaknya takut gelap. Amin menatap anaknya selama sepuluh menit, lalu kembali ke kamarnya.
"Kamu tak harus pergi."