"Bintang, kau... jangan bilang kau mabuk laut?" Anto melihat Bintang yang lemas. Sampai di titik itu, Bintang akhirnya memuntahkan bekal tadi pagi ke laut.
"Baik sekali kau, memberi makan ikan."
Pak Amin dan Pak Sugiono menyusul mereka.
"Ah, angin laut...." Pak Amin memberikan wajahnya buat diterpa angin hangat itu.
"Anto, kau ingat dulu? Waktu mandor kita, si penjajah, menyuruh kita memetakan garis pantai?" ucap Bintang.
"Ya, anginnya mirip."
"Berapa kilometer kalian petakan?" tanya Pak Sugiono.
"Waktu itu... ergh... kayaknya lima kilometer. Benar kan, Bintang?"
"Lima kilo apanya, sepuluh kilo yang ada. Aku ingat kau waktu itu terus minta air putih dingin pada mandor, sehabis itu kau terus buang air kecil di pohon kelapa."
Pak Sugiono tersenyum.
"Jadi, Bintang memetakan sepuluh kilo, sedangkan Anto memetakan lima kilo?"
"Haha, kurasa aku memetakan empat kilometer."
Pak Amin mengeluh ketika rokoknya terbakar cepat akibat angin. Bintang mengulurkan rokok kreteknya.
"Satu hari lagi kita sampai."
Bintang tidak bersemangat malam itu. Dia masih duduk di luar. Bintang melihat ke langit dan melihat kelap-kelip yang menggigil.
"Kamu mabuk laut, tidur di dalam saja," ucap Pak Amin.
"Harus kubiasakan, Pak. Jika aku mau sekolah di luar negeri."
"Mau sekolah di luar negeri? Mau jadi orang besar kah?"
"Tidak."
"Lebih cepat naik pesawat dibanding kapal."