Tempat Dimana Bintang Tak Pernah Jatuh

Duntres
Chapter #4

Hari yang masih berlanjut

"Lihat, Bintang, ada tupai!"

"Anto, jangan banyak bergerak. Kau tak lihat muka Pak Sugiono, merah sekali."

Jarak antara Bintang dan Anto cukup dekat kali ini. Mereka bisa mengobrol.

Pak Amin mengangkat jempolnya, Bintang membalas. Dia belum pindah.

"Anto! Ya Tuhan... sudah aku bilang, itu daunnya dicabut, aku tidak bisa lihat benang tengahnya!"

Anto mencabut daun itu dengan kasar.

Anto dan Bintang pindah ke titik selanjutnya. Jarak mereka agak jauh kali ini.

"Bintang! Panjangkan lagi rambu ukurnya, terhalang tunggul!" pekik Pak Amin. Orang tua ini tak mau memakai HT, menghemat baterai mungkin.

"Anto, cek lagi pijakan rambunya! Itu ada yang mengganjal tahu tidak?!"

"Ya Tuhan, Pak! Pakai HT-mu! Telingaku sakit!"

Bintang merangkak naik ke gundukan itu. Anto menyusul. Langkah Anto yang tidak pasti hampir membuatnya masuk jurang. Beruntung Bintang sempat mendorong tubuhnya.

"Pak, aku capek!" teriak Anto.

Saat itu tengah hari, mereka makan.

"Minum air putih yang banyak, Anto, supaya kamu lebih fokus," ucap Pak Sugiono.

Bintang mencuci tangannya dengan air botol, melirik sekitar selama satu menit.

"Ada apa?" tanya Pak Amin.

"Bukit ini... medannya memang yang paling parah, tapi... sepertinya aman dari...."

"Aku juga berpikir begitu. Cerita yang kudengar, katanya di sini ada harimau," ucap Pak Sugiono.

Anto melahap nasi bungkusnya dengan cepat.

"Kau ini, makan cepat, tapi kerja lambat," ucap Pak Sugiono, disusul tawa kecil dari Bintang dan Pak Amin.

"Makan cepat, waktu merokok lebih banyak."

"Bintang juga perokok yang gila. Ya, gila, bisa kubilang dia gila. Tapi napasnya bisa diatur sama dia. Kau, baru mendaki bukit sedikit saja sudah sempoyongan," ucap Pak Sugiono.

Sejam berikutnya, mereka lanjut. Hari ini mereka mengambil titik lebih jauh dibandingkan kemarin. Hari ini mereka mendapatkan 30 titik.

"Pak Sapardi, besok kurasa kami akan mulai berkemah."

"Baik, Pak Amin."

Ketika Pak Sapardi sudah pergi, Anto kemudian mendekati Pak Amin.

"Menurutmu, amankah, Pak? Kalau kita berkemah?"

"Kurasa. Tak ada tanda-tanda hewan buas. Kita coba saja untuk semalam. Jika aman, bisa kita teruskan sampai masuk ke titik terpencil."

"Ada apa? Jangan bilang kamu takut?" ucap Pak Sugiono.

"Heh, coba tanya sama Bintang, aku ini pemberani. Bintang yang agak penakut."

"Kalau kita tembakkan suar, mereka akan datang, kan?" tanya Bintang.

"Kurasa titik kita besok masih terjangkau oleh HT, jika sinyal tidak berulah."

...............................................

Pukul delapan malam, Pak Amin dan Pak Sugiono tidur duluan sesudah menggambar. Bintang dan Anto mendapat tugas jaga. Di tenda itu, mereka ambil posisi agak jauh dari dua orang yang tertidur. Mereka meminum kopi hangat dan merokok.

"Kau tidak sakau? Maksudku, kebiasaan judimu?"

"Ini judi yang lebih baik, judi melawan diri sendiri."

Bintang menutup mulutnya yang mulai menguap.

"Sudah sepuluh tahun, dan kita masih juga belum bisa mengolah data dan menggambar. Ini semua gara-gara penjajah keparat itu," ucap Anto.

"Masih bisa belajar sekarang. Oh, ya... namanya Robert. Mandor kita dulu. Kau ingat anak gadisnya?"

"Tentu, hidungnya mancung. Senyumnya manis, kulitnya kemerahan."

"Kira-kira di mana dia sekarang ya?" ucap Bintang. Dia tersenyum.

"Balik ke kampung halamannya, mungkin."

"Aku tak pernah berpamitan."

"Jangan bodoh, hahaha."

Lihat selengkapnya