Tempat Kita Belajar Bertahan

A. L. Mutiara
Chapter #1

PROLOG: 29 Agustus 2027

KABIN pesawat yang sempit itu penuh sesak oleh para penumpang yang saling berebut jalan. Lampu neon di atas kepala menyinari wajah-wajah itu dengan rona pucat dan melelahkan. Semuanya tidak sabar menunggu baris di depannya bergerak, ingin segera menghempaskan punggung di kursi dan duduk dengan tenang. Di tengah keributan itu, Ezra Pattiruhu terdampar di kursi baris tengah setelah menjejalkan ranselnya ke kompartemen atas. Pikirannya seperti masih tertinggal di luar pesawat, di gedung terminal tempatnya menunggu sambil membuka-buka ponsel. Ia belum juga memasang sabuk, tidak menyimak pramugari yang mendemokan instruksi keselamatan dengan suara ramah namun terdengar seperti rekaman. Tangannya justru merogoh saku jaket dan mengeluarkan ponsel yang belum ia matikan itu.

Layarnya menampilkan unggahan Instagram terakhir yang ia posting sesaat sebelum boarding. Ia memandangnya dengan sendu.

Slide pertama.

Tiga orang berdiri di kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Ezra berdiri di tengah, dua tangan menempel ringan di pundaknya. Kawan di sebelah kirinya memegang tongsis dengan wajah puas, wajah orang yang memang percaya setiap momen pantas diabadikan. Kawan di sebelah kanannya berdiri dengan bahu agak condong, senyumnya setengah hati seolah ada lelucon yang tidak tertangkap kamera.

Ezra menatap foto itu lama. Ia ingat langit di pagi hari itu biru tak bercela. Tipe langit yang menipu, menurutnya, karena tidak memberi tanda sedikit pun kalau kebersamaan mereka akan berantakan nantinya.

Ia menghela napas dan menggeser ke slide berikutnya.

Foto itu ia ambil sendiri. Kompleks keluarga di TPU Kembang Kuning Kota Surabaya tampak rapi dan sunyi. Deretan batu marmer abu-abu terang tersusun sejajar. Beberapa nama generasi yang lebih tua memiliki dua baris identitas—nama Indonesia dan nama asli Tionghoa—ditata berdampingan seperti dua lapisan sejarah tak terpisah. Pada salah satu petak keluarga itu, nama kawannya terukir di deretan paling bawah. Tanggalnya bersih dan presisi.


(♰)

Steven Kurniawan

27 Juni 2005 – 24 Desember 2025


Ezra menatap lekat-lekat pahatan itu. Ia lalu menggeser ke slide ketiga.

Makam yang satu ini tidak serapi makam sebelumnya. TPU desa itu lebih terbuka dengan gundukan tidak beraturan. Tanahnya sudah padat, tidak lagi merah terang seperti hari pertama, tapi masih lebih muda dibanding makam-makam lain di sekitarnya. Rumput liar mulai tumbuh tipis di tepiannya. Sebuah nisan kayu sederhana berdiri di kepala makam, dicat putih dengan huruf hitam yang sedikit memudar.


Lihat selengkapnya