“SAYA INGIN kembali ke Maluku dan berkontribusi dalam pembangunan daerah,” baca ibu Ezra pelan. Lalu ia menoleh. “Kontribusi seperti apa, Nyong?”
Ezra bersandar sedikit. “Ya kerja, Mama. Bantu pembangunan. Pengabdian.”
Meja makan malam itu tidak benar-benar dipakai untuk makan. Laptop Ezra terbuka di atasnya. Ibunya, Maria, duduk di sampingnya dengan kacamata baca, masih mengenakan blus kerja yang dipakai mengajar. Tas berisi buku tugas murid-murid SMP Negeri Salahutu belum sempat dibongkar dari kursi sebelah. Ia membaca draft esai motivasi Ezra untuk mendaftar jalur afirmasi Universitas Mangkubumi tanpa suara, seperti guru yang sedang memeriksa karangan, tetapi Ezra tahu ibunya tidak sedang mencari salah eja.
“Ini jawaban anak kelas delapan kalau Mama suruh nulis cita-cita.” Nada ibunya tenang, tidak tajam, justru itu yang membuat Ezra sulit menghindar. “Semua mau membangun. Tapi, kalau ditanya bangunnya apa, langsung diam.”
Kakak perempuan Ezra, Irene, ikut menyalakan laptop di samping Ezra, membuka laman pendaftaran kampus yang dituju. Ia juga belum mengganti seragam dinasnya sejak masuk rumah tadi. Matanya fokus pada poin-poin persyaratan sambil merapikan dokumen yang tergeletak di meja—fotokopi rapor semester satu sampai lima, kartu keluarga, surat keterangan siswa, surat pernyataan domisili—semuanya sudah dilegalisasi.
“Berasal dari sekolah di daerah afirmasi atau wilayah 3T,” ucapnya membaca persyaratan pertama.
Ezra menatap kembali baris alamat yang diketiknya. Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Ia terkekeh pelan. “Kadang beta rasa aneh juga. Dibilang anak daerah afirmasi, padahal ke kota Ambon cuma setengah jam.”
Irene langsung mengangkat kepala. “Eh. Jangan pakai kalimat begitu di esai.”
Ezra menoleh. “Lho, memang begitu kan.”
“Iya, tapi itu bukan berarti Uce curang.” Nada Irene cepat, tegas, seperti biasa kalau sudah menyangkut berkas. “Yang dilihat itu domisili asal dan sekolah. Rumah katong masuk Kabupaten Maluku Tengah. Bukan Kota Ambon. Itu beda. Nanti malah Uce seng lolos administrasi.”
Adik Ezra yang duduk di bangku SMP, Lydia, mengerjakan PR di meja seberang. Ia mengikuti arah pembicaraan meski tidak benar-benar mengerti. “Tapi katong sering ke MCM, to?" katanya polos. "Kaka Irene jua tiap hari pi kota."
Ibu mereka menoleh ke arahnya. “Kaka dulu kuliah di Ambon, Adek, sekarang kerja di Kantor Gubernur. PR adek su selesai?”
Lydia menjawab dengan semangat. “Sudah, Mama! Boleh buka Tiktok sekarang?”
“Bawa kamari, Mama lihat dulu.”
Irene mendengus pelan tanpa menoleh. Sementara ibu mereka beralih memeriksa tugas Lydia, ia melanjutkan, “Dan juga bukan karena Uce anak Andreas Pattiruhu yang punya jabatan di kabupaten. Nanti orang pikir Uce bisa tembus karena orang dalam.”
Ayah mereka yang duduk di ujung meja tidak langsung bereaksi, seolah kalimat itu bukan sesuatu yang perlu dibantah dengan tersinggung.
Ezra menarik napas, menatap kakaknya. “Tapi kalau bukan karena Bapa dinas ke pulau-pulau, beta juga tidak tahu cerita-cerita itu.”
“Cerita apa?” pancing ayahnya.
Ezra melanjutkan, menyadari sesuatu setelah diucapkan. “Beta tidak akan tahu orang bisa tertahan karena mesin kapal mati. Beta tidak akan pikir genset rusak itu bisa bikin banyak urusan ikut berhenti. Beta juga tidak akan kepikiran cold storage rusak itu artinya ikan bisa busuk sebelum sampai pasar.”
Ibunya yang tetap menyimak menyahut. “Nah,” katanya. “Itu yang ditulis.”
Ezra terdiam.
Ia tak tahu persis apa jabatan ayahnya di Pemkab Maluku Tengah, yang jelas ayahnya tidak selalu pulang setiap hari. Dari Pelabuhan Tulehu, ia menyeberang ke ibu kota Masohi di Pulau Seram sesuai jadwal kapal, waktu tempuhnya dua jam, kadang harus tinggal semalam atau dua malam di mess pegawai sebelum kembali. Pekerjaannya lebih sering membuatnya bergerak daripada duduk. Ia mendatangi tempat, mendengar keluhan, melihat sendiri apa yang tidak beres, lalu pulang membawa cerita-cerita itu ke rumah. Itu yang didengar Ezra. Bukan cerita besar tentang kebijakan atau rapat, melainkan cerita tentang hal-hal yang membuat hidup orang tersendat.
“Yang ale lihat, itu milik ale,” sambung Pak Andreas. “Bukan Jabatan Bapa.”
Ezra berpikir sebentar, lalu ia kembali menatap laptop dan mengetik.
Irene memeriksa poin persyaratan selanjutnya. “Termasuk empat puluh persen siswa terbaik di kelasnya,” ucapnya melihat lembaran rapor semester 1-5. “Check. Kalau sertifikat prestasi?”
Ezra menggeleng. “Tidak ada yang nasional. Tingkat provinsi kemarin cuma juara tiga.”
Irene mengangkat bahu. “Pakai itu saja.”
Pak Andreas ikut memindai dokumen yang sudah terkumpul bersama Irene. Sudah ada surat rekomendasi dari sekolah dan pernyataan domisili dari desa. Tinggal satu lagi.
“Ini yang lebih bikin repot,” katanya. “Surat rekomendasi.”
Ezra menoleh. Irene juga langsung merapat.
Ayah mereka membaca kalimat persyaratan paling bawah. “Pilihan program studi harus sesuai dengan rencana pengembangan keunggulan daerah. Ada surat kesanggupan dari pemerintah daerah untuk menanggung biaya hidup dan biaya pendidikan selama kuliah.”
“Itu berarti Bapa harus urus ke kantor?” tanya Ezra.
“Bukan cuma kantor. Bisa ke dinas juga. Tergantung nanti yang diminta siapa tanda tangan terakhirnya. Bisa juga Pemprov. Kalau yang begini tidak bisa mepet. Surat rekomendasi itu bukan mie instan.”
Irene menyambar kalimat itu. “Makanya beta su bilang, semua scan harus siap. Nanti kalau suratnya jadi, tinggal unggah. Jangan tunggu lengkap baru panik. Batasnya cuma dua minggu lagi.”
Ezra cukup mengingat kerepotan persyaratan dokumen saat Irene mendaftar tes CPNS dua tahun lalu. Dan sekarang kakaknya itu kerja di bagian administrasi yang birokratis, wajar ia cerewet.
Ibunya menyambung lagi. “Sekarang Mama tanya, kenapa Teknik Mesin? Uce sedang minta satu kabupaten percaya bahwa uce layak diberi biaya untuk kuliah di Jawa.”
Ezra berpikir keras. Tadi ia sudah mendapat motivasi yang bagus dan ia harus bisa mengaitkan dengan pilihan jurusannya.
“Karena Maluku ini isinya laut, Ma. Kalau dermaga katong punya mesin rusak, satu kabupaten bahkan provinsi bisa lapar karena sembako seng bisa turun dari kapal,” jawab Ezra mantap. “Beta mau belajar Teknik Mesin supaya bisa urus alat-alat di pelabuhan. Supaya kapal-kapal yang bawa ikan atau bawa barang ke Seram, Banda, sampai Tanimbar seng tertahan cuma gara-gara mesin rusak dan katong seng tahu cara perbaiki.”
Ibunya menunggu.
Ezra menatap ayahnya. “Beta mau jadi orang yang pastikan pintu masuk-keluar Maluku ini tetap buka 24 jam.”
Ayahnya mengangguk kecil, bangga. “Nah. Begitu.”
Ezra menatap layar. Jarinya mulai mengetik lagi dan menuangkan pembicaraan barusan. Dan kenapa untuk memperbaiki itu semua, dia harus nekat menyeberang sampai ke Jawa.
Irene beranjak. “Besok beta bawa dokumen uce untuk di-scan di kantor. Scan di hape miring-miring terus. Untung su dilegalisir dua. Yang satunya buat Bapa bawa ke Pemkab,” ujarnya menggeser separuh dokumen ke samping ayahnya.
Pak Andreas memegang berkas tersebut dan berkata pada Ezra, "Zra, ale laki-laki satu-satunya. Kalau memang ada yang musti pigi jauh buat keluarga deng tanah ini, Bapa harap... itu ale."
Ibunya ikut bergerak. “Nanti Mama periksa lagi esainya. Ini PR adek masih ada yang salah.”
Ezra menimpali dengan anggukan. Di depan Mama dan Kaka Irene, dia memang akan tetap jadi Uce—si tengah yang urusan scan dokumen saja masih harus dibantu. Tapi dari tatapan Bapa, Ezra tahu ada tanggung jawab lain yang baru saja diletakkan di pundaknya. Jalur afirmasi ke Jawa ini bukan cuma soal lolos kuliah di kampus mentereng, tapi soal kesempatan langka yang kalau dia lewatkan, mungkin tidak akan pernah mampir lagi ke rumah mereka. Dan ia harus bersungguh-sungguh.
⇹
ANGIN DARI pesisir menerpa kencang. Jalanan cukup lengang untuk membuat bunyi langkah mereka terdengar jelas di sela motor yang sesekali lewat. Ezra sudah sering pulang berdua dengan Sofia Manuhutu seperti ini sejak SD. Kadang karena jam pulang berdekatan, kadang karena Sofia sudah menunggu di depan gerbang tanpa bilang-bilang. Kadang karena memang begitu saja, seperti aturan tak tertulis. Dan jarak dari SMA Negeri 3 Maluku Tengah ke rumah masing-masing tidak sampai setengah jam meski berjalan santai.
Ezra sesekali menoleh memperhatikan teman sejak kecilnya itu. Sofia berjalan dengan botol minum di tangan, pandangannya lurus ke depan. Ia ingin bilang sesuatu sejak tadi, tapi kata-katanya seperti tersangkut di pangkal tenggorokan.
“Ada yang beta mau bilang,” ujarnya akhirnya, tidak bisa ditahan.
Sofia tertawa kecil. “Serius sekali.”
“Beta daftar jalur afirmasi ke Universitas Mangkubumi.”
Alis Sofia naik sedikit, lalu kembali normal. Ia tidak terkejut, hanya seperti mendengar kabar yang sudah lama ia duga. “Pantas, beta lihat ale keluar-masuk kantor TU bawa berkas.”
“Ale perhatikan beta?”
Sofia memalingkan muka sedetik, terlalu cepat. Ezra melihatnya tersipu, atau mungkin itu hanya di pikirannya.
“Ini… yang di Jawa itu?” tanyanya.
“Iyo. Yogyakarta. Ale pernah dengar, to? Kota pelajar. Se-Indonesia kumpul di situ.”
Gadis itu memandangnya lama, sekilas seperti orang menanggapi kabar biasa, tapi cukup lama sampai Ezra sadar ia sedang ditatap intens.
“Belum pasti.” Ezra menambahkan cepat. “Baru masuk berkas.”