Tempat Kita Belajar Bertahan

A. L. Mutiara
Chapter #3

TAHUN PERTAMA (2023/2024) — Yogya, yang Menyembuhkan

“KITA nggak usah jadi LDR, Nda,” ucap Steven menatap meja lebih sering daripada wajah gadis di hadapannya. 

Amanda berhenti menyeruput es kopi susunya dan menatapnya bingung. 

“Maksudnya?”

“Aku mau fokus kuliah di Yogya.”

Gadis itu menggigit bagian bawah bibirnya, seperti ingin menahan emosi. “Tapi kamu sendiri yang bilang mau ‘serius’, Steve.” Suaranya bergetar.

Serius. 

Kata itu yang ia ucapkan tempo hari, di kafe yang sama, saat hasil SNBT keluar dan pengumuman di akun mereka berbeda. Bahwa jarak fisik bukan masalah—toh, ia bisa pulang kala akhir pekan panjang. Dan untuk membuktikan ucapannya, ia membawa Amanda ke rumah untuk dikenalkan ke keluarga. Seharusnya, semua berjalan dengan baik.

“Kenapa?”

Steven membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Jawaban yang sebenarnya ada di sana, lengkap, dan jelas. Ia hanya tak bisa mengucapkannya, seolah-olah seluruh rencana masa depan yang pernah mereka susun hanyalah sebuah kekeliruan yang bisa ia ralat sesuka hati.

“Jadi, kita selesai?”

Steven mengangguk, berusaha terlihat meyakinkan.

Amanda menggeleng pelan. Ia masih menunggu Steven melanjutkan, membetulkan, atau menjelaskan sesuatu yang membuat perpisahan itu masuk akal. Steven tidak bergeming seolah keputusannya sudah bulat. Wajahnya masih belum berpaling.

Air mata Amanda pun jatuh sebelum sempat ia tahan. Ia berdiri, kursinya sedikit bergeser, lalu berbalik ke arah pintu. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Steven, sebelum akhirnya melangkah keluar. 

Steven baru bisa mengangkat dagu setelah Amanda pergi, memaku pandangannya ke jendela kaca untuk melihat Amanda sampai gadis itu tidak terlihat lagi. Tangannya terkepal keras di bawah meja sejak tadi, menahan diri untuk tidak meraih tangan Amanda, menarik, dan memeluknya. 

Maafkan aku, katanya berulang kali di dalam kepala. Maafkan aku.

Malamnya, setiba di rumah dan duduk sendirian di kamar, tubuhnya seperti menagih hutang atas kebohongan tadi.

Ujung jarinya mendadak kesemutan. Rasa dingin menjalar dari tengkuk. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Awalnya hanya rasa tidak nyaman, lalu tekanan itu menguat, berubah menjadi sensasi seperti tangan tak terlihat yang meremas-remas. Ia mencoba menarik napas, tapi udara terasa padat dan enggan masuk. Dinding kamar seolah miring. Ruangan menyempit. 

Serangan jantung? Umur delapan belas?

Steven mencengkeram kausnya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya akan mati. Hanya tiga menit, tetapi terasa seperti waktu yang diregangkan tanpa ampun. Ketika sensasi itu akhirnya mereda, ia terkulai di tempat tidur dengan tubuh gemetar hebat dan kaus yang basah oleh keringat dingin.

Sejak saat itu, ketenangan malam hari menjadi barang mewah. Begitu lampu kamar dimatikan dan ia berbaring, wajah Amanda muncul lagi, diikuti kebingungannya, diikuti kalimat yang Steven ucapkan sendiri. Semuanya berulang. Ia yakin Amanda membencinya, dan selama rasa bersalah itu menetap, ia merasa serangan itu bisa kembali kapan saja.

Beberapa hari kemudian, sebuah pesan masuk.

“Aku udah nggak nangis lagi.”

Steven membaca itu lama, tanpa langsung membalas.

“Aku tahu kok.”

Ia menunggu, tidak yakin apa yang akan datang setelah itu.

“Mamamu nggak setuju, kan?”

Jemari Steven kaku saat membalas. “Nggak, Nda. Itu kemauanku.”

Balasan Amanda datang nyaris seketika, seperti sudah dipersiapkan jika Steven masih menyangkal. Dan justru itulah yang menghancurkannya. Pesan itu panjang, tenang, dan sangat jujur.

“Kamu itu terlalu baik, Steve. Baik banget, makanya aku sayang banget sama kamu. Makanya aku juga nggak percaya itu maumu sendiri. Kamu itu sayang mamamu. Kamu sayang aku. Dan kamu milih buat nyakitin dirimu sendiri daripada jadikan restu mamamu sebagai alasan, atau aku yang nggak lolos SNBT.”

Steven membaca pesan itu berulang kali.

Gadis yang dipacarinya sejak SMP itu ternyata mengenal dirinya lebih baik dari yang ia kira.

Ia sebenarnya ingin menyanggah mamanya bahwa zaman sudah berubah. Bahwa cinta tidak sesederhana perbedaan warna kulit. Bahwa Koko Michael di Jakarta hidup baik-baik saja dengan pilihannya sendiri. Tapi Koko adalah pembangkang dan Steven tak pernah kuasa melawan saat Mama mulai berkata dengan nada lunak dan membujuk, “Kalau Titi… nurut sama Mama, kan?”

Aku pengecut, batin Steven. Aku memang pengecut.

Malam-malam berikutnya, ia tidak mengalami serangan panik lagi. Namun, dadanya tetap sakit. Bukan hanya karena kehilangan, melainkan karena Amanda benar, meski pahit.

“Jangan menyalahkan diri.” Itu pesan terakhir Amanda. “Jaga baik-baik dirimu di Yogya, ya.”

“PERHATIAN ... para penumpang yang kami hormati, sesaat lagi Kereta Api Argo Wilis akan tiba di stasiun akhir, Stasiun Yogyakarta.” 

Suara dari pengeras suara itu membuyarkan lamunan Steven. Terakhir ia memandang jendela, pemandangan masih berupa sawah monoton, kini sudah berganti deretan bangunan tampak belakang yang padat. Ia melirik kursi di sampingnya yang terisi. Pikirannya seperti masih tertahan di tempat lain. Seharusnya, Yogyakarta menjadi kota yang ia dan Amanda datangi bersama. Kota yang katanya romantis. Kota yang disebut ramah pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Kota yang ia harap, entah bagaimana caranya, bisa membuat dadanya kembali terasa lapang.

Ia mengangkat ponselnya, tidak sadar ada pesan masuk dari Mama.

“Titi sayang, jangan lupa kabari kalau sudah sampai asrama. Langsung beres-beres, jangan main dulu. Cek kamarnya, kalau kotor lapor.”

Steven menghela napas pelan. Bahkan dari ratusan kilometer jauhnya, perhatian mamanya terasa seperti selimut yang tebal: hangat, tapi sedikit menekan. Ia membalas singkat, Iya, Ma. Ini bentar lagi sampai Tugu, lalu menutup aplikasi chat.

Tidak seperti penumpang lain, Steven baru bergerak meraih loker di atas kepalanya begitu kereta berhenti dengan sempurna. Barang bawaannya hanya satu ransel dan tidak menyulitkan mobilitasnya. Isinya sudah ia tata rapi di rumahnya di Kembang Jepun, Surabaya: tiga kemeja putih, dua celana kain hitam, dan jas almamater untuk Ospek. Sisanya hanya tiga kaos oblong, tiga celana pendek, dan pakaian dalam. Cukup untuk seminggu. Pakaian yang lain—bersama motor matiknya—akan dipaketkan oleh papanya melalui kargo. Karena itu, ia keluar dengan gontai dan berjalan menuju ujung timur stasiun, mendekat ke papan nama jalan yang ikonik itu.

Lihat selengkapnya