KERETA API Argo Wilis melaju membelah Jawa, membawa Steven Kurniawan menjauh dari Surabaya. Ia menempelkan dahi ke kaca jendela yang keras. Steven tidak memedulikan pemandangan membosankan di luar jendela, deretan sawah yang monoton dan rumah-rumah yang membelekangi rel. Pikirannya tertahan di tempat lain—atau lebih tepatnya, pada seseorang yang tidak ikut naik kereta ini bersamanya.
Ponsel di tangannya bergetar. Pesan dari mamanya muncul di layar.
“Titi sayang, jangan lupa kabari kalau sudah sampai asrama. Langsung beres-beres, jangan main dulu. Cek kamarnya, kalau kotor lapor.”
Steven menghela napas pelan. Bahkan dari ratusan kilometer jauhnya, perhatian mamanya terasa seperti selimut yang tebal: hangat,tapi sedikit menekan. Ia membalas singkat, Iya, Ma. Ini 15 menit lagi sampai Tugu, lalu menutup WhatsApp.
Jarinya tertahan di atas layar, menggantung tepat di atas ikon foto. Ada rasa berat yang selalu muncul setiap kali dirinya membuka folder itu. Harusnya sudah ia hapus, tapi kenyatannya semua masih tersimpan rapi di sana. Foto-foto dirinya dan Amanda waktu mereka lulus SMA, sore-sore di kafe langganan, sampai swafoto konyol pakai filter anjing yang dulu bikin mereka tertawa sampai sakit perut. Layar pelan-pelan ia geser turun. Ia tidak sedang mencari-cari foto tertentu; ia hanya tidak bernyali untuk benar-benar menutup folder itu selamanya.
Ia beralih ke chat terakhir mereka. Pesannya tadi pagi masih menggantung, Aku berangkat hari ini. Jaga diri ya, Nda. Sampai ketemu lagi.
Balasannya hanya sebuah emoji jempol.
Steven menatapnya agak lama. Ia menebak-nebak. Itu “iya” yang sopan, atau “iya” yang "sudah, sampai di sini saja, ya?"
Kereta berguncang halus; kaca jendela terasa dingin di dahinya, tapi telapak tangannya hangat karena ponsel yang terus ia genggam. Ia tidak tahu apakah mereka masih akan saling menyapa setelah ini. Tapi ia juga belum sanggup mengubur kenangan bersama Amanda—kekasih pertamanya, gadis Jawa yang lembut, satu gereja dengannya, dan satu-satunya orang yang pernah melihat ia gemetar tanpa alasan sebelum presentasi fisika.
Seharusnya, Kota Yogyakarta menjadi kota mereka.
Pikirannya kembali ke bulan April, ke sebuah sore di Surabaya Timur ketika mereka duduk bersebelahan di sebuah kafe dengan satu laptop di tengah meja. Cuaca di luar panas, dan es di gelas mereka sudah mencair separuh. Amanda mengetik dengan cepat dan mantap di laman pendaftaran SNBT, tanpa jeda yang tidak perlu, tahu apa yang sedang ia lakukan.
“Pilihan satu, Unmang. Pilihan dua, Unair,” kata Amanda, sambil menggeser layar sedikit ke arah Steven.
“Sama,” jawab Steven, pamer cengiran lebar. “Bayangkan, Nda… kita kuliah di Yogyakarta bareng. Nanti kita cari Kopi Klotok. Terus ke pantai-pantainya. Kita pasti bisa.”
Amanda tertawa kecil. “Satu-satu dulu. Yang penting lolos.”
Rencana itu terasa begitu masuk akal. Mereka tidak sedang menyusun mimpi yang muluk. Namun, Juni datang dengan kenyataan yang berbeda. Steven bersorak saat namanya muncul di portal admisi—Akuntansi Universitas Mangkubumi—tetapi suaranya mendadak hilang saat melihat Amanda. Gadis itu tidak bergerak. Tatapannya tertahan pada layar ponsel, wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi sama sekali.
“Nda?” panggil Steven dengan suara rendah.
Amanda hanya menggeleng pelan.
Rencana itu goyah, tapi Steven tidak pernah tahan melihat suasana canggung atau sedih. Ia buru-buru merangkul Amanda. “Hei, nggak apa-apa,” katanya antusias dengan nada yang dipaksakan. “Masih ada jalur mandiri. Kalaupun nggak, kita LDR. Aku serius sama kamu, Nda.”
Serius. Kata itu menjadi beban yang kemudian ia pikul sendiri.
Karena ia telah mengucapkannya, ia merasa harus melakukan sesuatu yang juga "serius". Ia memutuskan mengenalkan Amanda secara resmi kepada ibunya—bukan lagi sebagai teman main, tapi sebagai kekasih yang akan menjalani hubungan jarak jauh.
Di situlah semuanya benar-benar berantakan.
Steven membawa Amanda ke rumahnya dengan perasaan campur aduk yang sulit ia definisikan. Mamanya, Lanny Tjandra, menyambut kekasihnya dengan senyum yang nyaris sempurna. Senyum yang sama seperti saat melayani pelanggan di dua cabang warung Lontong Cap Go Meh miliknya—warung berkapasitas tak sampai tiga puluh orang, tapi selalu penuh. Mamanya selalu menekankan bahwa berdagang adalah soal membaca pasar; rezeki tidak boleh disempitkan oleh batasan yang tidak perlu. Steven anggap prinsip itu juga berlaku di luar bisnis. Ia menyaksikan Amanda disuguhi masakan tersebut, memuji kelezatannya. Lalu Mama menanyakan kuliah, balik memuji cara bicara Amanda yang sopan dan caranya duduk yang rapi. Dari luar, semuanya tampak hangat dan wajar.
Tapi di meja makan ini, Steven merasakan ada jarak yang tidak bisa dinegosiasikan seperti tawar-menawar di pasar. Dirinya yang seumur hidup tumbuh dengan belajar membaca ruang-ruang tak terucap di rumah itu, bisa merasakan sesuatu yang tertahan. Ada jeda-jeda halus dalam respons mamanya. Ada senyum yang terlalu dijaga. Ada keramahan yang terasa seperti pagar—ramah, tapi tetap membatasi jarak. Ia mencoba mengabaikannya. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Ia ingin percaya begitu.
Setelah Amanda pamit, Steven ikut mamanya ke warung karena tidak ada tanggapan seperti yang ia harapkan. Ini bukan pertama kalinya ia ikut meski ada pegawai. Hingga akhirnya warung telah benar-benar sunyi. Kursi-kursi kayu sudah dinaikkan ke atas meja. Dalam cahaya temaram, Lanny duduk menyeka gelas satu per satu. Gerakannya rapi, konstan, dan terukur. Ia tidak menunjukkan amarah. Tidak ada hela napas panjang yang dramatis. Dan justru bagian itulah yang paling membuat Steven tegang.
“Steven,” kata ibunya pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari gelas di tangannya. “Amanda itu anak baik. Mama suka. Sopan, agamanya juga sama dengan kita, Katolik.”
Steven yang pura-pura menekuni catatan stok di buku besar merasakan bahunya menegang, padahal ini momen yang ia tunggu. Tangannya berhenti sesaat di atas kertas. Ia mengenal nada itu. Nada pembuka sebelum nasihat lembut yang tidak pernah benar-benar bisa ia tolak.
“Tapi,” lanjut Lanny sambil meletakkan gelas ke rak, “kamu tahu, kan… kita ini Tionghoa.”
Ibunya akhirnya menoleh. Senyumnya masih ada, rapi dan terkendali, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Kalau cuma pacaran main-main seperti SMA, Mama tidak akan ikut campur. Tapi kamu sendiri yang bilang kamu serius. Kalau sudah pakai kata ‘serius’, artinya kan menikah, berkeluarga.”
Steven diam. Di kepalanya, ia ingin menyanggah bahwa zaman sudah berubah. Bahwa cinta tidak sesederhana garis keturunan. Bahwa Koko Michael di Jakarta hidup baik-baik saja dengan pilihannya sendiri. Tapi kata-kata itu tidak pernah benar-benar menemukan jalan keluar dari mulutnya.
Seolah mampu membaca pikirannya, mamanya mendahuluinya. “Koko-mu itu urusannya sendiri. Dia sudah dewasa sudah membangkang dari dulu, sudah pilih jalannya sendiri. Tapi kamu, Ti…” Suara ibunya melunak, mendekat. “Kamu nurut Mama kan?”
Lanny berdiri lebih dekat. Nada bicaranya berubah menjadi hampir seperti membujuk. “Ini bukan soal rasis, Sayang. Mama tidak benci Amanda. Ini soal menjaga. Teman Mama di Ampel, keluarga Syafiq itu, yang orang Arab. Kamu ingat mereka kan? Mereka juga begitu. Anaknya yang laki-laki dinikahkan dengan sepupunya sendiri, sesama Arab. Itu bukan jahat, Sayang. Itu menjaga tradisi. Menjaga keluarga.”
Steven hanya mampu mengangguk pelan.
Ia selalu begitu. Mengangguk, menelan kalimat-kalimat yang ingin ia ucapkan, menyingkirkan keinginannya sendiri demi menjaga harmoni di rumah itu.
Keesokan harinya, ia mengajak Amanda bertemu.
Di situlah ia mengkhianati dirinya sendiri, seolah-olah seluruh rencana masa depan yang pernah mereka susun hanyalah sebuah kekeliruan yang ingin ia ralat. Bukan karena mamanya, ataupun kegagalan SNBT Amanda sebagai alasan.
“Kayaknya aku nggak sanggup LDR, Nda,” katanya, menatap meja lebih sering daripada wajah Amanda. “Aku… aku mau fokus kuliah dulu di Yogya.”
Ia tidak akan pernah melupakan tatapan Amanda, kebingungannya yang muncul lebih dulu, lalu pelan-pelan berubah menjadi rasa sakit yang nyata. Gadis itu menangis. Ia marah dengan suara bergetar hebat. “Tapi kamu sendiri yang bilang ‘serius’, Steve. Kenapa?”
Steven tidak memiliki jawaban yang jujur. Amanda menampiknya untuk diantar pulang. Dalam keheningan menyesakkan di balik kemudi sendirian, ia merasa seperti penjahat terburuk di dunia. Maafkan aku, katanya berulang kali di dalam kepala. Maafkan aku.
Malam itu, setiba di rumah dan duduk sendirian di kamar, tubuhnya seperti menagih hutang atas kebohongan tadi.
Ujung jarinya mendadak kesemutan. Rasa dingin menjalar dari tengkuk. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Awalnya hanya rasa tidak nyaman, lalu tekanan itu menguat, berubah menjadi sensasi seperti tangan tak terlihat yang meremas-remas. Ia mencoba menarik napas, tapi udara terasa padat dan enggan masuk. Jantungnya berdebar terlalu cepat serasa menghantam rusuknya dari dalam, bunyinya memekakkan telinga. Dinding kamar seolah miring. Ruangan menyempit. Ia mencengkeram kausnya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya akan mati.
Serangan jantung? Umur delapan belas?
Hanya tiga menit, namun terasa seperti waktu yang diregangkan tanpa ampun. Ketika sensasi itu akhirnya mereda, Steven terkulai di tempat tidur dengan tubuh gemetar hebat dan kaus yang basah oleh keringat dingin.
Sejak saat itu, ketenangan malam hari menjadi barang mewah. Pikirannya selalu penuh dan menahannya untuk tidur. Tekanan di dadanya datang dan pergi. Ia yakin Amanda membencinya, dan selama rasa bersalah itu menetap, ia merasa serangan itu bisa kembali kapan saja.
Beberapa hari kemudian, sebuah pesan WhatsApp masuk. Dari Amanda.