“KITA NGGAK usah jadi LDR, Nda,” ucap Steven.
Amanda berhenti menyeruput es kopi susunya dan menatapnya.
Suara mesin kopi naik-turun dari balik meja bar, gelas di tangan Amanda basah oleh embun, dan dari meja sebelah sesekali terdengar sendok menyentuh piring. Mereka pernah beberapa kali duduk di sana, di meja kecil dekat jendela, memesan minuman dingin, lalu berbicara tentang hal-hal biasa sampai lupa waktu. Siang itu, semuanya masih tampak seperti kafe yang mereka kenal.
Yang tidak seperti biasanya hanya Steven.
Sejak Amanda duduk, ia lebih sering menatap meja daripada wajah gadis di hadapannya. Gelasnya sudah diletakkan pelayan beberapa menit lalu, tetapi isinya belum banyak berkurang. Ujung jarinya menempel pada dinding gelas yang dingin, lalu menarik diri, lalu menempel lagi. Amanda pasti melihat itu. Amanda selalu melihat hal-hal kecil yang Steven harap bisa ia sembunyikan.
“Maksudnya?”
Steven menarik napas pendek.
“Aku takut kalau nanti kita maksain, malah saling nyakitin,” katanya. “Aku di Yogya. Kamu di Surabaya. Kuliah juga pasti berat.”
Amanda tidak langsung menjawab.
Steven tahu kalimat-kalimat itu tidak salah. Jarak memang ada. Yogya memang ada. Kuliah memang akan berat. Semua itu nyata, bisa mewujud, bisa dijadikan alasan tanpa membuat siapa pun tampak jahat. Namun ia membenci betapa mudahnya ucapan itu keluar.
Amanda masih menatapnya. Tatapan itu membuat Steven semakin sulit mengangkat kepala. Ia merasa Amanda sedang menunggu alasan yang lebih masuk akal daripada kalimat-kalimat yang ia susun seperti tameng. Dan justru karena ia merasakan hal itu, ia semakin tidak sanggup membuka mulut.
“Jadi kita selesai?” tanyanya. “Atau gimana maksudmu?”
“Iya,” lanjut Steven, lebih pelan, “mungkin lebih baik kita selesai di sini.”
Amanda mendengar kalimat itu, tetapi tubuhnya seperti terlambat memahami.
“Steve,” katanya. “Kamu sendiri yang bilang kita bisa LDR.”
Steven mengangguk. “Aku tahu.”
“Kamu sendiri yang bilang mau serius dengan hubungan kita.”
“Iya.”
“Kamu barusan ngenalin aku ke mamamu.”
Steven menunduk.
Kalimat itu menariknya kembali ke sore beberapa hari lalu, saat Amanda duduk di ruang makan rumahnya, menjawab pertanyaan Mama dengan suara sopan, lalu Mama yang tersenyum halus dan bertanya tentang rencana kuliah Amanda, tentang jurusan Psikologi yang dipilihnya, tentang keluarganya. Tidak ada suara meninggi. Tidak ada tatapan kasar. Tidak ada satu pun kalimat yang bisa Steven tunjuk sebagai luka.
Seharusnya, semua berjalan dengan baik.
“Kenapa?” tanya Amanda.
Di bawah meja, tangan Steven terkepal. Tidak ada kalimat yang keluar.
Steven menggigit bibir bawahnya sebentar.
“Aku cuma mikir ini yang paling baik buat kita.”
Air mata Amanda jatuh sebelum sempat ia tahan.
Tangis itu membuat dada Steven seperti ditarik dari dalam. Tangannya hampir bergerak. Hampir. Ia ingin meraih tangan Amanda. Tetapi tangannya tetap terkepal di bawah meja. Kalau tangan itu keluar, ia tahu ia akan menggenggam tangan Amanda, menariknya, dan memeluknya. Dan ia sudah kehilangan hak untuk memeluk gadis yang baru saja ia lukai.
Amanda mengusap pipinya, berdiri, lalu kursinya bergeser sedikit di lantai kafe. Steven tetap duduk. Ia masih menunduk ketika Amanda berbalik ke pintu.
Baru setelah Amanda keluar, Steven berani mengangkat wajah.
Dari balik kaca, ia melihat Amanda berjalan menjauh. Bahunya bergetar. Sekali saja, Steven berharap Amanda menoleh. Sekali saja, ia berharap diberi kesempatan untuk runtuh di depan gadis itu dan mengaku bahwa ia tidak setegar suaranya. Tetapi Amanda tidak menoleh. Ia terus berjalan sampai tubuhnya hilang di antara kendaraan dan orang-orang yang lewat di depan kafe.
Tangan Steven masih terkepal keras di bawah meja.
Maafkan aku, katanya dalam kepala.
Gelas es kopi susu di depannya masih penuh. Lingkaran air di alas gelas sudah melebar sampai menetes ke bawah meja.
Maafkan aku.
Malamnya, setiba di rumah dan duduk sendirian di kamar, tubuh Steven seperti menagih semua yang tadi ia tahan.
Awalnya hanya kesemutan di ujung jari. Ia mengira itu karena sejak tadi tangannya terlalu lama terkepal, atau karena belum makan dengan benar, atau karena pikirannya masih tertinggal di kafe. Lalu rasa dingin menjalar dari tengkuk ke punggung. Dadanya sesak, seperti ada tangan dari dalam yang menekan tulang rusuknya. Ia mencoba menarik napas. Udara masuk sedikit, terlalu sedikit. Kamar yang sejak kecil ia tempati mendadak terasa miring. Lemari, meja belajar, rak buku, poster kecil dari acara sekolah, semuanya seperti bergerak menjauh sekaligus mendekat.
Steven duduk di tepi tempat tidur dan mencengkeram kaosnya.
Serangan jantung? Umur delapan belas?
Ketika sensasi itu mereda, ia terkulai di tempat tidur dengan tubuh gemetar.
Ia tidak mati.
Seharusnya itu melegakan. Namun sejak malam itu, lampu kamar yang dimatikan tidak pernah lagi berarti tidur. Begitu ruangan gelap, wajah Amanda muncul. Amanda di kafe. Amanda saat berkata kamu sendiri yang bilang serius. Amanda saat menyebut Mama dengan suara yang retak. Amanda yang menunggu satu jawaban. Amanda yang meneteskan air mata. Ia yakin gadis itu membencinya kini.
Beberapa hari kemudian, sebuah pesan Amanda masuk.
“Aku udah nggak nangis lagi, Steve.”
Steven membaca kalimat itu lama. Ada bagian dari dirinya yang lega, lalu langsung malu karena sempat merasa lega.
Pesan berikutnya muncul sebelum ia sempat membalas.
“Aku tahu kok.”
Steven menunggu, dadanya kembali mengeras.
“Mamamu yang nolak, ’kan?”
Jemarinya kaku di atas layar. Tapi ia tidak bisa begitu saja berhenti di situ.
“Nggak, Nda. Ini keputusanku.”
Setelah pesan itu terkirim, Steven memandangi layar dengan napas tertahan. Balasan Amanda tidak langsung datang. Saat titik-titik kecil penanda lawan bicara sedang mengetik muncul, menghilang, lalu muncul lagi, Steven merasa seperti kembali duduk di kafe dengan tangan terkepal di bawah meja.
“Kamu itu terlalu baik, Steve.
“Baik banget, makanya aku sayang banget sama kamu.
“Makanya aku juga nggak percaya itu maumu sendiri.
“Kamu itu sayang mamamu. Kamu sayang aku.
“Dan kamu milih buat nyakitin dirimu sendiri daripada jadikan restu mamamu sebagai alasan, atau aku yang nggak lolos SNBT.”
Steven membaca pesan itu berulang kali. Gadis yang dipacarinya sejak SMP itu ternyata mengenal dirinya lebih baik dari yang ia kira.
Ia memang bukan anak yang pandai menolak.