“JAM setengah tujuh kurang sepuluh,” gerutu Fahri Ramadhan melihat angka di arloji digitalnya.
Di bawahnya, Suzuki Satria biru F150 miliknya meraung rendah, tertahan dalam posisi gigi satu. Motor berbadan ramping itu bukan sekadar alat transportasi; itu adalah pernyataan sikap. Di saat teman-teman SMA-nya merasa sudah paling laki karena dibelikan NMAX atau PCX terbaru oleh orang tua mereka, Fahri justru tidak sudi menaiki motor berbadan gembrot yang cuma menang nyaman tinggal gas itu. Baginya, laki-laki itu main kopling, main gigi, dan bisa selap-selip di celah sempit yang mustahil dilewati bodi lebar matic bongsor.
Satria ini adalah monumen sejarahnya. Dua tahun lalu, ayahnya, Pak Wahyu Nugroho, membawa pulang motor bekas itu dalam kondisi menyedihkan. Dan di bengkel merekalah motor itu lahir kembali.
Bengkel "Wahyu Motor" di Jalan Kaliurang KM 12 bukanlah bengkel ganti oli atau tambal ban pinggir jalan biasa. Itu adalah bengkel spesialis. Sebuah plang kuning kusam yang catnya mulai mengelupas terpasang bangga di depan atap galvalum yang menaungi pelataran semen luas: WAHYU MOTOR – SPESIALIS PRESS BODY & RANGKA. Sudah tiga belas tahun Pak Wahyu mengoperasikannya. Di sanalah, di antara deretan tabung oksigen las, alat pres hidrolik manual buatan sendiri, dan rangka-rangka motor telanjang yang bengkok pasca-kecelakaan, Fahri tumbuh besar. Bapaknya—lulusan STM yang dulu rajin mengirim tips teknis dan artikel modifikasi ke tabloid otomotif—mengajarkan bahwa meluruskan sasis motor yang penyok habis tabrakan itu butuh seni. Salah pres sedikit, motor bakal lari miring seumur hidup.
Darah oli dan keahlian presisi itulah yang menyeret Fahri ke kampus ini. Ia masuk Teknik Mesin bukan untuk gaya-gayaan. Ia di sana untuk memvalidasi ilmu "pres rangka" bapaknya dengan gelar Sarjana. Ia tahu bengkel bapaknya akan selalu ada, tapi dunia di luar sana bergerak lebih cepat dari Jalan Kaliurang—pabrik-pabrik otomotif besar, standar presisi yang tak bisa ditebak cuma dari insting.
Namun pagi ini, kebanggaan teknik itu tidak berkutik menghadapi realitas Jalan Kaliurang.
Di depannya, lautan helm dan spion mobil mengular dari lampu merah perempatan Jalan Kaliurang. Tidak ada raungan klakson—penduduk di provinsi ini tidak suka membunyikannya—yang ada hanya dengung kolektif dari ratusan mesin yang tertahan dan raungan knalpot motor. Ini bukan lagi sekadar macet; ini adalah Jalan Kaliurang, arteri utama Sleman, yang kini terasa sesak setiap hari.
Ia tahu betul. Sleman, kabupaten yang ia sebut rumah, semakin hari semakin gila. Harga tanah meroket, dan setiap jengkal lahan kosong seperti berlomba-lomba berubah wujud. Tempat tinggalnya sendiri, Kecamatan Ngaglik, adalah contoh sempurna. Dulu hanya hamparan sawah dan pekarangan. Sekarang? Tiap meter seperti berubah jadi arena coffee shop. Masih ada sawah, tentu. Tapi sawah-sawah itu kini bukan lagi sekadar lahan tanam; sawah itu adalah "pemandangan" yang dijual mahal ke orang luar Jogja—termasuk para mahasiswa baru ini—lewat kafe-kafe estetik berdinding kaca atau warung berkonsep ndeso.
Ibunya, Dian Wulandari, adalah juru masak di salah satu warung ndeso itu. Dan ibunya adalah alasan mengapa warung itu laris. Banyak warung prasmanan serupa, tapi yang membuat pelanggan kembali adalah yang tahu cita rasa, bukan sekadar atmosfer. Sayur lodeh, sayur asem, dan oseng genjer buatan ibunya adalah yang terbaik. Warung ndeso tempat ibunya bekerja sebelumnya tutup karena pandemi corona. Tapi 'Curriculum Vitae' ibunya sebagai juru masak sudah terkenal. Begitu ada investor baru mendirikan warung serupa di Ngaglik dan merekrut pekerja sekitar, ibunya langsung mendapat pekerjaan. Gajinya mungkin sedikit di bawah UMR, tapi kalau musim liburan—setahun ada tiga kali, bonusnya bisa berkali-kali lipat. Karena itulah Fahri tidak pernah bisa benar-benar membenci warung semacam itu. Apalagi pemiliknya baik hati, sering mengizinkannya dan adik-adiknya numpang wifi gratis untuk mengerjakan PR di saung belakang, sambil ngeteh dan makan pisang goreng gratis.
Fahri tersenyum getir. Mungkin karena itulah ia bisa diterima di Unmang. Ia belajar keras untuk SNBT di warung ndeso itu, di tengah aroma masakan ibunya.
Jakal di pagi hari pada hari biasa saja sudah menyebalkan. Jakal di hari pertama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB) Universitas Mangkubumi adalah definisi neraka yang tumpah ke aspal.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya lagi. 06.51.
Upacara pembukaan pukul 07.00 tepat. Siapa coba yang punya ide brilian mengadakan upacara jam tujuh pagi di kampus yang sistem parkirnya saja sudah bikin pusing?
Ia sudah merasakan ini sebelumnya. Waktu tes SNBT bulan Mei lalu, ia memperoleh jadwal kelompok Sains di pagi buta. Ia berangkat dari rumahnya di Ngaglik pukul enam, mengira itu sudah lebih dari cukup. Nyatanya, ia menghabiskan lima belas menit hanya untuk berputar-putar mencari tempat parkir.
Waktu itulah ia baru menyadari betapa absurdnya sistem di Unmang.
Fakultas-fakultas baru yang megah itu memang punya basement. Tapi—dan ini yang membuatnya mengumpat dalam hati waktu itu—lahan parkir mewah itu hanya untuk dosen dan staf. Mahasiswa, yang jumlahnya puluhan ribu dan jadi sumber UKT terbesar, disuruh jalan kaki. Mereka menyebutnya "kantong parkir bersama". Tersebar di tiap klaster kampus. Kedengarannya canggih. Praktiknya? Ngrepotin.
Lampu akhirnya berganti hijau. Kerumunan mesin di sekitarnya serentak bergerak maju. Fahri memelintir gasnya dalam-dalam, mesin Satria-nya yang sudah ia oprek meraung responsif, melesat di antara kendaraan lain. Ia melesat masuk ke gerbang utama Unmang, tidak melambat sedikit pun, dan langsung berbelok tajam ke kiri, mengabaikan petunjuk arah klaster Teknik yang mengarahkannya ke tempat parkir lain yang lebih jauh.
Targetnya adalah satu: kantong parkir di sebelah Perpustakaan Pusat. Secara teknis, itu adalah parkiran terdekat menuju Lapangan Upacara di Rektorat. Tentu saja, "paling dekat" dalam kamus Unmang tetap berarti ia harus jalan kaki.
Ia akhirnya menemukan satu celah sempit di antara motor Vario baru dan Scoopy kinclong. Mesin dimatikan dan kunci dicabut dalam satu gerakan cepat. Ia tidak mengunci stang—ia tahu itu adalah dosa terbesar di parkiran kampus yang penuh sesak, di mana "nggeser-nggeser" motor adalah keahlian dasar. Tapi karena terburu-buru, ia langsung melompat turun, tidak peduli ban belakang motornya mungkin sedikit menghalangi motor Vario di sebelahnya. Tidak ada waktu untuk parkir rapi.
Fahri berlari kecil melintasi pelataran parkir yang luas itu. Dari sini, ia masih harus menyeberang boulevard utama kampus untuk sampai ke lapangan. Jaraknya? Mungkin 200 meter.
Ia melirik jam tangan. 06.57.
“Sial. Telat,” desisnya pada diri sendiri, sambil mempercepat langkahnya dari lari kecil menjadi lari sungguhan.
Ia bukan satu-satunya yang terlambat. Di belakangnya, beberapa mahasiswa baru lain—mungkin yang turun dari ojek daring di gerbang depan—juga berlari terengah-engah. Mereka tampak panik, kontras dengan Fahri yang ekspresinya hanya datar dan kesal. Di ujung lapangan, di dekat gerbang masuk utama, barisan "kakak tingkat" berjaket almamater—jelas panitia Ospek—sudah berdiri membentuk barikade manusia. Mereka memegang clipboard dan tatapan mereka tajam.
Fahri melihat mereka. Mereka melihat Fahri.
Ia bahkan tidak mencoba untuk menyelinap. Ia tahu dirinya target empuk: lari, keringat bercucuran, dan mungkin sedikit aura "warga lokal" yang terlalu percaya diri. Ia tidak terlihat seperti "anak baik" yang patuh berjalan kaki dari kos sejak jam enam pagi.
"BERHENTI!" Suara seorang panitia perempuan dengan toa menggelegar, tepat saat Fahri mencoba melambatkan langkah. "Yang lari-lari! Kumpul sini!"
Fahri berhenti, menghela napas pasrah. Beberapa maba lain yang berlari di belakangnya ikut berhenti, tampak ketakutan.
Seorang panitia laki-laki yang lebih senior —name tag-nya menggantung miring— menghampirinya. "Jam berapa ini, Mas?" tanyanya, nadanya dibuat sedingin mungkin.
Fahri menatap jam tangannya. "06.59."
"Upacara jam tujuh!" bentak si panitia. "Kamu pikir ini rumahmu sendiri bisa datang seenaknya? Tunjukkan name tag! Regu berapa?"
Fahri menyerahkan co-card karton yang ia kalungkan di leher. Si panitia mengamatinya, lalu mengambil spidol permanen dari sakunya dan membuat sebuah tanda silang besar di atasnya.
“Satu poin pelanggaran,” katanya dingin. “Kalian semua, tunggu di sana!” Ia menunjuk ke arah area di sisi lapangan, di bawah beberapa pohon peneduh yang berdiri berjauhan. “Kalian tidak diizinkan ikut upacara pembukaan.”
Sial. Hari pertama, dan ia sudah “dapat poin”.
Fahri tidak membantah. Ia menerima kembali co-card-nya yang kini ditandai, lalu berjalan ke area yang ditunjuk. Di sana, tanahnya keras dan berdebu. Bayangan pohon hanya jatuh sebagian, tidak cukup untuk menahan panas pagi yang perlahan naik. Ia berdiri tegak, ransel masih menempel di punggung, bersama sekitar sepuluh mahasiswa baru lain yang bernasib sama—tidak cukup dekat untuk mendengar jelas pidato, tapi cukup dekat untuk tahu mereka sedang dikucilkan.
Dari pengeras suara di lapangan, suara Rektor mulai terdengar samar, terpotong angin dan jarak. Fahri menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, keringat mengalir pelan di pelipisnya. Ia tidak membenci Unmang. Justru sebaliknya. Ia benci terlambat di Unmang. Ia tahu persis betapa susahnya masuk ke sini. Dirinya bukan anak jenius; nilai raport sekolahnya pas-pasan, otaknya bukan otak teori. Ia harus berjuang mati-matian di UTBK-SNBT, menghapal rumus yang sering tidak ia pahami, hanya untuk mengalahkan puluhan ribu pesaing lain yang juga mengincar passing grade tinggi di kampus negeri ini.
Unmang adalah impiannya. Jika ia tidak lolos, pilihan lainnya adalah salah satu dari ratusan kampus swasta yang bertebaran di Jogja. Bukan berarti jelek—ia tahu kampus swasta di kota ini tetap menjadi magnet besar bagi lulusan SMA dari luar Jawa—tapi Unmang adalah Unmang. Ini adalah "Kampus Rakyat". Dan kini, di hari pertamanya di kampus impian ini, dia sudah dicap sebagai pelanggar.
Fahri mendesah, menatap tanda silang di co-card. Padahal ia bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalunya, untuk tidak lagi berurusan dengan masalah.
Tapi ironisnya, pagi itu, ia merasa seperti kembali ke ruang BK di SMA-nya.
⇹
SETELAH sembilan puluh menit berdiri di pinggir Lapangan Upacara—tanpa pohon rindang, tanpa bangku, tanpa satu pun bayangan yang bisa dipinjam—hukuman itu akhirnya berakhir. Peserta dibubarkan. Barisan itu pecah begitu saja. Masing-masing bergerak cepat, setengah berlari, setengah sempoyongan. Fahri menarik napas dalam-dalam. Panas membuat kepalanya sedikit berdengung, tapi ia tidak panik. Ia menyampirkan ransel ke bahu, lalu melangkah menyusuri pinggir lapangan, matanya menyapu deretan papan gugus yang berjajar.
Gugus VII.
Ia menemukannya di sisi lapangan dekat tribun beton. Mereka duduk melingkar, nyaris simetris. Tas-tas diletakkan di luar lingkaran. Botol minum berjejer. Tidak hening sepenuhnya, tapi teratur. Di tengahnya berdiri seorang cowok berkacamata dengan paras oriental. Rambutnya ditata pakai pomade—tipe yang kelihatan siap tampil bahkan di hari pertama yang panas. Kemeja putihnya sudah sedikit basah di punggung, tapi sikapnya tetap tegak. Tangannya bergerak cepat, sesekali menunjuk, sesekali mengepal, sesekali tertawa kecil.
Fahri memperlambat langkah. Masuk ke lingkaran yang sudah rapi dengan kondisi co-card disilang dan keringat masih menetes bukan pilihan ideal. Ia berhenti sejenak, merapikan kerah kemeja yang sudah lecek, mengusap wajah dengan punggung tangan. Tidak buru-buru. Tidak ingin jadi pusat perhatian.
Baru saja kakinya menginjak batas rumput lingkaran, cowok berkacamata itu menoleh.
“Hoi! Mas!” Suaranya lantang. “Sini, sini! Gabung aja!” Nada suaranya seperti nada orang yang sudah kenal lama, padahal jelas belum.
Fahri berhenti. Cowok itu melangkah mendekat, senyumnya lebar tanpa dibuat-buat.
“Ketinggalan rombongan to, Mas?” katanya. “Santai ae. Masih kosong kok, sebelah sana.”
Fahri menangkapnya dengan jelas. Logat Jawa Timur. Arekan. Berat di akhir kalimat. Radar dalam dirinya sedikit turun.
“Nuwun,” jawabnya singkat, langsung menggunakan bahasa Jawa karena tahu orang ini pasti paham.
Cowok itu melirik co-card Fahri yang tersilang. “Kena poin?”
“Iya.”