Tempat Kita Belajar Bertahan

A. L. Mutiara
Chapter #5

TAHUN PERTAMA (2023/2024) — Ritme Awal

EZRA sudah tidak sabar.

Dua dari lima hari PPKMB kemarin diselenggarakan di tingkat fakultas, jadi klaster Teknik bukan lagi tempat yang asing. Ezra masih ingat kakinya pegal karena dipaksa terus bergerak, keringat yang mengering di punggung kemeja, suara panitia yang menggema di halaman depan, dan papan-papan pameran karya mahasiswa yang membuatnya berhenti lebih lama dari yang seharusnya. Ada mesin, ada purwarupa, ada grafik, ada istilah-istilah yang belum sepenuhnya ia pahami. Justru karena belum paham, ia ingin melihat lebih dekat. Benda-benda itu tidak hadir sebagai pajangan semata; ada orang yang pernah menghitungnya, menggambarnya, menyusun bagiannya, lalu membuatnya berdiri di depan orang banyak. Ini bukan sekadar tempat kuliah. Ini tempat sesuatu dikerjakan sampai menjadi nyata.

Masa orientasi itu ditutup dengan tepuk tangan dan foto bersama, tetapi bagi Ezra, kesannya belum benar-benar selesai. Semua itu baru pengantar. Etalase. Hari ini barulah inti dimulai. Tidak ada lagi co-card besar dikalungkan di dada. Tidak ada aba-aba baris-berbaris. Tidak ada yang menyuruhnya bergerak ke mana-mana. Hari ini ia datang ke kelas untuk kuliah perdana. Perasaan itu membuat langkahnya lebih ringan saat memasuki klaster Teknik. Sederhana, tetapi penting: ia ingin berada di sini. Ia tidak datang dengan harapan muluk, tidak membayangkan akan langsung jago, tetapi ia ingin tahu dari mana semua benda di papan pameran kemarin bermula: rumus yang mana, gambar yang mana, kesalahan hitung yang seperti apa, dan berapa lama seseorang harus tidak paham sebelum akhirnya bisa mengerti.

Ezra berdiri sebentar di depan gedung kuliah bersama, gedung besar yang sejak kemarin ia lihat berkali-kali dari kejauhan dengan delapan lantainya yang gagah, lalu memasuki koridor. Mahasiswa-mahasiswa berjalan dengan ritme masing-masing; sebagian masih mencari ruang kelas, sebagian lagi berdiri menumpuk sambil membaca papan informasi di samping pintu, berisi daftar mata kuliah, prodi, jam, dan nama dosen pengampu. Ezra tidak berniat salah masuk kelas. Ia merogoh ponsel, membuka portal akademik, lalu mencocokkan kode ruang yang tertera pada KRS-nya sekali lagi.

Desain ruang kelas dibuat dengan lantai bertingkat, memastikan garis pandang mahasiswa di baris belakang tidak terhalang oleh kepala di depannya.  Kapasitas kelas sudah terisi separuh, artinya Ezra bukan yang paling rajin datang di fakultas ini. Ia sendiri memilih kursi di barisan tengah. Tidak terlalu depan untuk mendapat perhatian dosen, tidak terlalu belakang agar tetap fokus pada layar. Posisi aman. Inilah momen yang ia tunggu-tunggu: duduk, diam, membuka buku, dan siap belajar.

Jam dinding di atas papan tulis menunjukkan pukul 07.28. Beberapa detik kemudian, suasana kelas berubah. Obrolan kecil mereda. Pintu terbuka dan seseorang dengan gestur yang mengindikasikan otoritas masuk ke dalam ruangan. Nyaris bersamaan dengan itu, ada satu langkah tergesa yang menyelinap dari samping pintu.

Seorang mahasiswa masuk nyaris bersamaan dengan sang dosen. Jaket denim birunya tidak terkancing, satu tali ransel menggantung asimetris di bahu, dan ritme napasnya tidak teratur—jelas habis berlari pendek. Ia mematung sepersekian detik, menunggu apakah ia masih bisa masuk kelas tanpa ditegur.

Dosen hanya melirik jam tangan, lalu melanjutkan langkah menuju podium.

Mahasiswa itu menghembuskan napas lega, menunduk singkat formalitas, lalu mengambil langkah cepat ke bangku kosong tepat di samping Ezra. Begitu duduk, posturnya langsung tegak dan tenang, tidak sibuk mencari alasan atau celingukan gelisah, seolah datang nyaris terlambat bukan peristiwa penting, hanya konsekuensi logis dari pagi yang tidak ideal.

Ezra melirik sekilas.

Wajahnya tampak tidak asing. Butuh dua detik sebelum Ezra menyadari ini anak yang kemarin sempat diminta berdiri sedikit terpisah dari barisan. Yang co-card-nya diberi tanda silang merah yang besar. Yang bergerak tenang di tengah teriakan panitia dan suhu lapangan yang membakar. Tanda pelanggar itu masih menempel dalam ingatan Ezra lebih cepat daripada namanya. 

Dosen memulai pemaparan. Karakter suaranya datar, artikulasinya jelas, dan langsung masuk ke poin struktural: silabus, sistem bobot penilaian, regulasi batas kehadiran, dan jadwal praktikum. Ezra mencatat cepat, ringkas, tangannya bergerak hampir otomatis. Ketika dosen mulai menuliskan persamaan dasar kalkulus di papan tulis—tanpa penjelasan pengantar, berasumsi bahwa seluruh isi kelas memiliki basis pengetahuan yang setara dari bangku SMA—Ezra menangkap sinyal pergerakan dari kursi sebelahnya.

“Mas.”

Nada suara itu rendah, diatur agar tidak menarik perhatian melebihi radius meja mereka. Ezra menoleh.

“Yang limit tadi,” cowok jaket denim itu menunjuk papan dengan ujung pulpen. Alisnya sedikit bertaut, bukan bingung, lebih seperti orang yang sedang menyusun ulang logika di kepalanya. “Kalau x-nya didekatkan ke nol dari kanan sama dari kiri… hasilnya bisa beda, kan?”

Ezra memproses pertanyaan itu dan menemukan ketidaksesuaian dengan profil cowok ini kemarin. Pelanggar aturan PPKMB, datang nyaris terlambat, tetapi memiliki kapasitas analisis yang tajam. Ini bukan tipe pertanyaan malas seperti "ini maksudnya apa?" yang lahir karena kegagalan fokus. Cowok ini menangkap inkonsistensi pada grafik dosen.

“Iya,” jawab Ezra berbisik sambil mencondongkan tubuh, tidak ingin menarik perhatian dosen karena terlihat mengobrol. “Kalau limit kiri sama kanan beda, berarti limitnya nggak ada.”

Cowok itu diam sejenak. Matanya kembali ke papan. “Tapi kenapa barusan,” lanjutnya cepat, juga berbisik, “dosen langsung masukin nol ke fungsi itu? Bukannya tadi dibilang x cuma mendekati, bukan sama dengan nol?”

“Karena yang barusan itu,” Ezra menjelaskan singkat, tetap rendah, “limitnya ada dan bentuknya sederhana. Jadi nilai yang didekati sama dengan nilai fungsi di titik itu. Kalau fungsinya bolong di nol—atau nggak terdefinisi—baru nggak boleh langsung disubstitusi. Harus diutak-atik dulu bentuknya.”

Cowok itu mengangguk sekali. “Oh… berarti bukan asal masukin. Tergantung bentuknya,” gumamnya. Ia langsung merunduk, tangannya bergerak cepat menambahkan catatan di bukunya.

Spidol dosen terus mentransfer data dari satu sisi papan ke sisi lain. Sesi perkuliahan baru dinyatakan selesai 150 menit kemudian, setelah dosen menutup kelas dengan instruksi tugas literatur untuk minggu depan. Ezra menutup bindernya, mengembalikan pena ke kompartemen tas dengan rapi. Saat ia berdiri, cowok di sebelahnya melakukan gerakan yang sama—nyaris sinkron, seperti disengaja. 

“Mas,” katanya, “sing teori limit kuwikowe mudeng ora?”

Kalimat itu terdengar meluncur tanpa filter, alami. Ezra menggali memori perjalanan pertamanya saat menggunakan ojek daring di Jogja. Waktu itu abang ojolnya bicara campur Jawa halus, campur Indonesia. Penjual di warung juga mengomel setengah Jawa, setengah Indonesia. Untung setelah itu ia makan bersama Steven yang menjadi penerjemah, dan Ezra hanya mengangguk sambil mencatat satu hal penting bahwa di tempat baru, orang tidak akan menyesuaikan bahasanya untukmu. Kamulah yang harus belajar mendengar. Bahasa daerah bukan sikap eksklusif—itu refleks. Rumah. Ia tahu ia tak bisa mengandalkan orang lain terus, ia harus belajar kosakatanya sedikit demi sedikit.

Tapi ini sudah minggu ketiga dirinya di Jawa. Ia mulai paham logikanya, meski belum bahasanya. Steven sudah memberikan input kosakata seperti jancuk, yowes, awakmu, koen, mari. Dan ia sedikit curiga itu dialek dari regional Jawa yang berbeda. Semakin sering berinteraksi dengannya, semakin ia melihat kecenderungan teman sekamarnya itu semakin usil.

“Beta tidak paham kau ngomong Jawa,” kata Ezra lugas. “Tolong kau ulang pakai Indonesia.”

Cowok itu terkesiap, baru sadar satu kebiasaan kecilnya kebablasan. “Oh—iya. Maaf, Mas,” katanya cepat. “Maksudku, yang limit tadi. Yang dosen langsung masukin nol itu. Ada penjelasan di buku nggak ya, yang kapan boleh langsung substitusi sama kapan nggak?”

Ezra menatapnya sebentar. Dari tadi cowok itu tidak bertanya berapa jawabannya, tetapi kenapa langkah tertentu bisa dipakai. 

“Ada,” jawabnya. “Tapi beta paham tadi karena beta sudah baca dulu.”

“Ooh,” seloroh cowok itu, seperti mendengar fakta bahwa ada seseorang yang mempersiapkan diri dengan belajar sebelum kelas. “Bukunya sama dengan daftar referensi di silabus?” lanjutnya.

“Beda, beta pinjam judul random di perpus pusat.”

“Bahasa Indonesia?” Volume suaranya sedikit naik.

“Iya, biar paham dulu.”

“Boleh lihat bukunya?”

Ezra membuka ritsleting tasnya, menarik keluar sebuah buku bersampul dominan biru tua karya Wono Setya Budhi terbitan Institut Teknologi Bandung. Kondisi punggung bukunya yang melengkung dan kertasnya yang menguning cukup membuktikan buku itu sering berpindah tangan dan dibaca. 

Cowok itu menerima buku tersebut dengan kedua tangan, lalu memindai cepat pada halaman-halamannya. Ia datang nyaris terlambat, dan Ezra tidak menyukai orang yang datang pada detik terakhir. Namun orang ini tidak terlambat masuk ke pelajaran. Pikirannya sudah duduk di kelas bahkan sebelum tubuhnya selesai mengatur napas.

“Gimana kalau selesai beta yang pinjam, kau yang pinjam?” lanjut Ezra. “Itu bisa diperpanjang dua kali. Kita bisa belajar bareng. Kalau ditotal, kita bisa pakai bukunya 6 minggu.”

Ekspresi cowok itu berubah seketika—wajahnya terang, seperti baru dapat jalan pintas yang masuk akal. “Wah, jos gandos!” katanya spontan. Ia mengembalikan buku itu, lalu mengulurkan tangan. “Oya, aku Fahri. Asli Jogja.”

Ezra merasakan penekanan di kalimatnya. Karakter suaranya datar dan lempeng, tipe logat asli yang sering ia dengar di jalanan dan warung sekitar. Kata Steven, itu disebut medok. Tapi jenis medok cowok ini terdengar sangat kontras dengan gaya bicara Steven yang meledak-ledak dan berat di akhir kalimat. “Ezra, dari Ambon.” Ia menerima buku itu dan menjabatnya.

“Ooh… pantes,” ujar Fahri sambil mengangguk kecil. “Ngomongnya pakai ‘beta’.”

“Iya.” Ezra terkekeh pendek. “Kadang masih refleks keluar.”

“Lha ngopo?” Fahri refleks, partikel lokalnya keluar lagi secara alami. “Pakai beta wae. Biar khas.”

Ezra tersenyum. “Sampai orang-orang sini kalau manggil Mas Beta gara-gara itu.”

“Yo rapopo toh? Kan kamu dari Ambon, masa bahasamu diseragamin. Tapi aku manggil kamu Ezra wae, yo?”

“Oya, Fahri, kau bilang tadi kau asli sini?” Ezra melihatnya mengangguk. “Kalau gitu tolong ajari beta kosakata Jogja.”

“Bahasa Jawa maksudnya?” Fahri mengernyit, setengah heran.

“Iya, beta ada teman sekamar orang Surabaya sebenarnya,” Ezra menjelaskan sembari mencondongkan posisi tubuhnya sedikit. “Logat dan kata-katanya beda.”

“Woooo,” Fahri tertawa kecil, bahunya berguncang. “Kosakata pertamamu dari dia pasti jancuk.”

“Pasti kata umpatan.” Ezra ikut tertawa.

Fahri mengangguk cepat. “Kalau di sini ngomongnya asu, gendeng, kenthir, gemblung.” Baru selesai kalimat, ia seperti tersadar sendiri, lalu terkekeh. “Lah, malah ngajari kasar. Sepurane yo.”

Sepurane?” Ezra mengulang, alisnya terangkat.

“Artinya, maaf.” Fahri tersenyum.

Ezra mengangguk serius. “Beta catat.”

Fahri melirik jam tangan. “Oya, kuliah berikutnya jam berapa?”

“Setengah satu,” jawab Ezra. “Masih banyak jeda.”

“Semester satu ini kita sekelas terus kan ya?”

“Iyo. Kelas E.”

Ezra memikirkannya sebentar di kepalanya. Sistem paket semester satu. Mata kuliah yang sama, ruangan yang sama, dan wajah-wajah maba yang akan terus berulang secara konstan. Namun anehnya, kalkulasi itu tidak membuat Ezra merasa risih atau terganggu. Jika dia memang harus terjebak di dalam ruangan yang sama terus sampai semester akhir untuk mata kuliah wajib, setidaknya dia tidak perlu satu kelompok dengan orang yang pasif—tipe mahasiswa yang cuma bisa mencatat kosong dan pura-pura sudah paham karena gengsi untuk bertanya. Fahri, dengan segala kebiasaan telatnya, punya kapasitas otak yang taktis.

“Sip! Kantin dulu yuk, laper,” ajak Fahri.

Ezra mengangguk. Mereka berdua melangkah keluar pintu, membaur ke dalam arus kerumunan mahasiswa Teknik lainnya di koridor. 

STEVEN menaruh kantong belanja di meja dapur dengan bunyi thump yang puas. Ia sengaja turun ke dapur lebih awal, sebelum jam makan benar-benar ramai. Jujur saja, pertama kali melihat dapur asrama ini beberapa hari lalu, ia hampir bersiul keras-keras. Ditahannya refleks itu hanya karena masih ada orang lain di sekitar.

Ini bukan dapur seadanya. Ini dapur yang super niat.

Meja-meja bundar kecil berjajar di sisi jendela, cukup buat makan sambil ngobrol. Ada mini-bar dengan kursi tinggi menghadap dapur, cocok buat nongkrong sore atau sekadar minum kopi sambil scroll ponsel. Dispenser yang mengeluarkan air panas dan dingin. Kulkas dua pintu yang berdengung pelan. Microwave bersih, tidak ada noda saus mengering. Dua kompor gas tanam berjajar di atas meja, total empat tungku, semuanya terawat. Pelengkapan makan, piring, mangkok, gelas, dan peralatan masak dipisahkan rapi dalam beberapa laci terpisah dengan stiker petunjuk. Tangannya sudah otomatis memeriksa wajan besi besar di laci peralatan masak. Yang ini berat, cekungannya dalam, bekas goresannya banyak. Cocok.

Ia lalu membuka kulkas dan mengeluarkan nasi sisa kemarin yang sengaja ia dinginkan. “Fix,” katanya sambil mengibaskan tangan, “hari ini kita makan enak.”

Matanya tanpa sadar tertarik ke papan buletin di dekat pintu dapur. Di sana tergantung berbagai pengumuman asrama—jadwal piket, jadwal kegiatan life skills yang wajib diikuti penghuni, dan larangan membawa makanan berat ke kamar. Di sampingnya, sebuah pigura kayu sederhana, tapi posisinya paling mencolok.

Lihat selengkapnya