Seiring berjalan nya waktu aku sadar kalau aku selalu berusaha menjadi baik.. Padahal tak harus menahan itu semua sendirian, mereka bilang masa depan ku akan buruk jika aku terus begini... Tapi... Mereka bukan lah sang penentu yang menentukan masa depan ku gimana, bicara sendiri bukan berarti kau gila namun itu juga bisa menjadi jangkar kau waras, aku pun begitu sampai suatu hari...setelah periksa keadaan mental ku... Aku mengalami Skizofrenia, aku tau bukan berarti aku gila namun... Aku juga mau di anggap manusia biasa bukan manusia yang gila..di kondisi ku yang sekarang... Aku berusaha menjadi orang baik dengan susah payah, aku sadar aku terlalu baik, aku takut ditinggal lagi seperti dulu saat aku kecil, aku bingung kenapa aku ga pergi dan tetep stay, ada 1 jawaban, yaitu... Aku di uji apakah bisa aku bersikap baik, mereka bilan aku pemalas, ga peka, pemarah, padahal... Aku cuma lelah... Mereka bicara pun... Energi ku habis, aku sering kali halusinasi lagi, Lama-lama aku sadar kalau selama ini aku selalu maksain diri buat jadi orang baik. Semua-semua aku tahan sendiri, padahal rasanya capek banget kalau harus mendam semuanya sendirian. Ditambah lagi, orang-orang di sekitar sering bilang kalau masa depanku bakal suram kalau aku terus-terusan kayak begini. Tapi ya sudahlah, mereka kan bukan penentu masa depanku bakal gimana nanti.Buatku, kebiasaan bicara sendiri di kamar itu bukan berarti aku gila. Itu justru jadi jangkar biar pikiranku tetep waras dan ga makin berantakan. Aku terus bertahan dengan cara kayak gitu, sampai suatu hari, setelah aku berani periksa keadaan mental ke dokter, aku dinyatakan mengalami skizofrenia. Aku tahu diagnosis itu kedengarannya serem buat orang awam, tapi bukan berarti aku gila. Aku cuma mau dianggap kayak manusia biasa aja pada umumnya, bukan dianggap sebagai orang gila. Di kondisiku yang sekarang, aku cuma lagi berusaha buat jadi orang baik dengan susah payah.Kalau dipikir-pikir lagi, aku ini emang terlalu baik sampai kadang ngerugiin diri sendiri. Aku selalu takut ditinggalin lagi sama orang-orang, persis kayak trauma yang aku rasain waktu masih kecil dulu. Makanya aku sempet bingung, kenapa pas digituin aku ga pergi aja dan malah milih buat tetep stay. Tapi akhirnya aku nemu satu jawabannya, mungkin aku emang lagi diuji sama Tuhan, apa aku bisa tetep bersikap baik meskipun keadaannya lagi ga enak.Sayangnya, orang-orang malah ngeliat aku dari sisi buruknya aja. Mereka bilang aku pemalas, ga peka, sampai dibilang pemarah. Padahal aslinya aku cuma lagi lelah banget. Malah kadang, pas mereka lagi ngomong pun, energiku rasanya langsung habis seketika karena ga kuat dengerinnya. Kalau udah di titik lelah yang parah kayak gitu, aku sering kali mulai halusinasi lagi. Suara-suara atau bayangan yang aneh mulai muncul lagi di kamar, bikin kepalaku makin pusing dan penuh.Tapi untungnya, di tengah semua kekacauan itu, aku punya tempat buat pelarian. Dunia Roleplayer (RP) yang sering aku mainin di ponsel akhirnya jadi tempat terbaik buat nemu ketenangan. Di saat dunia nyata kerasa terlalu berisik dan penuh tuntutan, dunia teks itu justru jadi tempat di mana aku bisa pulang dengan tenang. Lewat karakter RP yang aku mainin dan plot cerita yang disusun bareng temen-temen di sana, aku bisa ngerasa lepas tanpa perlu mikirin omongan orang lain yang bikin drop.Malam ini, pas aku ngeliat ke arah tas Nike yang digantung di balik pintu kamar, jajaran pin hololive sama gantungan kunci Subaru dan Reine di sana kayak ngingetin aku kalau aku masih punya dunia yang seru buat dijalani. Biarpun halusinasi kadang dateng lagi kalau aku kecapekan, buru-buru aku buka obrolan RP di HP buat nyari ketenangan. Hari esok mungkin bakal tetep kerasa berat, tapi selama aku masih bisa pulang ke dunia RP dan dapet ketenangan di sana, aku bakal tetep berusaha keras buat bertahan hidup, Di dalam ruang obrolan RP yang menyala di layar ponsel, duniaku langsung berubah total. Begitu ketukan jariku mengirimkan satu baris plot teks, rasanya aku seperti melangkah melewati pintu rahasia menuju tempat yang benar-benar aman. Di sana, karakter yang kumainkan tidak perlu menanggung beban diagnosis medis atau tatapan aneh dari orang-orang sekitar. Dia bebas bergerak, bercerita, dan menjalani petualangan yang kami karang bersama. Teman-teman satu agency atau sirkel RP-ku di sana langsung menyambut ketikanku dengan antusias. Mereka membalas plot cerita itu dengan ketikan yang mengalir santai, sesekali menyisipkan candaan khas dalam karakter mereka yang membuatku melupakan sejenak rasa pening di kepala.Ketenangan yang kudapatkan dari dunia teks ini anehnya terasa jauh lebih nyata daripada apa yang ada di sekelilingku saat ini. Di saat orang-orang di luar sibuk menuntutku untuk cepat sembuh, cepat sukses, atau cepat berubah, di dunia RP ini aku dibiarkan berjalan dengan ritmeku sendiri. Tidak ada yang mendesak, tidak ada yang menghakimi kalau ketikanku agak lambat karena jemariku mendadak kaku. Membaca balasan plot dari mereka terasa seperti mendengarkan bisikan hangat yang perlahan-lahan menenggelamkan suara-suara asing akibat halusinasi yang sempat mengacaukan fokusku tadi. Perlahan tapi pasti, isi kepalaku yang tadinya riuh dan penuh distorsi mulai mendingin, menyisakan ketukan demi ketukan teks di atas papan ketik virtual.Malam semakin larut, dan lampu kamar sengaja kubiarkan mati, menyisakan cahaya dari layar HP yang menerangi wajahku. Aku melirik sebentar ke arah gantungan kunci Subaru dan Reine yang sesekali memantulkan cahaya samar dari luar jendela. Dua gantungan itu seperti versi fisik dari pelarianku malam ini—sebuah pengingat bahwa kenyamanan yang kutemukan lewat hobi dan obrolan teks ini adalah hal yang valid untuk kupertahankan. Aku tahu sebagian orang mungkin menganggap ini hanya sekadar main-main atau buang-buang waktu di depan layar, tapi mereka tidak pernah tahu seberapa besarnya arti dunia ini dalam menjaga sisa-sisa kewarasanku.Jari-jariku kembali bergerak, membalas satu demi satu pesan dan plot yang masuk di grup. Mengetik di dunia RP ini lambat laun memicu sesuatu yang baru di dalam diriku; sebuah keinginan untuk tidak hanya sekadar memainkan karakter orang lain, tetapi juga menciptakan ceritaku sendiri. Komitmen untuk tetap menyelesaikan baris demi baris teks di saat mood sedang hancur atau tubuh sedang lelah ini terasa seperti latihan kecil. Aku menyadari bahwa perjuangan keras untuk bertahan hidup di dunia nyata, dan perjuangan untuk menyelesaikan tulisan di dunia fiksi, ternyata berjalan di atas jalur yang sama. Dua-duanya butuh proses yang melelahkan, dan dua-duanya butuh tempat istirahat yang tepat.Ketika mata ini sudah mulai terasa sangat sepet dan berat, aku mengirimkan pesan terakhir di grup RP untuk pamit tidur. Sambutan hangat dari karakter-karakter fiksi di seberang sana menjadi kalimat penutup yang manis sebelum aku mengunci layar ponsel. Kamar kembali gelap total, tapi sesak yang tadi mengurung dadaku sudah jauh berkurang. Hari esok mungkin akan tetap berjalan dengan segala kerumitan diagnosis skizofrenia dan lelahnya menghadapi omongan orang-orang, tapi ketakutan itu tidak lagi sebesar kemarin. Aku meletakkan HP di samping bantal, memejamkan mata dengan perasaan yang jauh lebih lapang, karena aku tahu ke mana aku harus pulang setiap kali dunia luar mulai terasa terlalu berisik untuk dihadapi, yaa... Gitu, pasrah lagi dan lagi Ketenangan yang kayak gini yang bikin aku sadar kalau pelarian setiap orang itu beda-beda, dan ga ada yang berhak buat nge-judge. Orang lain mungkin butuh jalan-jalan keluar atau ketemu banyak orang buat ngilangin stres, tapi buatku, rebahan di kasur sambil dengerin lagu .Feast atau lagu holoID di sela-sela main RP udah lebih dari cukup. Di dalam room chat itu, waktu rasanya berjalan lebih lambat dan ga ngejar-ngejar aku. Aku ga perlu mikirin besok harus jadi apa, atau gimana caranya biar keliatan sukses di mata orang-orang yang sukanya nuntut. Aku cuma perlu fokus sama ketikan teks yang ada di depanku.Lucunya, kadang kalau lagi asyik nge-plot atau nge-chat di dunia RP, aku suka lupa kalau aku lagi di kondisi yang ga baik-baik aja. Suara-suara aneh yang biasanya mengganggu di kepala pelan-pelan kalah sama ramainya notifikasi chat masuk dari temen-temen sehobi. Mereka yang di sana emang ga tahu mukaku kayak gimana di dunia nyata, tapi entah kenapa cara mereka ngerespons ceritaku kerasa jauh lebih manusiawi dibanding orang-orang yang ketemu langsung tiap hari. Di dunia teks itu, aku dihargai karena apa yang aku tulis, bukan karena stempel medis yang nempel di diriku.Makanya, tiap kali ada yang bilang main RP itu cuma buang-buang waktu atau bikin kuota habis, aku cuma bisa senyum aja dalam hati. Mereka ga pernah tahu rasanya punya kepala yang isinya riuh banget, terus nemu satu tempat tersembunyi di internet yang bisa bikin semuanya mendadak hening dan damai. Tempat itu yang jadi penyelamatku pas lagi drop-drop-nya. Tanpa adanya sirkel teks itu, mungkin aku udah makin tenggelam sama halusinasi dan pikiran-pikiran burukku sendiri yang ga ada habisnya.Sekarang, jam di dinding kamar udah nunjukin waktu yang makin larut. Rasa kantuk akhirnya dateng juga setelah seharian kepalaku dipake mikir keras dan nahan lelah. Sebelum bener-bener merem, aku ngeliat sekali lagi ke arah pojok meja tempat aku biasa naruh barang-barang kesayanganku. Rasanya malam ini kamarku ga se-mencekam biasanya. Masih ada sisa-sisa rasa hangat yang ketinggalan setelah seharian ngobrol lewat ketikan teks di HP.Aku bener-bener bersyukur karena dikasih kesempatan buat bangun lagi dan nemu dunia kecil yang nyaman ini. Biarpun di luar sana hidupku kerasa berat banget dan penuh perjuangan buat jadi orang baik, seenggaknya aku punya alasan buat ga nyerah gitu aja sama keadaan. Aku mau terus bertahan hidup, pelan-pelan aja, ga usah buru-buru ngikutin standar orang lain. Yang penting, tiap kali aku ngerasa capek dan dunianya mulai berisik lagi, aku tahu jalan buat pulang ke tempat tenangku, ya.. Cape juga sih kalau gitu terus Kadang aku mikir, dunia RP ini sebenernya sederhana banget, cuma modal ketikan teks di layar HP. Tapi efeknya ke pikiranku bisa segede ini. Di saat orang-orang di dunia nyata sibuk ngasih nasihat yang malah bikin kepalaku makin penuh dan pusing, temen-temen di RP malah bisa bikin aku tenang cuma lewat interaksi karakter yang mereka mainin. Kita bisa ngebahas plot cerita dari yang serius sampai yang random banget, dan itu semua dilakuin tanpa ada yang saling nge-judge satu sama lain. Rasa aman kayak gini yang mahal banget dan susah aku dapetin di tempat lain.Makin ke sini, aku juga mulai paham kalau kesembuhan atau ketenangan itu ga bisa dipaksain buru-buru. Aku ga perlu langsung berubah jadi orang yang sempurna dalam semalam cuma gara-gara pengen menuhin ekspektasi orang sekitar. Menjadi orang baik dengan susah payah di kondisiku yang sekarang itu udah lebih dari cukup. Kalau emang hari ini aku cuma bisa bertahan hidup dan main RP sambil ngeliatin gantungan kunci Subaru sama Reine di tas, ya ga apa-apa. Itu udah sebanding dengan perjuangan besar yang aku lalui di dalam kepala tiap harinya.Sebelum bener-bener naruh HP di samping bantal, aku sempetin buat nge-scroll lagi chat-chat lama yang seru di grup. Membaca ulang ketikan-ketikan konyol mereka selalu berhasil bikin sudut bibirku naik dikit. Hal-hal kecil kayak gini yang jadi bukti kalau aku ga bener-bener sendirian di dunia ini. Biarpun fisiknya ga keliatan, tapi kehadiran mereka lewat teks itu nyata banget rasanya buat nahan biar aku ga gampang drop lagi kalau pas kelelahan ekstrem.Malam ini aku mau bener-bener istirahat tanpa mikirin omongan orang yang bilang masa depanku bakal buruk atau suram. Biarlah masa depan jadi urusan nanti, yang penting malam ini aku bisa tidur dengan perasaan yang lebih tenang dan damai. Aku mau nutup mata sambil ngebayangin plot-plot seru yang bakal aku ketik lagi besok bareng mereka. Selama tempat pulang ini masih ada dan sirkel teks ini tetep rame, aku punya alasan yang kuat banget buat terus melangkah maju hari demi hari, seberat apa pun rasanya Di saat-saat kelelahan ekstrem seperti ini, ketika halusinasi mulai datang lagi dan membuat pandanganku agak kabur, aku buru-buru memejamkan mata. Kamar ini mendadak terasa terlalu sunyi, tapi di dalam kepalaku justru suasananya bising bukan main oleh distorsi-distorsi yang muncul tanpa diundang. Aku mencoba mengatur napas pelan-pelan sambil mencengkeram pinggiran kasur busaku, mencoba mencari pegangan agar pikiranku ga makin hanyut ke mana-mana. Di sela-sela rasa pening yang mendera, aku memaksakan diri buat membuka mata dan langsung meraih HP yang layarnya masih menyala di samping bantal. Aku tahu, satu-satunya cara buat mengusir semua kekacauan ini adalah dengan melarikan diri ke tempat yang paling aman yang aku punya saat ini.Begitu aplikasi obrolan teks itu terbuka, duniaku rasanya langsung bergeser ke tempat yang jauh lebih tenang. Di dalam room chat dunia Roleplayer (RP) itu, semua keributan yang ada di dalam kepalaku perlahan-lahan mulai meredup, kalah sama ramainya notifikasi pesan yang masuk dari temen-temen sehobi. Di dunia teks inilah aku akhirnya bisa menemukan arti kata pulang yang sesungguhnya. Ketika dunia nyata rasanya terlalu menuntut dan menguras habis seluruh energiku, ruang obrolan RP ini justru jadi tempat pelarian yang paling manusiawi buat diriku. Di sini, aku ga perlu pusing mikirin stempel medis atau trauma masa kecil yang bikin drop. Temen-temen di sirkel teks ini menerimaku apa adanya lewat tulisan, menghargai setiap kalimat plot yang aku kirimkan, tanpa pernah peduli dengan bagaimana kondisiku di balik layar.Aku men-scroll layar HP ke atas, membaca ulang chat-chat lama yang seru dan kocak dari mereka. Membaca ketikan random dari sirkel ini selalu berhasil bikin sudut bibirku naik sedikit tanpa dipaksa. Hal-hal kecil kayak gini yang jadi bukti nyata kalau aku ga bener-bener sendirian di dunia yang asing ini. Biarpun fisiknya ga keliatan, tapi kehadiran mereka lewat teks itu kerasa hangat banget buat nahan biar pikiranku ga gampang jatuh lagi ke lubang yang sama. Aku melirik sebentar ke arah tas Nike yang tergantung di balik pintu kamar, di mana jajaran pin hololive sama gantungan kunci Subaru dan Reine di sana seolah ikut nemenin aku melewati masa-masa lelah malam ini. Benda-benda itu kayak ngingetin aku kalau aku masih punya dunia kecil yang menyenangkan buat dijalani setiap harinya.Lama-lama aku sadar kalau komitmen buat tetep mengetik di dunia RP ini, mau mood atau ga mood, adalah sebuah latihan mental yang bagus buat cita-citaku. Perjuangan keras untuk bertahan hidup di dunia nyata yang berat ini ternyata berjalan di atas jalur yang sama dengan perjuangan menyelesaikan tulisan fiksi; dua-duanya butuh usaha keras yang melelahkan, tapi dua-duanya juga butuh tempat istirahat yang tepat agar kita ga hancur di tengah jalan. Malam ini, aku mau bener-bener menutup mata dengan perasaan yang jauh lebih lapang tanpa perlu mikirin lagi omongan buruk orang-orang tentang masa depanku yang bakal suram. Biarlah takdir berjalan dengan ritmenya sendiri, yang penting sekarang aku udah tahu ke mana aku harus pulang buat nyari ketenangan setiap kali dunia luar mulai terasa terlalu berisik untuk dihadapi sendiria.