Bab 4: Dunia di Balik Layar
Hari berikutnya berjalan seperti biasa, datar dan tidak ada yang spesial sama sekali. Langit di luar jendela kamarku kelihatan agak mendung sejak siang, seolah-olah ikut mendukung rasa malas yang sejak pagi tadi menempel erat di tubuhku. Aku masih rebahan di atas kasur busa yang sprei-nya sudah agak lecek karena jarang diganti, memandangi langit-langit kamar yang catnya mulai kusam di beberapa sudut. Di jam-jam seperti ini, dunia nyata biasanya mulai terasa sangat bising dan mengintimidasi. Orang-orang di luar sana sibuk lalu lalang, mengejar target hidup mereka masing-masing dengan tergesa-gesa, sementara aku masih di sini, terjebak di dalam kamar tiga kali tiga meter yang sudah kayak markas rahasiaku sendiri. Aku sempat mikir lagi soal omongan orang-orang kemarin yang bilang kalau aku ini pemalas dan ga punya masa depan yang jelas. Kalau dipikir-pikir lagi pakai logika yang santai, capek juga ya kalau hidup cuma dipake buat dengerin standar orang lain yang ga bakal ada habisnya. Semua tuntutan itu rasanya cuma bikin kepalaku makin pusing, padahal mereka ga pernah tahu apa yang sebenernya lagi aku laluin sendirian di dalam sini.
Aku meraih HP yang tergeletak di samping bantal, menyalakan layarnya yang ada sedikit retakan tipis di pojok bawah akibat tidak sengaja terjatuh minggu lalu. Begitu tombol kunci terbuka, jemariku langsung bergerak refleks membuka aplikasi tanpa perlu berpikir lama lagi. Aplikasi itu sudah kayak pintu gerbang otomatis yang menghubungkan aku dengan duniaku yang lain. Di saat dunia nyata kerasa terlalu berisik, penuh dengan tekanan, dan bikin seluruh energiku habis seketika, dunia teks di dalam HP ini selalu siap menyambutku tanpa banyak menuntut hal-hal yang aneh. Aku melihat beberapa baris obrolan masuk dari sirkel yang sering aku mainin belakangan ini. Ada rasa lega yang langsung mengalir di dadaku tiap kali melihat ketikan mereka muncul di baris atas layar. Di dunia alternatif ini, aku ga perlu pusing mikirin stempel medis skizofrenia atau trauma masa kecil yang kadang masih suka bikin kepalaku pusing. Di sini, aku cuma perlu fokus sama karakter yang aku perankan dan jalinan plot cerita yang mau kita bangun bareng-bareng sore ini agar ceritanya berjalan makin seru.
Aku mulai memantau barisan kalimat dari atas ke bawah, membaca alur yang dikirim sama temen-temen sehobi sejak beberapa jam yang lalu ketika aku masih tertidur. Cara mereka merangkai kata itu seru banget, santai tapi dapet banget ciri khas dari karakternya masing-masing. Sambil membaca satu demi satu paragraf teks, aku memposisikan tubuhku miring ke samping, menyandarkan siku di atas bantal biar tangan ga gampang pegal pas harus mengetik teks yang panjang nanti. Mengetik di dunia alternatif ini emang butuh fokus tersendiri agar alur ceritanya ga melenceng, tapi anehnya, fokus yang ini ga bikin aku stres atau merasa tertekan sama sekali. Ini beda banget sama waktu aku dipaksa buat dengerin omongan orang-orang di rumah yang isi kepalanya cuma bisa nuntut dan menyalahkan keadaanku. Di dunia teks ini, aku punya kendali penuh atas apa yang mau aku sampaikan ke orang lain. Kalau aku merasa lelah atau mendadak bingung ga tahu mau ngetik apa, aku tinggal taruh HP sebentar tanpa perlu takut dihakimi sebagai orang yang ga peka atau pemarah oleh mereka. Temen-temen di sirkel ini selalu paham kalau setiap orang punya kesibukan dan ritmenya masing-masing dalam membalas obrolan.
Sambil memikirkan kelanjutan cerita yang mau aku ketik di kolom teks, mataku sempat melirik ke arah tas kain yang tergantung di balik pintu kamar. Di bawah pencahayaan kamar yang agak temaram karena gorden jendela sengaja ga aku buka penuh, jajaran pin-pin anime dan gantungan kunci fiksi karakter kesukaanku yang menempel di bagian depan tas kelihatan agak berkilau terkena sedikit pantulan cahaya lampu. Melihat karakter fiksi favoritku yang tergantung di sana selalu bisa bikin suasana hatiku agak mendingan di tengah rasa bosan yang melanda. Dinamika persahabatan antar-karakter di dalam dunia fiksi itu kadang suka aku jadiin inspirasi tersendiri pas lagi buntu nyari ide jalan cerita. Benda-benda kecil itu bukan cuma sekadar pajangan mainan buatku, tapi sudah kayak simbol dari zona nyamanku yang paling berharga saat ini. Mereka selalu mengingatkan aku kalau di internet, ada dunia yang sangat luas dan menyenangkan yang bisa aku jelajahi kapan saja aku butuh tempat buat pelarian dari penatnya realitas dunia nyata.