Tempat ku singgah

私はノベルの詩織が好きです
Chapter #5

Langkah pertama



Matahari pagi yang baru terbit sering kali gagal membawa kehangatan yang nyata ke dalam sudut kamar ini. Bagiku, pagi ini terasa berjalan begitu lambat, berputar monoton, dan menjelma menjadi jenis pagi yang sama sekali tidak menguntungkan bagi jiwa yang sedang lelah. Tubuhku rasanya teramat enggan untuk sekadar bergerak dari atas kasur busa yang tipis, seolah-olah seluruh energi di dalam diriku telah menguap habis tanpa sisa, diserap oleh keheningan ruangan yang mencekam. Sambil terus merebahkan tubuh yang masih terasa sangat berat di atas tempat tidur lecek ini, aku perlahan meraih ponsel pintar yang tergeletak pasrah di dekat bantal. Di tengah rasa malas dan kejenuhan yang menggelayut pekat di dalam kepala, sebuah pertanyaan mendadak melintas begitu saja di dalam benakku mengenai apa yang sedang dilakukan oleh teman-teman sirkelku jam segini. Aku menatap layar ponsel yang menyala dengan rasa curiga yang cukup kuat, menebak bahwa mereka pasti sedang meributkan sesuatu hal yang tidak penting lagi di luar sana. Tuntutan hari baru yang melelahkan membuatku ingin terus bersembunyi di sini, mengabaikan dunia nyata yang berjalan terlalu cepat dan egois meninggalkan orang-orang yang lumpuh sepertiku.


Dugaanku ternyata tidak meleset sama sekali karena mereka memang kadang-kadang suka berantem tidak jelas kalau pagi hari baru saja dimulai. Begitu aku membuka aplikasi obrolan teks di layar HP, ruang digital itu langsung dipenuhi oleh ratusan notifikasi yang menumpuk sejak subuh buta. Banyak sekali baris pesan yang menandai namaku dari mereka yang saling mengadu, berdebat kusir, serta menyalahkan satu sama lain atas hal-hal yang sebenarnya sangat sepele bagi orang biasa. Aku mencoba membaca barisan teks yang saling bersahutan itu dari atas ke bawah secara perlahan, berniat menimbang dan mencari tahu siapa sebenarnya yang berada di pihak yang benar di antara mereka semua. Namun, setelah kuperhatikan baik-baik jalinan kalimat yang mereka ketik dengan penuh emosi itu, yang bener yang mana, padahal salah dua-duanya, ahahaha. Sebuah tawa kecil akhirnya lolos begitu saja dari sela-sela bibirku, meruntuhkan ketegangan pagi yang sejak tadi mengungkungku sendirian di dalam kesunyian kamar ini. Orang-orang gila, batinku hangat melihat kelakuan absurd mereka yang selalu punya cara acak untuk merusak keheningan pagi dengan keributan yang kekanak-kanakan namun entah kenapa terasa menghibur.


Tapi ya, di balik semua tingkah ajaib, kejengkelan, dan keributan konyol yang mereka perbuat di ruang chat, ada satu kenyataan hangat yang mendekap dadaku dengan sangat erat. Kalau ga ada mereka di hidupku saat ini, aku ga akan pernah ada di sini hari ini untuk menyaksikan dunia berputar. Kamar sepi yang pengap ini mungkin sudah menjadi saksi bisu dari akhir kisah hidupku yang menyedihkan sejak beberapa waktu lalu ketika putus asa melanda. Yang paling kuingat dari masa-masa kelam yang penuh penderitaan itu adalah saat di mana aku harus terpaksa menjalani hari dalam keputusasaan yang mencekik, terpaksa bernapas karena jantung masih bekerja, dan terpaksa berjalan tanpa arah karena ga ada tujuan hidup sama sekali di dalam kepala. Jiwaku lumpuh total dan kompas di dalam diriku rasanya sudah patah menjadi serpihan kecil akibat beban ekspektasi orang lain yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Tapi, kalian datang tanpa diundang ke dalam duniaku yang hancur, seolah-olah mencengkeram pundakku dengan paksa untuk memiliki lembaran baru dan menuntutku untuk terus hidup dengan lebih baik lagi dari sebelumnya. Dengan kesabaran yang luar biasa dari balik layar, kalian memungut serpihan-serpihan jiwaku yang lama runtuh, lalu menyusunnya kembali menjadi sebuah pelindung yang baru di dalam hati ini.


Momen-momen kebersamaan yang terjalin lewat ketikan teks itu akhirnya menyadarkanku akan sebuah rahasia hidup, bahwa sebuah keluarga tak harus selalu sedarah atau terikat oleh garis keturunan yang sama. Sebuah kehangatan, perlindungan, dan rasa aman yang utuh, adakalanya bisa juga diambil dan ditemukan dari sebuah hubungan pertemanan yang tulus di dalam dunia alternatif yang kami bangun bersama. Aku awalnya memang benar-benar ingin mati, menyerah pada takdir yang kurasa terlalu kejam dan tidak adil untuk kuhadapi seorang diri tanpa ada tempat bersandar. Namun, melihat bagaimana kondisi diriku yang perlahan-lahan mulai berubah ke arah yang lebih baik sejak kehadiran mereka di dalam keseharianku, aku membulatkan tekad untuk mengurungkan niat buruk itu. Aku memilih untuk tetap bertahan hidup sedikit lebih lama lagi di dunia ini, hanya untuk melihat sampai kapan orang-orang aneh ini mau menemaniku. Di kamar yang kini tidak lagi terasa mencekam seperti peti mati yang dingin, sebuah cita-cita baru mendadak mekar dengan begitu kuat di dalam kepalaku, di mana aku bercita-cita menjadi sang pembohong hebat alias seorang penulis fiksi.

Lihat selengkapnya