Di saat aku ingin tenang.... Tiba-tiba... Notifikasi ku penuh ternyata group kedatangan orang gatau roleplay... Itu biasa buat ku. Tapi yang bikin gedek, anak baru ini kelakuannya dari awal masuk udah nyolot banget dan sok tahu di depan kami semua. Dia mengirimkan deretan kalimat ketikan yang penuh dengan kesombongan, menantang isi grup, dan merusak atmosfer rumah tenang yang sudah kami bangun dengan susah payah di balik layar ini. Melihat kelakuan manusia ga peka yang tiba-tiba merangsek masuk dan bertingkah seenak jidatnya sendiri membuat emosiku yang tadinya stabil langsung tersulut seketika. Sialan, dia bener-bener salah milih tempat buat cari gara-gara kalau niatnya mau nyari ribut di sirkel teks kami. Kamar kecilku yang berukuran tiga kali tiga meter yang biasanya menjadi pelabuhan sunyi tempatku menenangkan pikiran mendadak terasa ikut memanas karena rentetan getaran ponsel yang tidak ada habisnya. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan pening yang mulai merayap di pelipis akibat suara notifikasi yang saling bersahutan tanpa henti, merusak kedamaian malam yang sudah susah payah kupertahankan dari riuhnya dunia nyata.
Kami semua di dalam sirkel teks ini tidak membutuhkan dialog langsung atau kata-kata makian kasar di luar karakter untuk menghadapi manusia jenis begini. Tanpa perlu ada obrolan langsung yang membuang-buang energi, kami semua langsung bergerak serentak secara kompak dari balik layar gawai masing-masing. Jari-jariku yang tadinya mulai lelah dan pegal karena memegang tablet langsung menari dengan kecepatan penuh di atas papan ketik virtual, menyusun rencana pembalasan yang rapi di dalam plot fiksi. Kami mulai menjebak karakter milik anggota baru itu di dalam alur cerita, mengurungnya di sudut cerita fiksi yang paling gelap, dan mulai menyiksanya lewat narasi-narasi puitis yang kejam namun tertata rapi. Setiap ketukan jemariku di atas layar sentuh yang hangat malam ini kerasa memuaskan banget, meluapkan seluruh rasa kesal atas gangguan egois yang dia bawa ke dalam zona nyaman kami. Skenario fiksi yang kami susun bersama bergulir dengan sangat cepat, menjerat setiap pergerakan akun baru tersebut hingga dia tidak memiliki celah sedikit pun untuk membela diri di dalam teks alur yang kami lempar secara bertubi-tubi.
Melihat karakternya yang buntu dan ga bisa berkutik sama sekali di dalam draf plot yang kami buat membuat sudut bibirku refleks naik sedikit, membentuk senyuman tipis yang kerasa agak aneh dan freak jahat di tengah remangnya kamar. Di dalam hati, aku cuma membatin satu kalimat puitis yang bernada ejekan santai untuk manusia nyolot itu: I'm not cruel~, we just want to play~. Kami ga berniat jahat sama sekali, kami cuma mau bermain-main sebentar dengan caraku sendiri yang agak ugal-ugalan dan sedikit menyiksa jiwanya lewat ketikan fiksi, wleee! Peduli apa aku kalau dia ngerasa frustrasi atau kebingungan menghadapi balasan teks kami yang bertubi-tubi tanpa ampun dari berbagai arah akun. Siapa suruh berani masuk ke dalam rumah kami tanpa etika dan merusak ketenangan tempat jiwaku biasa pulang untuk beristirahat. Biarlah dia merasakan sendiri bagaimana rasanya dikepung oleh orang-orang yang menguasai seni merangkai kata, membuat karakternya hancur berkeping-keping di dalam plot fiksi tanpa kami harus mengucapkan satu pun kata kasar di dunia nyata.
Proses penyiksaan plot yang berjalan tanpa satu pun dialog langsung ini bener-bener menguras habis sisa-sisa energi karakter barunya sampai dia ga berkutik lagi di dalam room chat. Setelah dilelahkan oleh kepungan narasi kejam dari sirkel kami, anggota baru itu akhirnya menyerah kalah dan tidak berani lagi mengirimkan ketikan nyolot di dalam grup. Kamar tiga kali tiga meter milikku kembali tenggelam ke dalam kesunyian yang hangat setelah gangguan luar itu berhasil kami singkirkan dengan kompak dari balik layar HP. Dada gua rasanya udah jauh lebih lapang malam ini karena berhasil melindungi zona nyamanku sendiri dengan cara yang paling tengil dan ugal-ugalan. Aku mematikan sisa cahaya biru ponsel dengan puas, meletakkannya di dekat bantal, dan bersiap tidur dengan perasaan damai karena tahu rumah alternatif ini akan selalu aman terjaga selama kami semua tetap bersatu di dalam duniaku sendiri. Pelajaran malam ini membuktikan bahwa siapa pun yang berani mengusik ketenangan rumah kami, harus siap menanggung akibatnya di dalam dunia teks yang kami kendalikan sepenuhnya.
Ketenangan yang kembali merayap di dalam ruangan ini membuatku bisa melihat layar gawai dengan perasaan yang jauh lebih santai dari sebelumnya. Aku menyandarkan punggungku ke tumpukan bantal lecek di pojok kasur, menikmati sisa malam yang kini terasa sangat berharga setelah badai kecil di ruang chat berhasil kami redam bersama. Memandangi sisa teks plot penyiksaan yang masih terpampang di layar membuatku sadar betapa kompaknya orang-orang di dalam sirkel digital ini ketika ada hal asing yang mencoba merusak kedamaian kami. Kami tidak perlu saling melempar perintah di dunia nyata untuk bergerak bersama; insting kami sudah terlatih secara otomatis untuk menjaga keutuhan rumah fiksi ini dari gangguan luar. Rasa kebersamaan yang unik ini yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang-orang normal di luar sana yang selalu menganggap remeh hobi mengetik teks kami.