Tempat ku singgah

私はノベルの詩織が好きです
Chapter #7

Memories

Lagu Penjaga Hati yang melantunkan bait bergema sampai selamanya mendadak terngiang kembali di dalam kepalaku, memecah keheningan malam yang mulai terasa sunyi. Musik itu seolah membawa gelombang memori lama yang berputar otomatis di dalam ingatan, membuatku terdiam menatap layar gawai yang masih menyala redup di atas kasur. Memories? Judul itu sengaja kuberi tanda tanya di ujungnya, karena kadang aku sendiri bingung harus menyikapi kenangan masa lalu dengan cara seperti apa. Ada bagian dari memori itu yang terasa teramat perih sampai membuat dadaku sesak, seperti trauma masa kecil saat ditinggalkan sendirian yang sampai sekarang belum sepenuhnya sembuh. Tapi di sisi lain, ingatan tentang bagaimana sirkel teks alternatif ini mendobrak pintuku dan memaksaku buat tetap bertahan hidup adalah bagian memori terbaik yang akan selalu kusimpan erat-eratnya di dalam hati, wleee!


Aku membetulkan posisi tidurnya sambil memandangi jajaran pin fiksi yang tergantung diam di balik pintu kamar, membiarkan pikiranku hanyut dalam melodi puitis yang terus bergema di dalam isi kepala. Penilaian buruk orang-orang sekitar yang bilang masa depanku bakal suram atau hancur cuma karena kondisiku yang sekarang mendadak terasa ga penting lagi buat dipikirin. Peduli apa aku sama semua bacotan kaku mereka yang ga pernah mau tahu seberapa kerasnya perjuangan yang harus kulalui sendirian di kamar tiga kali tiga meter ini. Kenangan-kenangan manis bersama teman-teman sehobi lewat ketikan teks di dalam room chat justru menjadi tameng terkuat yang menjaga seluruh kewarasanku tetap utuh dari kepungan halusinasi skizofrenia yang kadang masih suka datang menyerang kalau aku lagi kelelahan ekstrem.


Melihat barisan draf tulisan yang sudah berhasil kuselesaikan sampai bab ketujuh ini membuat sebuah senyuman tengil yang tulus perlahan terukir di sudut bibirku. Semua waktu yang kuhabiskan buat bolak-balik menyalin naskah, membuka grup obrolan, dan menatap layar tablet yang hangat sepanjang sore ini rasanya bener-bener kebayar lunas tanpa sisa. Aku tahu perjalanan hidupku ke depan mungkin ga bakal pernah bisa berjalan mulus atau rata kayak orang-orang normal di luar sana, tapi aku milih buat bawa santai aja deh ah ga usah dibikin ribet. Selama lagu kebersamaan kami tetap bergema sampai selamanya di dalam dada, aku tahu aku selalu memiliki alasan yang teramat kuat buat terus melangkah maju menjalani hari demi hari dengan ritmuku sendiri, karena di dunia teks fiksi ini, aku sudah menemukan rumah sejati tempat jiwaku bisa pulang dan beristirahat dalam damai.


Terkadang, kalau dipikir-pikir lagi pakai logika yang kasual, memori itu emang punya cara kerja yang aneh banget di dalam otak kita. Dia bisa mendadak muncul pas suasana lagi sepi-sepinya, membawa kembali semua rekaman kejadian masa lalu tanpa permisi sama sekali. Ada malam-malam di mana memori buruk tentang masa kecil yang sepi justru datang mengepungku, membuat kamar berukuran tiga kali tiga meter ini kerasa makin sempit kayak peti mati yang dingin. Rasa takut ditinggalin sendirian seperti dulu itu emang jadi musuh terbesar yang paling susah dikalahin dari dalam kepala. Tapi untungnya, semenjak aku kenal sama sirkel teks di internet ini, memori buruk itu pelan-pelan mulai tergeser sama ramainya ketikan plot cerita konyol yang kami bikin bareng tiap hari sore menjelang malam.


Interaksi santai lewat ketikan fiksi tanpa perlu ada tatap muka langsung ini yang anehnya malah kerasa jauh lebih jujur dan nyata secara emosi buat diriku. Temen-temen di sirkel alternatif ini ga pernah menuntutku buat keliatan hebat atau sukses di mata mereka, ga kayak orang-orang di dunia nyata yang isi kepalanya cuma bisa nuntut doang tanpa mau tahu apa yang sebenernya lagi aku laluin. Di balik layar HP dan tablet yang hangat ini, aku dikasih kebebasan penuh buat jadi manusia biasa yang boleh ngerasa lelah tanpa perlu dicap sebagai pemalas atau pemarah. Rasa aman yang langka kayak gini yang bikin aku selalu pengen buru-buru buka draf obrolan tiap kali duniaku mulai kerasa terlalu berisik dan bikin seluruh energiku habis seketika.


Makin ke sini, aku juga mulai sadar kalau proses maraton ngetik naskah novel fiksi ini secara ga langsung melatih mentalku buat belajar konsisten menghadapi keadaan, mau mood atau ga mood. Perjuangan keras buat tetep bertahan hidup menghadapi kepungan skizofrenia di dunia nyata, dan perjuangan menyelesaikan baris kalimat di dunia teks fiksi, ternyata berjalan di atas satu jalur yang sama. Dua-duanya butuh usaha keras yang melelahkan, tapi dua-duanya juga butuh tempat istirahat yang tepat biar jiwaku ga gampang hancur di tengah jalan sebelum mencapai garis finish. Makanya, biar tangan udah mulai pegal dan jempol rasanya mau kaku semua karena bolak-balik salin-tempel pake dua perangkat sekaligus, aku tetep milih buat gaspol terus nyelesaiin bab demi bab naskah ini sampai tuntas.


Sebelum bener-bener mematikan semua perangkat gawai ini buat bersiap tidur, aku menyempatkan diri buat nge-scroll lagi chat-chat lama yang seru dari temen-temen sehobi di grup obrolan. Membaca ulang ketikan random mereka selalu sukses bikin sudut bibirku naik sedikit tanpa perlu dipaksa, menjadi bukti nyata kalau suara-suara indah itu bakal tetep bergema sampai selamanya di dalam ingatan untuk ngejaga kewarasanku tetep utuh. Malam ini aku mau bener-bener menutup mata dengan perasaan yang jauh lebih tenang, damai, dan lapang dari hari kemarin tanpa perlu mencemaskan omongan kaku orang lain lagi. Biarlah masa depan berjalan dengan ritmenya sendiri yang misterius; yang penting malam ini aku tahu kalau aku selalu punya ruang alternatif yang aman dan sirkel teks yang siap menjagaku kapan saja aku butuh tempat buat pulang dan beristirahat dalam damai di dalam rumah fiksi kami Aku kembali membetulkan posisi tidurku, menatap langit-langit kamar yang tampak makin temaram seiring berjalannya waktu malam yang dingin. Lagu Penjaga Hati yang melantunkan bait indah tentang bergema sampai selamanya itu bener-bener kayak berputar otomatis tanpa henti di dalam kepalaku, menciptakan suasana yang magis sekaligus sedikit selengean di dalam ruangan kecil ini. Kadang aku mikir, sebuah lagu itu emang punya kekuatan yang aneh banget buat ngaduk-ngaduk isi kepala manusia yang lagi lelah. Dia bisa mendadak ngingetin kita sama hal-hal yang pengen kita lupain, tapi di sisi lain, melodi alternatif itu juga bisa jadi pelindung paling ampuh buat mengusir semua suara-suara bising akibat halusinasi skizofrenia yang kadang suka datang menyerang kalau aku lagi kecapekan ekstrem. Di saat orang-orang di dunia nyata sibuk memberikan nasihat kaku yang malah bikin kepalaku makin penuh dan pusing, lirik puitis dari playlist andalanku ini justru bisa bikin aku tenang cuma lewat alunannya yang mengalir santai tanpa banyak menuntut, wleee!


Mendengarkan musik sambil maraton ngetik naskah fiksi di draf HP dan tablet ini lambat laun kurasakan sebagai sebuah kombinasi pelarian yang paling epik buat menjaga sisa-sisa kewarasanku tetep utuh. Aku ga perlu merasa tertekan atau cemas lagi mikirin omongan orang-orang sekitar yang bilang masa depanku bakal buruk atau suram cuma karena aku jarang keluar kamar. Peduli apa aku sama standar kesuksesan mereka yang kaku itu, emangnya mereka tahu seberapa kerasnya perang batin yang harus aku lalui sendirian di kamar tiga kali tiga meter ini tiap detiknya? Mending aku bawa santai aja deh ah ga usah dibikin ribet, fokus membelah malam bersama ketikan teks plot fiksi dan alunan lagu yang selalu setia menemani setiap ketukan jemariku di atas layar sentuh yang hangat ini. Proses bolak-balik menyalin naskah, membuka grup obrolan, sampai tangan rasanya mau kaku semua karena megangin dua gawai sekaligus malam ini murni kuanggap sebagai sebuah perjuangan jujur yang teramat memuaskan buat jiwaku.


Lihat selengkapnya