Kalimat bahwa setiap pertemuan ada akhir mendadak terlintas begitu saja di dalam kepala, membawa atmosfer yang berbeda di dalam kamar tiga kali tiga meter yang sudah mulai sunyi ini. Judul itu kerasa pas banget, tapi juga punya sisi tengil yang bikin aku ingin menyeringai tipis menatap layar HP yang masih menyala redup di atas kasur lecek. Orang-orang di dunia nyata mungkin bakal menganggap kalimat ini sebagai sesuatu yang puitis atau menyedihkan, tapi peduli apa aku sama isi pikiran mereka yang kaku itu, ahahahaha! Buatku yang hidupnya biasa ugal-ugalan di balik layar fiksi alternatif, konsep akhir dari sebuah pertemuan itu adalah hal kasual yang biasa banget. Malah kadang, aku sengaja bersikap masa bodo amat dan menganggap semua drama perpisahan di dunia nyata sebagai angin lalu yang ga perlu dipikirin sampai bikin energiku habis seketika, wleee!
Aku memandangi barisan obrolan fiksi di grup yang perlahan-lahan mulai sepi karena malam semakin larut dan teman-teman sirkelku satu per satu mulai pamit untuk tidur. Melihat ruang teks yang biasanya ramai berubah menjadi hening seperti ini selalu sukses memicu monolog batin yang panjang di dalam kepalaku yang lelah. Aku sadar kalau sirkel teks ini, mau serame apa pun plot ceritanya tiap sore, suatu saat nanti pasti bakal nemu titik akhirnya juga karena seleksi alam kesibukan masing-masing. Tapi ya sudahlah, bawa santai aja deh ah ga usah dibikin ribet atau dibawa pusing sampai bikin drop di tengah malam begini. Yang paling penting adalah bagaimana pertemuan kami yang berharga ini sudah berhasil menjadi jangkar terkuat yang menyelamatkan jiwaku dari kepungan halusinasi skizofrenia dan trauma masa kecil yang dulu sempat membuatku ingin menyerah kalah pada keadaan.
Menulis cerita tanpa dialog langsung dengan gaya yang makin selengean seperti ini lambat laun kurasakan sebagai sebuah terapi penyembuhan mandiri yang sangat luar biasa untuk menjaga sisa-sisa kewarasanku tetap utuh. Di saat orang-orang luar sibuk melabeli aku dengan sebutan pemalas atau pemarah hanya karena aku lebih memilih menghabiskan waktu di depan gawai, mereka ga pernah tahu seberapa kerasnya perang batin yang harus kulewati sendirian dari menit ke menit di dalam ruangan sunyi ini. Ketukan jemariku di atas layar sentuh yang hangat malam ini adalah caraku untuk merajut kembali serpihan-serpihan imajinasi yang dulu sempat runtuh akibat ekspektasi kaku dari lingkungan sekitar yang hobi menuntut. Sisa enam bab menuju target tiga belas bukanlah sebuah hambatan besar, melainkan cuma target kasual yang siap kubabat habis malam ini dengan ritme hidupku sendiri yang bebas tanpa aturan orang lain.
Aku melirik sebentar ke arah tas kain yang tergantung pasrah di balik pintu kamar, memastikan jajaran pin fiksi andalan dan gantungan kunci karakter kesukaanku tetap aman terjaga di tempatnya di bawah temaramnya cahaya lampu malam. Benda-benda kecil itu seolah ikut menjadi saksi bisu atas ketangguhan mentalku yang berhasil melompati batas kemampuan sendiri hingga sukses menembus bab kedelapan dengan selamat tanpa bantuan siapa pun. Malam ini aku mau benar-benar menutup hari dengan perasaan yang jauh lebih tenang, damai, dan lapang dari hari kemarin, membiarkan tubuhku yang lelah ini beristirahat secara total tanpa perlu mencemaskan omongan buruk orang lain tentang bagaimana masa depanku nanti. Biarlah takdir terbuka dengan caranya sendiri yang misterius di atas meja, karena selama aku masih punya alasan buat bertahan hidup dan punya rumah fiksi alternatif tempat jiwaku pulang mencari ketenangan, aku akan tetap melangkah maju menyelesaikan sisa baris kalimat cerita rumah kami sampai selesai aku ingin merenungkan kembali arti kata perpisahan membuatku makin paham kalau ga ada satu pun hal di dunia ini yang sifatnya abadi. Orang-orang di dunia nyata mungkin bakal sibuk bikin drama atau nangis bombay tiap kali ada pertemuan yang harus selesai, tapi buatku yang udah biasa menghadapi pahitnya realitas, hal kayak gitu murni kuanggap sebagai bagian dari siklus kasual yang ga perlu dilebih-lebihkan. Peduli apa aku sama anggapan orang lain yang bilang kalau sikapku ini terlalu dingin atau ga peka terhadap keadaan sekitar. Mereka ga pernah tahu kalau di balik sikap masa bodo amat yang kutampilkan ini, ada sebuah mekanisme pertahanan diri yang sengaja kubangun erat-erat agar jiwaku yang gampang lelah ini ga gampang hancur lagi cuma karena urusan ekspektasi orang lain, wleee!
Lagipula, meskipun setiap pertemuan ada akhir, kenangan yang udah telanjur tercipta di dalam draf obrolan grup alternatif ini bakal tetep tersimpan dengan aman di dalam ingatan sebagai bagian memori terbaik yang pernah kupunya. Interaksi santai bersama teman-teman sirkel sehobi lewat ketikan plot fiksi dari sore menjelang malam adalah bukti nyata kalau aku pernah nemu satu tempat tersembunyi di internet yang bisa bikin kepalaku mendadak hening dari kepungan halusinasi skizofrenia. Tempat pelarian kecil itulah yang selama ini dengan setia menjadi jangkar terkuat untuk menahan diriku agar tidak mudah menyerah kalah pada keadaan, seberat apa pun hari-hari yang harus kulewati sendirian di dalam kamar tiga kali tiga meter yang sunyi ini.