Layar tablet di genggamanku mendadak berkedip, menampilkan peringatan baterai lemah yang membuatku langsung panik di tengah remangnya kamar. Sialan, di saat kepalaku lagi panas-panasnya dapet ide dan angka kata di dasbor Kwikku lagi melesat gemuk, perangkat gawai ini malah mau mati kehabisan daya. Aku langsung bergerak ugal-ugalan mencari kabel pengisi daya di sela-selas kasur busa yang lecek, mencoba berpacu dengan sisa waktu sebelum layar sentuh ini hitam total dan memutus duniaku secara paksa. Perjuangan bolak-balik menyalin naskah malam ini bener-bener dapet bumbu drama kepanikan yang bikin jantungku berdegup kasual, tapi ya sudahlah, bawa santai aja deh ah ga usah dibikin pusing, wleee! Peduli apa aku sama gawai yang mau mati, selama jempolku masih bisa bergerak cepat mengetik baris kalimat di sisa daya yang ada, aku bakal tetep stay di depan layar buat ngamanin bab kesembilan ini sampai tuntas tanpa ampun.
Kepanikan kecil ini anehnya malah bikin fokus kepalaku jadi makin tajam dan menjauhkan diriku dari kepungan halusinasi skizofrenia yang biasanya suka merayap masuk kalau malam mulai larut. Di saat orang-orang luar sibuk menuntutku buat cepet sukses atau melabeli aku sebagai manusia pemalas yang ga punya masa depan, di sini aku lagi bertaruh sama waktu demi menyelamatkan draf cerita rumah fiksi kami. Kamar tiga kali tiga meter yang sunyi ini mendadak terasa kayak medan pertempuran yang sibuk, penuh dengan ketukan konstan jemariku yang memburu di atas papan ketik virtual gawai yang mulai menghangat. Ruang obrolan alternatif di internet yang menjadi pelabuhan terakhir tempat jiwaku biasa pulang mencari ketenangan malam ini sengaja ga kubuka dulu, karena seluruh energiku harus fokus kutumpahkan ke dalam barisan narasi non-dialog ini agar target minimal kompetisi bisa segera aman dari kurasi sistem.
Aku menarik napas dalam-dalam, menatap persentase baterai yang semakin menipis di pojok atas layar dengan tatapan tengil yang masa bodo amat. Mau mati sekarang atau nanti, yang penting malam ini aku udah berhasil melompati batas kemampuanku sendiri dengan sangat tangguh hingga sukses menginjakkan kaki di bab kesembilan tanpa bantuan siapa pun di dunia nyata. Trauma masa kecil saat ditinggalkan sendirian atau rasa takut akan pengabaian lingkungan sekitar mendadak luntur ga berbekas, kalah sama adrenalin menulis yang lagi membakar semangat di dalam dadaku. Selama aku masih punya caraku sendiri buat bertahan hidup dan punya benteng pertahanan fiksi yang kuat di balik gawai retak ini, aku ga bakal pernah menyerah kalah pada keadaan, seberat apa pun hari-hari yang harus kulewati ke depan sendirian di dalam kesunyian rumah ini.
Jari-jariku yang mulai terasa kaku dan gemetaran karena dipaksa bergerak secepat kilat akhirnya bisa bernapas lega begitu melihat paragraf terakhir bab ini selesai kurangkai dengan selamat sebelum layar benar-benar padam. Aku meletakkan tablet yang sudah sekarat itu dengan penuh kehati-hatian di atas meja kecil tepat di samping tempat tidur lecekku, lalu selonjoran dengan nyaman di atas kasur sambil memandangi jajaran pin fiksi yang tergantung diam di balik pintu kamar. Dada gua rasanya bener-bener lapang dan puas banget malam ini karena berhasil memenangkan pertarungan melawan sisa waktu dan rasa lelah fisik yang mendera seluruh tubuh sejak sore tadi. Sekarang aku mau bener-bener menutup mata buat tidur nyenyak, mengistirahatkan pikiran yang lelah berproses, karena aku tahu persis kalau aku selalu punya ruang alternatif yang aman dan tulus sebagai tempat peristirahatan terbaik bagi jiwaku yang lelah.