Dunia di sekitar ruangan tunggu bandara ini rasanya berjalan begitu cepat, asing, and bising, sangat kontras dengan diriku yang masih sibuk menatap layar gawai yang mulai terasa hangat di telapak tangan. Suara pengumuman jadwal keberangkatan pesawat sesekali menggema keras lewat pelantang suara langit-langit, berbaur dengan derap langkah kaki orang-orang asing yang lalu lalang mengejar jadwal penerbangan mereka masing-masing dengan tergesa-gesa. Di sela-sela riuhnya suasana terminal malam ini, fokus kepalaku murni tertuju pada draf menulis yang masih menyisakan beberapa bab lagi menuju target akhir tiga belas bab tamat. Waktu yang terus berjalan mendekati jam sebelas malam menjadi tantangan kasual yang siap kubabat habis satu per satu dengan caraku sendiri yang ugal-ugalan tanpa perlu memedulikan rasa kantuk yang mulai menyerang. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan rasa pegal yang menjalar di pergelangan tangan and jempol yang mulai kaku karena dipaksa bolak-balik menyalin naskah sejak sore hari tadi. Peduli apa aku dengan rasa capek fisik yang mendera seluruh tubuh,
Menulis cerita dengan gaya monolog batin tanpa dialog langsung kayak gini ternyata benar-benar menjelma menjadi perisai terkuat yang melindungiku dari kepungan kecemasan and riuhnya lingkungan sekitar bandara. Di saat orang-orang luar mungkin mengira aku cuma anak muda biasa yang membuang-buang waktu dengan menatap layar HP and tablet secara bergantian sepanjang malam, mereka ga pernah tahu seberapa kerasnya perjuangan jiwa yang sedang berjalan di dalam sini. Proses kreatif ini lambat laun kuakui sebagai sebuah bentuk terapi penyembuhan mandiri yang sangat luar biasa untuk menjaga sisa-sisa kewarasanku tetap kokoh memijak bumi yang sama dengan mereka. Aku memilih buat bawa santai aja deh ah ga usah dibikin drama puitis yang lebay atau dipikirin terlalu dalam sampai bikin energiku habis seketika di tengah malam. Biarlah orang lain sibuk melabeli aku dengan kata pemalas atau pemarah, kenyataannya malam ini aku berhasil membuktikan kalau aku punya mental penulis yang tangguh and sanggup melompati batas kemampuanku sendiri demi menyelesaikan draf novel fiksi rumah kami sampai tamat secara lengkap.
Ketenangan kasual yang kurasakan saat menulis bab ini menjadi bukti nyata kalau aku punya kendali penuh atas lembaran hidupku sendiri tanpa perlu mendengarkan semua bacotan kaku dari lingkungan luar yang hobi menghakimi. Menatap tas kain yang tergeletak di samping kursi tunggu bandara, di mana jajaran pin fiksi andalan and gantungan kunci karakter kesukaanku terpasang manis di sana, seolah ikut memberikan kekuatan tambahan buatku menyelesaikan baris-baris kalimat terakhir malam ini. Benda-benda kecil itu selalu mengingatkan aku kalau di internet, ada sebuah dunia alternatif yang sangat luas and menyenangkan tempat jiwaku bisa bebas bernapas menjadi manusia biasa pada umumnya tanpa perlu memakai topeng kepalsuan. Aku memilih buat bersikap bodo amat saja deh ah ga usah dibawa ribet, membiarkan imajinasiku terbang bebas membangun dunia fiksi yang indah bersama teman-teman sirkel teks yang selalu setia menuruti ritme ketikanku tiap sore menjelang malam. Sisa bab yang ada tidak akan kubiarkan menggantung begitu saja, melainkan akan kujadikan bukti bahwa seonggok tubuh yang sempat kehilangan arah ini bisa berdiri tegak menyelesaikan tanggung jawabnya sampai akhir, ahahahaha! Merenungkan kembali angka total kata yang sudah berhasil kutembus malam ini membuatku ingin menyeringai tengil menatap layar gawai yang mulai terasa panas di genggaman. Siapa yang menyangka kalau anak muda yang sering mereka cap tidak punya masa depan ini bisa ugal-ugalan merangkai kalimat sebanyak ini di tengah ramainya terminal keberangkatan bandara. Perjuangan bolak-balik menyalin naskah, membuka tab pencarian, sampai pergelangan tangan rasanya mau patah murni kujadikan trofi kecil kalau mentalku ga selemah yang orang-orang luar kira, wleee! Peduli apa aku sama pandangan kaku mereka yang hobinya cuma bisa menuntut, emangnya omongan buruk mereka bisa menjamin kebahagiaanku atau ngasih aku makan tiap hari, ahahahaha! Mending aku bawa santai aja deh ah ga usah dibikin ribet, fokus memanfaatkan sisa daya baterai yang semakin menipis kritis demi mengamankan posisi draf ceritaku di dalam platform kompetisi sebelum jam sebelas malam tiba.
Kondisi kepalaku yang sering kali riuh akibat kepungan skizofrenia and trauma masa kecil yang belum sepenuhnya sembuh anehnya malah mendadak hening total karena adrenalin menulis yang lagi membakar semangat di dalam dada. Di ruang alternatif yang sengaja kubangun bersama teman-teman sirkel teks di internet, aku tidak lagi perlu merasa ketakutan akan arti sebuah pengabaian atau perpisahan yang kaku. Mengetik paragraf demi paragraf non-dialog dengan gaya yang makin selengean seperti ini lambat laun kurasakan sebagai sebuah bentuk katarsis paling murni buat menjaga sisa-sisa kewarasanku tetap utuh memijak bumi. Aku tahu jalanku mungkin ga bakal pernah bisa sama rata dengan jalan hidup orang normal di luar sana, tapi aku milih buat bersikap bodo amat and menikmati setiap ketukan jemariku sebagai pembuktian bahwa aku bisa berdiri tegak menyelesaikan tanggung jawab ceritaku sendiri sampai tuntas tanpa ampun.