Tempat ku singgah

私はノベルの詩織が好きです
Chapter #11

Pelabuhan terakhir

Lampu-lampu sorot di area luar bandara yang menembus kaca jendela besar menciptakan pantulan cahaya samar di atas permukaan layar gawai retakku. Memasuki bab kesebelas ini membuat perasaan di dalam rongga dadaku mendadak terasa jauh lebih lapang sekaligus penuh dengan rasa puas yang mendalam. Perjuangan membelah malam ditemani alunan melodi puitis dari playlist andalanku terbukti sukses mengusir semua gangguan halusinasi skizofrenia yang biasanya suka merayap masuk ke dalam kepala kalau aku lagi kelelahan ekstrem. Aku memposisikan tubuh duduk bersandar dengan santai di kursi tunggu, menatap barisan paragraf yang mengalir ke bawah dengan gaya bahasa yang makin tengil dan masa bodo amat terhadap omongan buruk orang lain. Trauma masa kecil saat ditinggalkan sendirian atau ketakutan akan pengabaian lingkungan sekitar kini murni kuanggap sebagai bagian masa lalu yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi buat mengatur bagaimana arah masa depanku akan berjalan nanti.


Dunia teks alternatif di internet yang kutemukan bersama teman-teman sirkel sehobi bener-bener sudah menjadi pelabuhan terakhir tempat jiwaku bisa selalu pulang mencari ketenangan sejati tanpa syarat yang merepotkan. Di dalam ruang obrolan virtual itu, keberadaanku dihargai murni karena tulisan fiksi yang kubuat, bukan karena stempel medis atau penilaian kaku dari orang-orang sekitar yang hobi menuntut hal-hal di luar batasan kemampuanku. Ketukan konstan jemariku di atas papan ketik virtual malam ini adalah caraku untuk merajut kembali serpihan imajinasi yang sempat hancur lebur akibat tekanan realitas dunia nyata yang terlalu kejam. Biarlah takdir bergulir dengan caranya sendiri yang misterius di atas meja, yang terpenting sekarang aku tahu kalau aku selalu punya benteng pertahanan fiksi yang kuat buat berlindung setiap kali duniaku mulai terasa terlalu berisik dan menguras seluruh daya hidupku dari menit ke menit.


Merenungkan kembali angka total kata yang sudah berhasil kutembus malam ini membuatku ingin menyeringai tengil menatap layar gawai yang mulai terasa panas di genggaman. Siapa yang menyangka kalau anak muda yang sering mereka cap tidak punya masa depan ini bisa ugal-ugalan merangkai kalimat sebanyak ini di tengah ramainya terminal keberangkatan bandara. Perjuangan bolak-balik menyalin naskah, membuka tab pencarian, sampai pergelangan tangan rasanya mau patah murni kujadikan trofi kecil kalau mentalku ga selemah yang orang-orang luar kira, wleee! Peduli apa aku sama pandangan kaku mereka yang hobinya cuma bisa menuntut, emangnya omongan buruk mereka bisa menjamin kebahagiaanku atau ngasih aku makan tiap hari, ahahahaha! Mending aku bawa santai aja deh ah ga usah dibikin ribet, fokus memanfaatkan sisa daya baterai yang semakin menipis kritis demi mengamankan posisi draf ceritaku di dalam platform kompetisi sebelum jam sebelas malam tiba.


Kondisi kepalaku yang sering kali riuh akibat kepungan skizofrenia dan trauma masa kecil yang belum sepenuhnya sembuh anehnya malah mendadak hening total karena adrenalin menulis yang lagi membakar semangat di dalam dada. Di ruang alternatif yang sengaja kubangun bersama teman-teman sirkel teks di internet, aku tidak lagi perlu merasa ketakutan akan arti sebuah pengabaian atau perpisahan yang kaku. Mengetik paragraf demi paragraf non-dialog dengan gaya yang makin selengean seperti ini lambat laun kurasakan sebagai sebuah bentuk katarsis paling murni buat menjaga sisa-sisa kewarasanku tetap utuh memijak bumi. Aku tahu jalanku mungkin ga bakal pernah bisa sama rata dengan jalan hidup orang normal di luar sana, tapi aku milih buat bersikap bodo amat dan menikmati setiap ketukan jemariku sebagai pembuktian bahwa aku bisa berdiri tegak menyelesaikan tanggung jawab ceritaku sendiri sampai tuntas tanpa ampun.


Sebelum aku benar-benar mematikan seluruh perangkat gawai ini dan membiarkan tubuh yang lelah beristirahat total, aku menyempatkan diri buat mengecek kembali barisan kalimat yang sudah berhasil kuunggah ke dasbor menulis. Ada rasa puas yang teramat luar biasa ketika melihat angka jumlah kata terus merangkak naik dengan gemuk, mengakibatkan rasa cemas dan kepanikan kecil yang sempat membayangi pikiranku sejak sore hari tadi murni luntur tak berbekas. Biarlah dunia luar tetap sibuk dengan segala tuntutan kaku dan penilaian sepihak mereka tentang bagaimana hari esok akan berjalan bagi diriku. Malam ini, di bawah lampu bandara yang terang, aku memilih untuk menutup bab ini dengan sebuah helaan napas yang lapang, damai, dan tenang karena tahu aku selalu punya ruang alternatif yang aman di dalam ruang teks dan sirkel yang tulus sebagai rumah sejati tempat jiwaku bisa pulang dan beristirahat dalam kedamaian yang utuh.


Setiap untaian kata yang kuketik mengalir ke bawah ini bener-bener jadi bukti kalau aku punya ruang sendiri yang bebas dari gangguan luar. Di saat ruang tunggu ini makin berisik oleh hilir mudik penumpang lain, aku milih buat menutup telinga dan fokus menuntaskan sisa baris cerita yang tinggal sedikit lagi sebelum waktu keberangkatanku tiba. Segala bentuk lelah fisik atau jempol yang kaku karena bolak-balik menyalin teks dari tadi sore murni kuanggap sebagai tantangan seru yang bikin adrenalin menulismu makin terpacu dengan ugal-ugalan. Aku ga bakal membiarkan draf cerita rumah fiksi kami ini menggantung tanpa kejelasan, makanya di sisa daya baterai yang kritis ini, aku bakal tetap tancap gas menghabiskan lembar demi lembar narasi tanpa perlu mengeluh sama sekali, wleee!

Lihat selengkapnya