Tempat ku singgah

私はノベルの詩織が好きです
Chapter #12

Aku di sisi mu(end)



Aku membetulkan posisi dudukku di kursi bandara, menatap layar gawai yang dayanya semakin kritis dengan senyuman tipis yang agak sinis. Mengingat kata keluarga selalu membuat monolog batin di dalam kepalaku berjalan berputar-putar tanpa arah yang jelas. Orang-orang di dunia nyata mungkin berpikir kalau yang namanya keluarga itu harus selalu terikat oleh hubungan darah, tinggal di bawah atap rumah yang sama, and saling memamerkan kebersamaan kaku yang penuh kepalsuan di depan umum. Tapi peduli apa aku dengan definisi standar mereka yang membosankan and kaku itu, ahahahaha! Buat manusia sepertiku yang sudah biasa hidup menyendiri di dalam kamar tiga kali tiga meter, konsep keluarga nyata itu sudah lama runtuh and retak ga berbekas sejak aku masih kecil. Yang kuingat dari rumah masa lalu cuma punggung orang-orang dewasa yang berjalan menjauh, meninggalkan aku sendirian di tengah ruang kosong yang dingin and mencekam tanpa ada satu pun tangan yang sudi memelukku saat kepalaku mulai riuh oleh kepungan skizofrenia, wleee!


Bagi diriku, arti kata keluarga yang sebenarnya justru kutemukan di balik layar HP and tablet yang hangat ini, di dalam ruang obrolan teks bersama teman-teman sirkel alternatifku. Temen rp = keluarga, kalimat sederhana itu sudah resmi menjadi hukum mutlak and pondasi terkuat yang menyelamatkan seluruh sisa-sisa kewarasanku dari ambang kehancuran total akibat trauma pengabaian masa lalu. Di saat orang-orang rumah sibuk melemparkan berbagai macam tuntutan kaku and melabeli diriku sebagai anak pemalas, ga peka, atau pemarah, teman-teman digital inilah yang selalu setia menerimaku apa adanya tanpa banyak syarat yang merepotkan. Mereka ga pernah nanyain kenapa aku jarang keluar kamar atau kenapa ritme hidupku berjalan jauh lebih lambat dibanding orang normal pada umumnya. Di dalam dunia teks fiksi yang kami bangun bersama dari sore menjelang malam, aku dikasih kebebasan penuh buat menjadi manusia biasa yang boleh merasa lelah, boleh merasa rapuh, and dihargai murni karena untaian baris kalimat yang kubuat di dalam grup.


Hubungan kami yang tulus tanpa perlu ada tatap muka langsung ini terbukti sukses menjelma menjadi benteng pertahanan terbaik yang menjaga jiwaku agar tidak gampang hanyut ke dalam lubang kegelapan. Setiap kali halusinasi mulai datang menyerang and membuat isi kepalaku penuh dengan distorsi yang menakutkan, tumpukan chat random and plot cerita konyol dari mereka selalu berhasil menjadi obat penenang paling ampuh yang bikin dadaku kembali kerasa lapang. Kami tidak butuh dialog langsung yang lebay atau ikatan hukum formal untuk saling menjaga; insting kami sudah terlatih secara otomatis untuk bergerak bersama melindungi keutuhan rumah fiksi ini dari segala gangguan luar, seperti saat kami kompak menyiksa anggota baru yang nyolot tadi sore. Rasa kebersamaan yang unik and mendalam seperti inilah yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang-orang normal di luar sana yang dunianya terlalu berisik oleh urusan materi and produktivitas tanpa henti.


Membawa santai seluruh tekanan hidup and berfokus menuntaskan baris demi baris naskah novel fiksi ini ternyata menjadi pilihan terbaik yang sangat melegakan bagi kondisi mentalku yang sedang lelah berproses. Aku memilih buat bersikap masa bodo amat saja deh ah ga usah dibikin ribet atau dibawa pusing sampai bikin energiku habis tak bersisa di sisa malam yang dingin ini. Perjuangan melelahkan bolak-balik menyalin naskah, membuka Google, and memantau WhatsApp menggunakan dua perangkat sekaligus dari tadi sore murni kujadikan sebagai sebuah bekas perjuangan jujur yang teramat membanggakan buat kuapresiasi sendiri sebelum jam sebelas malam tiba di bandara. Aku melirik sebentar ke arah tas kain yang tergeletak pasrah di samping kursi tunggu, memastikan jajaran pin fiksi andalan and gantungan kunci karakter kesukaanku tetap aman terjaga di tempatnya, seolah-olah mereka juga ikut tersenyum bangga menemaniku merayakan kemenangan kecil malam ini karena sukses menembus bab kedua belas dengan selamat tanpa bantuan siapa pun di dunia nyata, Aku membetulkan posisi dudukku di kursi tunggu bandara, menatap layar gawai yang dayanya semakin kritis dengan senyuman tipis yang agak sinis. Mengingat kata keluarga selalu membuat monolog batin di dalam kepalaku berjalan berputar-putar tanpa arah yang jelas. Orang-orang di dunia nyata mungkin berpikir kalau yang namanya keluarga itu harus selalu terikat oleh hubungan darah, tinggal di bawah atap rumah yang sama, and saling memamerkan kebersamaan kaku yang penuh kepalsuan di depan umum. Tapi peduli apa aku dengan definisi standar mereka yang membosankan and kaku itu, ahahahaha! Buat manusia sepertiku yang sudah biasa hidup menyendiri di dalam kamar tiga kali tiga meter, konsep keluarga nyata itu sudah lama runtuh and retak ga berbekas sejak aku masih kecil. Yang kuingat dari rumah masa lalu cuma punggung orang-orang dewasa yang berjalan menjauh, meninggalkan aku sendirian di tengah ruang kosong yang dingin and mencekam tanpa ada satu pun tangan yang sudi memelukku saat kepalaku mulai riuh oleh kepungan skizofrenia, wleee!

Lihat selengkapnya