Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #1

Rumah yang Tidak Pernah Sepi

Rumah kami dulu tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan pada malam hari, ketika lampu ruang tengah sudah dimatikan dan kami semua berpikir rumah telah tertidur, selalu ada suara kecil dari dapur bunyi tutup panci yang diletakkan pelan, langkah kaki Mak yang ringan, atau suara sendok yang menyentuh gelas.

Dulu aku tidak pernah memikirkan suara-suara itu. Baru setelah Mak tidak ada, aku menyadari satu hal yang sederhana tetapi menyakitkan: rumah ternyata bisa tetap berdiri seperti biasa, tetapi kehilangan cara untuk bernapas.

Rumah kami berada di sebuah kampung di Sumatera Barat, di tepi jalan yang tidak terlalu ramai. Dari depan, rumah itu tampak seperti rumah kayu lain yang berdiri di sepanjang jalan kampung: atap seng yang kadang berbunyi keras ketika hujan turun, jendela-jendela kayu yang catnya mulai memudar, dan halaman yang selalu ditumbuhi rumput liar jika tidak dipotong setiap beberapa minggu.

Namun bagi kami, rumah itu selalu terasa besar. Bukan karena ukurannya, tetapi karena Mak selalu berhasil membuatnya terasa penuh.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Mak sudah bangun. Kadang aku terbangun oleh suara kayu dapur yang dibelah atau suara air yang dituangkan dari kendi ke dalam panci.

Mak tidak pernah membangunkan kami dengan suara keras.

Ia hanya membuka pintu kamar sedikit, lalu berkata pelan,

“Bangunlah! Nasi sudah hampir masak.”

Cara Mak berbicara selalu seperti itu tidak pernah memerintah, tetapi juga tidak pernah perlu diabaikan.

Ayah biasanya sudah duduk di ruang depan ketika kami bangun. Ia akan membaca koran lama yang sebenarnya sudah ia baca kemarin. Kadang ia hanya memegang koran itu tanpa benar-benar membaca apa pun.

Ayah tidak banyak bicara di pagi hari.

Tetapi Mak selalu berbicara cukup untuk dua orang.

“Air kopi Ayah jangan terlalu manis,” kata Mak suatu pagi sambil menuangkan air panas ke dalam gelas.

Ayah mengangguk tanpa mengangkat kepala.

“Anak-anak sudah bangun?”

“Belum.”

Mak menoleh ke arah kamar-kamar kami.

“Biarkan saja sebentar lagi.”

Dapur Mak selalu berbau sesuatu: kadang bawang goreng, kadang santan yang mendidih, kadang hanya aroma nasi panas yang baru saja matang.

Aku sering berdiri di pintu dapur hanya untuk melihat Mak bekerja. Ada sesuatu yang menenangkan dalam cara Mak bergerak. Ia tidak pernah terburu-buru, tetapi juga tidak pernah terlihat lambat. Semua yang ia lakukan terasa seperti bagian dari sesuatu yang sudah ia pahami sepenuhnya sejak lama.

Kadang Mak akan menoleh dan tersenyum kepadaku.

“Kenapa berdiri saja di situ?”

“Aku hanya melihat.”

Mak tertawa kecil.

“Kalau hanya melihat, nanti lapar.”

Ia akan menyodorkan sepotong pisang goreng atau singkong rebus sebelum sarapan benar-benar siap.

Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu dimulai. Seingatku, sejak kecil Mak selalu melakukan hal yang sama.

Lihat selengkapnya