Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #2

Anak Perempuan yang Pergi

Perjalanan pertamaku meninggalkan kampung tidak terasa seperti sesuatu yang besar pada waktu itu. Aku duduk di kursi dekat jendela mobil travel yang akan membawaku ke kota. Tas besarku diletakkan di pangkuan, dan sebuah tas kecil berisi makanan dari Mak berada di lantai di bawah kakiku.

Mak memberi bekal terlalu banyak.

Ketika aku membuka tas kecil itu di perjalanan, aku menemukan beberapa bungkus nasi, telur rebus, sambal balado dalam wadah kecil, dan beberapa potong pisang goreng yang masih hangat ketika aku berangkat tadi pagi.

Aku tersenyum sendiri.

Mak selalu berpikir perjalanan jauh berarti kemungkinan kelaparan.

Mobil mulai bergerak meninggalkan kampung. Aku menoleh ke belakang, melihat jalan yang semakin menjauh, melihat rumah-rumah yang semakin kecil, dan akhirnya melihat tikungan yang menutup pandangan terhadap rumah kami.

Aku tidak merasa sedih.

Aku hanya merasa seperti seseorang yang sedang membuka pintu menuju sesuatu yang baru.

Di usiaku waktu itu, dunia terasa luas dan menjanjikan. Aku belum tahu bahwa setiap langkah menjauh dari rumah juga berarti membawa sesuatu yang tidak terlihat: jarak.

***

Kota tempatku merantau tidak terlalu besar, tetapi cukup ramai dibandingkan kampung kami. Jalan-jalannya selalu penuh kendaraan. Toko-toko berdiri berdampingan tanpa jarak. Lampu-lampu tetap menyala sampai malam.

Hari pertama di kota itu terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Aku menyewa sebuah kamar kecil di rumah seorang ibu tua yang menyewakan beberapa kamar untuk para perantau.

Kamarku tidak besar. Ada satu tempat tidur, satu meja kecil, dan jendela yang menghadap ke gang sempit. Tetapi pada waktu itu, kamar itu terasa seperti simbol kebebasan.

Aku bekerja di sebuah toko kecil di dekat pasar.

Pekerjaannya sederhana: membantu melayani pembeli, mencatat barang yang masuk, dan kadang menyapu lantai sebelum toko dibuka.

Pemilik toko itu seorang perempuan paruh baya yang jarang tersenyum tetapi cukup baik.

Hari-hariku mulai mengikuti ritme yang berbeda. Pagi hari aku bangun sendiri, tanpa suara Mak dari dapur. Aku sering terbangun karena suara kendaraan dari jalan, bukan karena suara sendok yang menyentuh gelas.

Kadang aku berdiri beberapa saat di depan jendela kamar sebelum bersiap berangkat kerja. Di saat-saat seperti itu, ada sesuatu yang terasa aneh.

Bukan kesepian.

Lebih seperti ruang kosong yang belum aku pahami.

***

Aku menelepon Mak seminggu sekali.

Setiap kali menelepon, suara Mak selalu terdengar sama.

Tenang.

Seolah-olah tidak ada yang berubah di rumah.

“Bagaimana kerja di sana?” tanya Mak suatu malam.

“Baik.”

“Kamar tempat tinggalmu nyaman?”

“Lumayan.”

Mak selalu menanyakan hal-hal sederhana seperti itu.

Ia jarang bertanya apakah aku merindukan rumah. Mungkin ia tahu jawabannya. Kadang Ayah ikut berbicara sebentar.

“Hemat uangmu,” katanya suatu kali.

“Ya, Yah.”

“Di kota banyak godaan.”

Ayah selalu berbicara seperti itu.

Singkat dan langsung. Tetapi setiap kali telepon berakhir, aku selalu berdiri beberapa saat di teras.

Melihat lampu-lampu pasar. Mendengar suara orang berbicara. Dan merasakan sesuatu yang perlahan berubah dalam diriku. Aku mulai terbiasa hidup tanpa rumah.

***

Waktu berjalan lebih cepat di kota. Hari-hari terasa penuh.

Aku bekerja dari pagi sampai sore. Setelah itu kadang aku berjalan sebentar di sekitar pasar sebelum kembali ke kamar. Kadang aku membeli makanan dari warung kecil di ujung gang. Kadang aku hanya makan mie instan di kamar.

Hidup terasa sederhana tetapi cukup.

Aku mulai mengenal beberapa orang di sekitar tempat kerja. Ada Lina yang bekerja di toko sebelah, ada Pak Budi yang menjual buah di depan pasar, dan ada seorang penjual kopi yang selalu membuka warungnya sampai larut malam.

Kota perlahan mulai terasa familiar. Tetapi rumah di kampung tetap terasa seperti sesuatu yang jauh.

Aku pulang hanya sekali dalam beberapa bulan. Setiap kali pulang, rumah selalu terlihat sama.

Mak masih di dapur.

Ayah masih duduk di kursinya di ruang depan.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara aku melihat semuanya. Rumah tidak lagi terasa seperti dunia yang tidak berubah. Rumah mulai terasa seperti tempat yang suatu hari mungkin hanya akan menjadi kenangan.

***

Suatu malam, beberapa tahun setelah aku merantau, aku menelepon Mak seperti biasa.

“Mak sehat?” tanyaku.

“Sehat.”

“Ayah?”

“Sehat juga.”

Percakapan kami berjalan seperti biasa. Tetapi sebelum menutup telepon, Mak berkata sesuatu yang sedikit berbeda.

“Kalau sempat, pulanglah bulan depan.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Aku tertawa kecil.

“Mak selalu bilang begitu.”

Mak tidak tertawa.

“Pulang saja kalau sempat.”

Aku mengangguk meskipun Mak tidak bisa melihatnya.

“Baik.”

Lihat selengkapnya