Pagi di rumah sakit selalu datang terlalu cepat. Aku baru menyadari bahwa langit sudah mulai terang ketika seorang perawat membuka pintu kamar perlahan. Cahaya pucat dari jendela jatuh di lantai, membentuk garis panjang yang menyentuh kaki tempat tidur Mak.
Aku masih duduk di kursi yang sama seperti semalam. Kepala Mak tidak lagi bersandar di bahuku. Ia sudah berbaring kembali sejak beberapa jam sebelumnya, setelah dokter datang memeriksa dan menyuruhnya beristirahat.
Mak terlihat tertidur, tetapi napasnya terdengar lebih berat daripada biasanya. Perawat memeriksa tekanan darah Mak, mencatat sesuatu di papan kecil, lalu tersenyum kepadaku.
“Sudah lama di sini?”
Aku mengangguk.
“Semalam.”
“Kalau lelah, Anda bisa istirahat sebentar di ruang tunggu.”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Perawat itu tidak memaksa. Ia hanya merapikan selimut Mak dan keluar dari kamar dengan langkah pelan.
Ketika pintu tertutup kembali, ruangan terasa sangat sunyi.
Aku memandang Mak. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, tetapi garis-garis lembut di wajahnya masih sama. Garis yang terbentuk oleh tahun-tahun panjang mengurus rumah, memasak untuk keluarga, menunggu anak-anak pulang, dan menyelesaikan pekerjaan kecil yang sering tidak pernah kami perhatikan.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku benar-benar memperhatikan wajah Mak seperti ini.
Mungkin sudah lama sekali.
Selama ini Mak selalu ada di rumah seperti sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan keberadaannya. Ia selalu bergerak dari dapur ke halaman, dari halaman ke ruang tengah, dari ruang tengah kembali ke dapur.
Kami jarang benar-benar duduk diam untuk melihatnya.
Sekarang aku duduk di sini, memperhatikan setiap garis kecil di wajah Mak, dan menyadari sesuatu yang datang terlambat: waktu ternyata sudah berjalan jauh.
***
Satu jam kemudian Ayah datang. Ia membawa termos kopi dan beberapa bungkus makanan yang dibeli dari warung dekat rumah sakit.
Ayah terlihat lebih tua pagi itu. Bukan karena rambutnya yang mulai memutih atau karena wajahnya yang lelah, tetapi karena cara ia berjalan.
Langkahnya lebih pelan dari biasanya.
“Bagaimana Mak?” tanyanya pelan.
“Masih tidur.”
Ayah meletakkan termos di meja kecil.
Ia duduk di kursi yang biasanya ia tempati semalam.
Kami tidak banyak berbicara. Ayah menuangkan kopi ke dalam tutup termos dan meminumnya perlahan. Aku membuka salah satu bungkus nasi tetapi tidak benar-benar lapar.
Beberapa menit kemudian Mak membuka mata.
Ia menatap kami berdua dengan pandangan yang masih sedikit kabur.
“Ayah sudah datang?”
“Iya,” kata Ayah.
Mak tersenyum kecil.
“Pagi sekali.”
Ayah tidak menjawab.
Ia hanya memandang Mak beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu dalam tatapan Ayah yang jarang aku lihat sebelumnya. Seperti seseorang yang mencoba mengingat sesuatu yang sangat penting.
***
Dokter datang sekitar pukul sembilan pagi. Seorang laki-laki muda dengan wajah tenang dan suara yang lembut. Ia memeriksa Mak dengan teliti, mendengarkan napasnya dengan stetoskop, lalu berbicara sebentar dengan perawat.
Setelah itu ia menoleh kepada kami.
“Kondisinya masih lemah,” katanya.
“Apakah Mak bisa pulang?” tanya Ayah.
Dokter berpikir sebentar.
“Kita lihat perkembangannya hari ini.”
Jawaban itu tidak memberi kepastian apa pun. Tetapi entah mengapa aku merasa dokter sedang mencoba mengatakan sesuatu dengan cara yang paling hati-hati.