Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #4

Rumah yang Kehilangan Suara #4

Kami membawa Mak pulang menjelang subuh. Langit masih gelap ketika mobil yang membawa jenazah berhenti di depan rumah. Lampu teras sudah menyala sejak tadi malam. Beberapa tetangga berdiri di halaman, menunggu dengan wajah yang tidak perlu banyak kata.

Rumah kami yang biasanya terasa biasa saja tiba-tiba tampak berbeda.

Lebih sunyi.

Lebih besar.

Lebih kosong.

Ketika pintu mobil dibuka, seseorang berkata pelan, “Pelan-pelan.”

Beberapa lelaki kampung membantu mengangkat keranda. Aku berdiri di dekat pintu rumah. Aku tidak ingat siapa yang pertama kali memegang bahuku. Mungkin kakakku. Mungkin tetangga. Aku hanya tahu bahwa langkahku terasa berat ketika mengikuti keranda itu masuk ke rumah.

Mak diletakkan di ruang tengah. Ruangan yang biasanya dipenuhi suara piring dari dapur atau suara radio kecil yang sering Mak nyalakan pagi-pagi kini dipenuhi bisik-bisik pelan.

Tetangga mulai datang. Perempuan-perempuan membawa kain putih, air, dan beberapa perlengkapan lain untuk memandikan jenazah.

Aku berdiri di sudut ruangan.

Melihat semua itu terasa seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat. Beberapa jam yang lalu Mak masih berbicara denganku di rumah sakit. Sekarang ia sudah terbaring di tengah ruangan rumah kami.

***

Fajar datang perlahan. Langit mulai berubah warna. Suara ayam terdengar dari belakang rumah. Tetapi rumah kami tetap terasa sangat sunyi.

Ketika jenazah Mak terbaring, aku duduk di tangga kecil dekat dapur. Dapur itu terasa aneh tanpa Mak.

Biasanya pagi-pagi seperti ini Mak sudah menyalakan kompor. Bau bawang goreng atau kopi sering memenuhi ruangan.

Sekarang hanya ada bau kapur barus dari ruang depan.

Aku menatap meja dapur. Ada beberapa piring yang belum sempat dicuci sejak beberapa hari lalu ketika Mak mulai sakit. Mak biasanya tidak pernah membiarkan piring kotor terlalu lama. Hal-hal kecil seperti itu tiba-tiba terasa menyakitkan.

Aku menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupikirkan:

Mak adalah orang yang menjaga semua hal kecil di rumah ini tetap berjalan. Tanpa Mak, rumah terasa seperti tempat yang kehilangan arah.

***

Menjelang pagi, halaman rumah sudah dipenuhi orang. Tetangga, keluarga jauh, teman-teman Ayah, dan orang-orang kampung yang datang untuk melayat. Suara orang mengaji terdengar pelan dari ruang tengah.

Aku masuk ke kamar Mak sebentar. Kamar itu masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Selimut yang biasa Mak pakai masih terlipat rapi. Di meja kecil dekat tempat tidur ada kacamata Mak dan sebuah buku doa yang sudah agak usang.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Untuk beberapa detik, aku hampir berharap Mak akan masuk dari dapur dan berkata sesuatu seperti biasanya.

“Kenapa duduk di sini saja?”

Tetapi kamar itu tetap sunyi.

Aku menunduk. Air mata yang sejak tadi malam kutahan akhirnya jatuh juga.

***

Pemakaman berlangsung menjelang siang. Langit cerah. Tanah di pemakaman masih agak basah karena hujan malam sebelumnya.

Aku berdiri di dekat Ayah ketika jenazah Mak diturunkan ke liang lahat.

Ayah tampak sangat tenang. Ia tidak menangis. Ia hanya memandang ke dalam liang kubur dengan wajah yang tidak bisa aku baca.

Ketika tanah mulai ditimbun, aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada pintu yang tertutup pelan di dalam hidup kami. Pintu yang tidak akan pernah terbuka lagi.

***

Lihat selengkapnya