Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #5

Perempuan yang Datang #5

Sejak Mak tidak ada, rumah terasa seperti tempat yang berjalan tanpa suara. Pagi masih datang seperti biasa. Matahari tetap naik dari balik bukit di belakang kampung. Ayam tetap berlari di halaman. Tetangga masih menyapu depan rumah mereka. Tetapi rumah kami sendiri terasa berbeda.

Dapur menjadi tempat yang paling terasa perubahan itu. Dulu, bahkan sebelum kami bangun, Mak sudah berada di sana. Suara sendok mengenai panci, bunyi air mendidih, dan aroma kopi sering menjadi tanda bahwa pagi sudah dimulai.

Sekarang dapur hanya berisi meja kayu, kompor yang jarang dipakai, dan piring-piring yang kadang aku cuci dengan perasaan yang tidak menentu.

Aku mencoba memasak beberapa kali. Tetapi setiap kali aku berdiri di depan kompor, rasanya seperti sedang meniru sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa aku lakukan seperti Mak.

Ayah tidak pernah mengeluh.

Ia selalu berkata, “Apa saja tidak apa-apa.”

Tetapi aku tahu Ayah juga merasakan hal yang sama.

***

Ayah semakin sering keluar rumah. Kadang ia pergi ke kebun di belakang kampung. Kadang ia berjalan ke pasar pagi untuk membeli beberapa keperluan kecil. Namun lebih sering ia hanya berjalan tanpa tujuan yang jelas.

Aku melihatnya suatu sore berdiri di halaman, memandang pohon mangga yang Mak tanam bertahun-tahun lalu. Pohon itu sekarang sudah cukup besar. Beberapa buah mangga menggantung di cabang yang rendah.

Mak sering berkata pohon itu tidak pernah benar-benar berhenti berbuah.

“Seperti rumah,” kata Mak suatu kali.

“Kalau dijaga, rumah juga akan terus hidup.”

Waktu itu aku tidak terlalu memikirkan kalimat itu. Sekarang kata-kata Mak terasa seperti sesuatu yang terus berputar di dalam kepalaku.

***

Suatu sore, ketika aku sedang menyapu halaman, seseorang mengetuk pagar.

Aku menoleh.

Perempuan yang datang ke rumah sakit itu berdiri di sana. Ia mengenakan kerudung abu-abu dan membawa tas kecil di tangannya. Ia terlihat ragu-ragu, seperti seseorang yang tidak yakin apakah ia benar-benar harus datang.

Aku membuka pagar.

“Silakan masuk.”

Perempuan itu tersenyum kecil.

“Maaf kalau mengganggu.”

“Tidak apa-apa.”

Ia masuk ke halaman dengan langkah pelan. Ayah sedang duduk di beranda.

Ketika melihat perempuan itu, Ayah terlihat sedikit terkejut lagi, tetapi kali ini ia tidak tampak bingung seperti sebelumnya.

Seolah-olah ia sudah menduga perempuan itu akan datang lagi.

“Kau datang.”

Nada suara Ayah tetap tenang.

Perempuan itu mengangguk.

“Aku hanya ingin melihat keadaan rumah.”

Ayah mempersilahkannya duduk.

Aku membawa dua gelas teh dari dapur dan meletakkannya di meja kecil di beranda. Setelah itu aku duduk agak jauh dari mereka. Aku tidak ingin terlalu mencampuri percakapan mereka, tetapi entah mengapa aku juga merasa perlu mendengarnya.

Untuk beberapa menit mereka hanya berbicara hal-hal biasa.

Tentang kampung. Tentang orang-orang yang datang melayat. Tentang kebun. Tetapi aku bisa merasakan sesuatu di balik percakapan itu. Seperti ada cerita lama yang sedang menunggu untuk disebutkan.

Akhirnya perempuan itu berkata pelan,

“Dia orang yang sangat baik.”

Aku tahu ia sedang berbicara tentang Mak.

Lihat selengkapnya