Aku tidak pernah benar-benar tahu kapan tepatnya Rahman menjadi bagian penting dari hari-hariku. Pada awalnya ia hanya pedagang di kios sebelah.
Seseorang yang sesekali membantu ketika aku kebingungan mencari barang di rak, atau seseorang yang menawarkan segelas teh ketika pasar sedang sepi. Tetapi hari-hari di pasar berjalan dengan cara yang aneh.
Kadang seseorang yang awalnya hanya lewat dalam kehidupan kita tiba-tiba menjadi orang yang kehadirannya mulai terasa.
Rahman adalah orang seperti itu.
Pagi-pagi di pasar selalu dimulai dengan kesibukan yang hampir sama. Pedagang membuka karung barang. Gantungan pakaian dikeluarkan dari dalam kios. Beberapa orang sudah mulai menawar harga bahkan sebelum barang benar-benar selesai ditata.
Aku biasanya datang sedikit lebih awal untuk membantu Uni Salmah. Namun sejak mengenal Rahman, ada satu kebiasaan kecil yang tanpa sadar mulai muncul.
Aku sering menoleh ke arah kiosnya. Kadang ia sudah datang lebih dulu. Kadang ia baru tiba sambil membawa karung pakaian di bahunya.
Rahman selalu bekerja dengan cara yang tenang. Ia jarang sekali berteriak memanggil pembeli seperti pedagang lain. Namun entah bagaimana orang-orang sering berhenti di kiosnya lebih lama. Mungkin karena ia tidak pernah memaksa. Mungkin karena senyumnya selalu terlihat tulus.
Suatu pagi ketika pasar belum terlalu ramai, Rahman berdiri di depan kiosnya sambil menata beberapa kemeja baru.
“Kau datang lebih awal hari ini,” katanya ketika melihatku.
“Aku selalu datang pagi.”
Rahman tersenyum.
“Tapi hari ini lebih pagi dari biasanya.”
Aku tertawa kecil.
“Kenapa memperhatikan?”
Rahman tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangkat bahu sedikit.
“Mungkin karena kios kita bersebelahan.”
Jawaban itu sederhana, tetapi membuatku tersenyum.
Hari-hari di pasar mulai terasa lebih ringan. Kadang Rahman datang membawa dua gelas teh dari warung kecil di ujung lorong. Kadang aku yang membelikan gorengan ketika pasar mulai sepi menjelang siang.
Percakapan kami juga mulai berubah. Tidak lagi hanya tentang harga baju atau pembeli yang menawar terlalu rendah. Kami mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing.
Suatu siang ketika hujan turun deras di luar pasar, kami duduk di kursi kecil di depan kios Rahman. Lorong pasar menjadi lebih sunyi karena banyak orang memilih menunggu hujan reda.
Rahman memandang air hujan yang jatuh di atap seng.
“Kau pernah berpikir untuk pulang ke kampung?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
Aku berpikir sebentar.
“Di sana terlalu banyak kenangan.”
Rahman menoleh kepadaku.
“Kenangan buruk?”
“Tidak selalu.”
“Lalu?”
Aku menarik napas pelan.
“Mak meninggal beberapa bulan lalu.”
Rahman terdiam.
Untuk beberapa detik ia tidak mengatakan apa-apa.
Kemudian ia berkata pelan,
“Aku ikut sedih.”
Aku mengangguk kecil.
“Sejak itu rumah terasa berbeda.”
Rahman memandang hujan lagi.
“Aku mengerti.”
“Benarkah?”
Rahman mengangguk.