Aku tidak langsung menjawab ketika Rahman mengatakan ia ingin menikahiku. Kalimat itu terus berputar di kepalaku selama beberapa hari setelahnya.
Setiap pagi ketika aku berjalan menuju pasar, aku memikirkan kata-katanya. Setiap malam ketika aku kembali ke kamar kecil yang kusewa di gang sempit dekat terminal, aku juga memikirkan hal yang sama.
Bukan karena aku tidak menyukai Rahman. Justru sebaliknya. Kehadirannya dalam hidupku terasa seperti sesuatu yang datang perlahan tetapi pasti. Namun kata menikah adalah sesuatu yang besar. Terlebih ketika Rahman sendiri sudah mengatakan bahwa keluarganya mungkin tidak akan setuju.
Beberapa hari kemudian, ketika pasar sedang sepi, Rahman berkata lagi kepadaku,
“Kau belum menjawab.”
Aku tersenyum kecil.
“Kau tidak memberi waktu terlalu lama.”
Rahman tertawa pelan.
“Baiklah. Aku akan menunggu.”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Rahman.”
“Iya?”
“Kau yakin dengan keputusanmu?”
Rahman mengangguk tanpa ragu.
“Aku sudah memikirkannya sejak lama.”
“Keluargamu?”
Rahman menarik napas pelan.
“Itulah yang ingin aku bicarakan.”
Aku menunggu.
“Aku ingin kau bertemu mereka.”
***
Perjalanan ke kota tempat keluarga Rahman tinggal memakan waktu hampir lima jam. Kami berangkat pagi-pagi sekali dengan mobil sewaan yang dikemudikan seorang sopir yang tidak banyak bicara.
Sepanjang perjalanan aku lebih banyak memandang keluar jendela. Pohon-pohon karet, sawah, dan rumah-rumah kecil di pinggir jalan berganti pemandangan dengan cepat.
Rahman duduk di sampingku. Beberapa kali ia menoleh, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Akhirnya ia berkata pelan,
“Kau gugup?”
Aku tersenyum.
“Sedikit.”
Rahman tertawa kecil.
“Sejujurnya aku juga.”
“Kau takut?”
Rahman mengangguk.
“Ayahku orang yang keras.”
“Dan ibumu?”
Rahman berpikir sebentar.
“Ibu lebih tenang.”
“Jadi mungkin dia akan mengerti?”
Rahman tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap jalan di depan.
Aku mulai menyadari bahwa pertemuan ini mungkin tidak akan mudah.
Rumah keluarga Rahman berada di pinggir kota. Rumah besar dengan halaman luas dan pagar tinggi. Ketika mobil kami berhenti di depan gerbang, aku merasa seperti memasuki dunia yang sama sekali berbeda dari pasar kecil tempat kami bekerja.
Halaman rumah itu dipenuhi pohon hias yang ditata rapi. Bangunan rumahnya besar, dengan dinding berwarna krem dan jendela-jendela tinggi.
Rahman turun dari mobil lebih dulu.
Ia membuka pintu untukku.
“Ayo.”
Aku mengikuti langkahnya masuk ke halaman. Beberapa orang pekerja rumah tangga terlihat berjalan di sekitar rumah.
Salah seorang dari mereka menyapa Rahman dengan sopan.
“Selamat datang, Uda Rahman.”
Rahman hanya mengangguk. Kami masuk ke ruang tamu yang luas.
Langit-langitnya tinggi. Lantai marmernya berkilau.