Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #8

Pernikahan yang Sunyi #8

Kami tidak tinggal lama di rumah keluarga Rahman. Setelah percakapan itu berakhir, tidak ada lagi yang benar-benar bisa dikatakan. Ayah Rahman kembali masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi kepada kami. Ibu Rahman duduk beberapa saat lebih lama, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi akhirnya hanya menghela napas pelan.

“Rahman,” katanya akhirnya.

Rahman menoleh.

“Kau pikirkan lagi keputusanmu.”

Rahman mengangguk pelan.

“Aku sudah memikirkannya.”

Ibu Rahman menatapnya beberapa detik, lalu menoleh kepadaku. Tatapannya tidak keras seperti Ayah Rahman, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatku merasa kecil. Bukan karena ia memarahiku. Melainkan karena aku tahu aku adalah alasan mengapa anaknya berdiri melawan keluarga sendiri.

“Aku tidak membencimu,” kata perempuan itu akhirnya.

Aku sedikit terkejut.

“Tetapi hidup yang akan kalian jalani tidak mudah.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Rahman menggenggam tanganku.

“Kami akan baik-baik saja, Bu.”

Ibu Rahman hanya mengangguk pelan. Namun dari cara ia memandang Rahman, aku tahu ia tidak benar-benar percaya kalimat itu.

***

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi daripada perjalanan kami datang. Rahman duduk di sampingku tanpa banyak bicara. Mobil melaju melewati jalan yang sama sawah, pohon karet, dan rumah-rumah kecil yang berdiri di pinggir jalan.

Aku menoleh kepada Rahman.

“Kau tidak menyesal?”

Rahman memandang ke luar jendela.

“Tidak.”

“Tapi kau harus meninggalkan keluargamu.”

Rahman tersenyum kecil.

“Aku tidak meninggalkan mereka.”

“Lalu?”

“Mereka yang menutup pintu.”

Aku terdiam.

Beberapa menit kemudian Rahman berkata lagi,

“Aku hanya berharap suatu hari mereka akan mengerti.”

***

Kami menikah dua minggu kemudian. Pernikahan itu sangat sederhana. Tidak ada gedung besar. Tidak ada pesta. Hanya akad nikah kecil di rumah seorang penghulu yang juga menjadi saksi pernikahan kami karena Ayah tidak bisa datang. Beberapa teman Rahman dari pasar datang.

Uni Salmah juga datang dengan membawa kue kecil yang ia buat sendiri.

“Kau akhirnya menikah juga,” katanya sambil tersenyum.

Lihat selengkapnya