Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #9

Kota yang Tidak Mengenal Kami #9

Laki-laki yang datang ke pasar sore itu memperkenalkan dirinya sebagai Paman Idris. Rahman menyambutnya dengan canggung.

Aku bisa melihat bahwa kedatangan laki-laki itu membuat Rahman tidak tenang.

“Sudah lama kau tidak pulang,” kata Paman Idris sambil menatap Rahman.

Rahman hanya tersenyum tipis.

“Aku sibuk di sini.”

Paman Idris memandang kios kecil Rahman. Rak-rak pakaian yang disusun rapi. Beberapa kaus tergantung di depan kios. Tidak ada yang mewah. Tidak ada yang menunjukkan bahwa Rahman berasal dari keluarga yang sangat kaya.

“Ayahmu sakit,” kata Paman Idris akhirnya.

Rahman terdiam.

“Apa?”

“Beberapa minggu ini kesehatannya menurun.”

Aku melihat wajah Rahman berubah.

“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”

Paman Idris mengangkat bahu.

“Kau yang pergi dari rumah.”

Rahman tidak menjawab.

Ia menatap lantai pasar yang mulai sepi.

Kemudian ia berkata pelan,

“Seberapa parah?”

“Tidak terlalu parah,” jawab Paman Idris. “Tetapi dia ingin bertemu denganmu.”

Aku berdiri di samping Rahman tanpa mengatakan apa-apa. Rahman menoleh kepadaku. Tatapan kami bertemu beberapa detik. Ada banyak hal yang tidak perlu diucapkan.

“Aku akan pulang,” kata Rahman akhirnya.

Kami menutup kios lebih cepat hari itu. Sepanjang perjalanan pulang Rahman tidak banyak bicara. Aku juga tidak bertanya apa-apa. Sesampainya di rumah, Rahman duduk lama di kursi ruang tamu. Lampu rumah kami redup. Suara motor dari jalan kecil di depan rumah terdengar sesekali.

“Aku harus pulang besok,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk.

“Kau ingin aku ikut?”

Rahman menatapku sebentar.

“Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku mengerti.”

Rahman mendekat dan duduk di sampingku.

“Aku tidak ingin kau diperlakukan tidak baik.”

“Aku sudah tahu sejak awal bahwa keluargamu tidak menerimaku.”

Rahman menghela napas.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Rahman tidak langsung menjawab.

“Ayahku keras kepala.”

“Aku juga punya ayah yang keras kepala,” kataku pelan.

Rahman menatapku.

“Dulu aku sering bertengkar dengan Ayah di kampung,” lanjutku. “Tapi setiap kali aku pulang, Mak selalu membuat kami duduk bersama di ruang tamu.”

Aku tersenyum kecil mengingat masa itu.

“Mak selalu berkata bahwa rumah bukan tempat untuk menyimpan kemarahan terlalu lama.”

Rahman terdiam.

Lihat selengkapnya