Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #10

Hidup yang Dibangun Perlahan #10

Kami meninggalkan kota itu pada suatu pagi yang tidak terlalu cerah. Langit masih berwarna kelabu ketika Rahman menutup pintu rumah kecil yang selama ini kami tempati. Rumah itu tidak besar. Cat dindingnya mulai pudar di beberapa tempat. Halaman kecilnya hanya cukup untuk menjemur pakaian dan meletakkan dua pot tanaman yang pernah kubeli dari pasar. Namun ketika Rahman memutar kunci terakhir di pintu rumah itu, aku merasakan sesuatu yang berat di dalam dada.

“Berat meninggalkannya?” tanya Rahman.

Aku tersenyum kecil.

“Sedikit.”

Rahman menatap rumah itu beberapa detik.

“Di sinilah kita mulai.”

Aku mengangguk.

Di rumah itulah kami pertama kali belajar menjadi suami istri. Belajar berbagi uang yang tidak banyak. Belajar saling mengerti ketika hari terasa melelahkan. Belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan. Rahman meletakkan tangannya di pundakku.

“Ayo.”

Kami berjalan menuju mobil kecil yang akan membawa kami pergi. Tidak banyak barang yang kami bawa. Beberapa tas pakaian. Beberapa kotak berisi pakaian dagangan Rahman. Dan sebuah kardus kecil berisi barang-barang dapur. Semua kehidupan kami terasa begitu ringan untuk dipindahkan. Namun kenangan di dalamnya terasa jauh lebih berat.

Perjalanan menuju kota baru memakan waktu hampir delapan jam. Sepanjang jalan aku lebih banyak memandang keluar jendela. Rahman sesekali bercerita tentang rencananya membuka kios baru.

“Aku ingin memulai dari pasar dulu,” katanya.

“Seperti sebelumnya?”

Rahman mengangguk.

“Pasar adalah tempat yang paling jujur untuk memulai usaha.”

Aku tertawa kecil.

“Kalimat itu terdengar seperti nasihat seorang pedagang tua.”

Rahman ikut tertawa.

“Mungkin aku memang sudah mulai menjadi pedagang tua.”

***

Kota yang kami datangi tidak terlalu besar. Namun juga tidak sekecil kota yang kami tinggalkan. Jalan-jalannya lebih ramai. Bangunan tokonya lebih rapat. Dan pasar utamanya jauh lebih besar. Kami menyewa rumah kecil lagi. Rumah itu bahkan lebih sederhana dari rumah sebelumnya. Dindingnya dari papan.Lantainya masih semen kasar.Namun halaman depannya cukup luas.

Rahman berdiri di depan rumah itu sambil mengangguk puas.

“Ini cukup.”

Aku memandangnya.

“Cukup?”

“Untuk memulai hidup baru.”

Aku tersenyum.

“Kau selalu optimis.”

Rahman menoleh kepadaku.

“Kalau tidak optimis, bagaimana kita bisa sampai sejauh ini?”

Aku tidak bisa membantahnya.

***

Lihat selengkapnya