Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #11

Catatan Mak #11

Hari kedua kami di kampung terasa jauh lebih sunyi daripada hari pertama. Mungkin karena pada hari pertama semuanya terasa seperti pertemuan yang lama tertunda pelukan Ayah, rumah yang kembali kutapaki, dan suara lantai kayu yang masih sama seperti dulu. Namun pada hari kedua, keheningan mulai terasa lebih jelas.

Rahman sudah bangun sejak pagi.

Aku melihatnya di halaman belakang membantu Ayah memperbaiki pagar kayu yang mulai lapuk.

Ayah duduk di kursi kecil sambil sesekali memberikan petunjuk.

“Yang itu dipaku dari bawah,” kata Ayah.

Rahman mengangguk.

“Iya, Pak.”

Aku berdiri di ambang pintu dapur memperhatikan mereka.

Pemandangan itu membuat hatiku terasa hangat. Rahman tidak pernah tinggal lama di kampung ini. Namun dari cara ia berbicara dengan Ayah, dari cara ia membantu tanpa diminta, aku tahu ia benar-benar berusaha menjadi bagian dari keluarga ini. Dan Ayah juga tampak mulai menyukainya. Kadang mereka tertawa kecil ketika Rahman melakukan sesuatu dengan cara yang salah.

“Ayahmu lebih sabar daripada ayahku,” kata Rahman suatu kali sambil tertawa.

Aku hanya tersenyum.

***

Siang itu aku masuk ke kamar lama Mak. Kamar itu hampir tidak berubah. Tempat tidur kayu masih berada di tempat yang sama. Lemari tua masih berdiri di sudut ruangan. Dan di atas meja kecil dekat jendela, masih ada kotak kayu yang dulu sering kulihat Mak buka ketika ia ingin menyimpan sesuatu.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Seprai di tempat tidur itu masih rapi. Seolah-olah Mak baru saja merapikannya sebelum keluar rumah.

Aku memejamkan mata sejenak. Ada banyak kenangan di kamar ini.

Dulu ketika aku masih kecil, aku sering tidur di sini bersama Mak ketika Ayah pulang larut dari sawah. Mak selalu bercerita sebelum aku tertidur. Cerita tentang orang-orang di kampung. Cerita tentang masa mudanya. Cerita tentang bagaimana ia bertemu Ayah. Suara Mak selalu lembut. Dan entah bagaimana, cerita-cerita itu selalu membuatku merasa aman.

Aku membuka mata kembali.

Pandangan mataku jatuh pada kotak kayu di atas meja. Kotak itu sederhana. Kayunya sudah sedikit pudar.

Aku ragu-ragu beberapa saat sebelum membukanya. Di dalamnya ada beberapa benda kecil. Beberapa foto lama. Sebuah gelang yang pernah kupakai waktu kecil. Dan sebuah buku kecil yang sampulnya sudah mulai kusam.

Aku mengambil buku itu. Kertas-kertasnya menguning. Tulisan tangan di dalamnya sangat familiar.

Tulisan Mak.

Aku mulai membacanya perlahan.

Catatan Mak tidak ditulis setiap hari. Beberapa halaman kosong. Namun di beberapa halaman lain, Mak menuliskan hal-hal kecil tentang kehidupannya. Tentang sawah yang sedang panen. Tentang hujan yang datang terlalu cepat. Tentang aku yang dulu sering pulang sekolah dengan pakaian penuh lumpur.

Lihat selengkapnya