Tahun-tahun setelah kami kembali dari kampung berjalan lebih cepat daripada yang pernah kubayangkan. Pada awalnya kehidupan kami masih seperti sebelumnya: sederhana, penuh kerja keras, dan hampir tidak pernah benar-benar berhenti.
Rahman tetap bangun sebelum matahari terbit. Ia akan menyapu halaman kecil rumah kami, lalu menyiapkan barang-barang yang harus dibawa ke toko.
Aku biasanya sudah berada di dapur sejak pagi.
Dapur itu tidak besar. Hanya ada satu jendela kecil yang menghadap ke halaman belakang. Dari jendela itu aku bisa melihat pohon mangga milik tetangga yang dahannya sering menjulur melewati pagar. Kadang ketika angin bertiup kencang, beberapa daun mangga jatuh ke halaman kami.
Rahman selalu berkata daun-daun itu membawa keberuntungan. Aku sering tertawa mendengar kalimatnya. Namun mungkin ia tidak sepenuhnya salah. Karena sedikit demi sedikit, usaha kami benar-benar mulai berubah.
Awalnya hanya satu kios kecil di pasar. Kios yang bahkan dulu nyaris tidak terlihat di antara deretan kios yang lebih besar. Namun Rahman selalu punya cara untuk membuat orang berhenti dan melihat barang dagangannya.
Ia ramah kepada setiap orang. Ia selalu mengingat wajah pelanggan. Dan ia tidak pernah memperlakukan orang dengan berbeda hanya karena mereka membeli sedikit atau banyak.
Aku sering memperhatikan cara Rahman berbicara dengan orang-orang. Seorang ibu yang hanya membeli satu potong baju untuk anaknya tetap ia layani dengan senyum yang sama seperti ketika seorang pembeli membeli banyak pakaian sekaligus.
“Ayahku dulu selalu berkata,” kata Rahman suatu malam, “perdagangan bukan hanya tentang barang. Tapi tentang kepercayaan.”
Aku menatapnya.
“Dan kepercayaan tidak datang sekaligus.”
Rahman tersenyum kecil.
“Ia tumbuh perlahan.”
Dan memang begitulah yang terjadi pada usaha kami.
Pelanggan mulai kembali lagi. Beberapa orang bahkan membawa teman atau saudara mereka. Rahman mulai menyewa kios kedua di pasar itu. Kios kedua itu hanya beberapa langkah dari kios pertama. Namun bagiku rasanya seperti langkah besar.
Hari ketika Rahman menandatangani perjanjian sewa kios itu, ia pulang dengan wajah yang sangat cerah.
“Kita punya dua kios sekarang,” katanya.
Aku tertawa kecil.
“Kau terdengar seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.”
Rahman duduk di kursi ruang tamu sambil menghela napas panjang.
“Aku hanya tidak menyangka kita bisa sampai di sini.”
Aku duduk di sampingnya.
“Kita masih harus bekerja lebih keras.”
Rahman mengangguk.
“Tentu saja.”
Namun dari cara ia memandang kios-kios kecil itu, aku tahu ia merasa bangga. Dan aku juga merasa bangga melihatnya.
***
Tahun berikutnya usaha kami berkembang lagi. Rahman mulai bekerja sama dengan beberapa pemasok pakaian dari kota lain. Ia tidak lagi hanya menjual pakaian yang dibeli dari pasar grosir.
Beberapa pakaian mulai dibuat khusus untuk tokonya. Aku mulai lebih banyak membantu mengatur barang. Kadang aku juga ikut memilih model pakaian yang akan dijual.