Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #13

Dapur yang Tidak Pernah Benar-Benar Sepi #13

Beberapa bulan setelah kami pindah ke rumah baru, Rahman mulai jarang memiliki waktu luang. Usaha pakaian yang dulu hanya dua toko kini berkembang lagi.

Rahman menambah gudang kecil di belakang toko pertama untuk menyimpan barang-barang yang datang dari luar kota. Kadang truk pengangkut pakaian datang sebelum matahari benar-benar tinggi.

Rahman selalu datang lebih dulu ke toko. Ia memeriksa barang satu per satu seperti dulu ketika usahanya masih kecil.

“Aku tidak ingin menjadi pedagang yang lupa bagaimana semuanya dimulai,” katanya suatu pagi.

Aku sedang membantu mencatat jumlah barang di buku besar toko.

“Kau tidak akan pernah lupa,” jawabku.

Rahman tersenyum.

Namun di balik kesibukan itu, ada satu kebiasaan yang tidak pernah kami tinggalkan. Setiap beberapa bulan sekali, kami selalu pulang ke kampung.

***

Perjalanan menuju kampung selalu membuat hatiku terasa berbeda. Semakin dekat mobil kami ke jalan tanah yang menuju rumah Ayah, semakin banyak kenangan yang muncul di kepalaku. Sawah yang terbentang luas. Pohon kelapa yang tinggi di tepi jalan. Dan rumah-rumah kayu yang berdiri tenang di antara kebun.

Rahman selalu memperhatikan wajahku setiap kali kami hampir sampai.

“Kau selalu terlihat seperti kembali menjadi anak kecil setiap kali pulang,” katanya suatu kali.

Aku tertawa kecil.

“Mungkin karena di tempat ini aku memang selalu merasa seperti anak kecil.”

Mobil kami berhenti di depan rumah. Rumah itu masih sama seperti terakhir kami tinggalkan. Tidak berubah banyak. Ayah berdiri di halaman ketika melihat kami datang. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan.

Rahman segera turun dari mobil dan menyalami Ayah.

“Pak.”

Ayah mengangguk.

“Kalian datang juga akhirnya.”

Aku memeluk Ayah lama. Tubuh Ayah terasa lebih kurus dari terakhir kali aku pulang. Namun pelukannya masih sama hangatnya.

***

Rahman selalu membawa banyak barang setiap kali kami pulang.

Kali ini ia membawa beberapa karung pakaian.

“Untuk orang kampung,” katanya.

Ayah tertawa kecil.

“Kau tidak pernah datang dengan tangan kosong.”

Rahman mengangkat bahu.

“Orang kampung dulu juga baik kepada saya.”

Aku tahu Rahman selalu merasa berutang kepada kampung ini. Di tempat inilah ia pertama kali datang tanpa siapa-siapa. Di tempat inilah ia bertemu denganku.

***

Hari itu rumah Ayah kembali ramai. Beberapa tetangga datang. Mereka ingin melihat pakaian yang dibawa Rahman. Halaman rumah berubah seperti pasar kecil. Perempuan-perempuan kampung tertawa sambil memilih baju. Anak-anak berlarian di halaman.

Rahman berbicara dengan semua orang seperti mereka sudah lama saling mengenal. Melihat Rahman seperti itu selalu membuatku tersenyum. Ia memang mudah disukai orang. Namun di tengah keramaian itu, aku diam-diam masuk ke dalam rumah. Langkahku membawaku ke tempat yang selalu menarikku setiap kali pulang. Dapur.

Dapur itu masih sama. Tungku kayu di sudut ruangan. Meja kayu yang sudah sedikit aus. Rak kecil tempat Mak dulu menyimpan bumbu.

Lihat selengkapnya