Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #14

Ayah yang Semakin Banyak Diam #14

Pagi di kampung selalu datang lebih cepat dibandingkan di kota. Ketika aku bangun, cahaya matahari sudah masuk melalui jendela kamar. Suara ayam terdengar dari halaman rumah tetangga. Dan dari dapur, aku mendengar suara panci yang saling bersentuhan pelan. Aku mengira Ayah sedang memasak. Namun ketika aku keluar dari kamar, aku melihat Rahman di dapur.

Ia sedang menuangkan air panas ke dalam panci.

“Aku pikir kau masih tidur,” katanya ketika melihatku.

“Aku juga pikir Ayah yang di dapur.”

Rahman tersenyum kecil.

“Ayah sudah ke sawah sejak subuh.”

Aku mengangguk.

Ayah memang selalu bangun sangat pagi. Sejak kecil aku sudah terbiasa mendengar langkahnya keluar rumah sebelum matahari terbit. Namun entah mengapa pagi itu aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Langkah Ayah sekarang tidak lagi sekuat dulu.

***

Setelah sarapan, aku berjalan ke sawah. Rahman mengatakan Ayah berada di sana. Jalan tanah menuju sawah masih sama seperti dulu. Beberapa tetangga menyapaku ketika aku lewat. Mereka bertanya tentang kehidupan kami di kota. Aku menjawab seperlunya. Namun pikiranku sudah berada di sawah.

Ketika sampai di sana, aku melihat Ayah berdiri di pematang. Ia memandang padi yang mulai menguning. Aku berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ayah tidak menyadari aku sudah datang.

Tubuhnya terlihat lebih kecil dari yang kuingat. Bahunya sedikit membungkuk. Aku mendekat perlahan.

“Ayah.”

Ayah menoleh.

Wajahnya langsung berubah cerah.

“Kau sudah bangun.”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Ayah memandang sawah lagi.

“Padi tahun ini bagus.”

Aku berdiri di sampingnya. Angin dari sawah bergerak pelan. Membuat padi-padi bergoyang seperti ombak kecil.

“Ayah masih sering datang ke sini?” tanyaku.

“Hampir setiap hari.”

“Tidak lelah?”

Ayah tertawa kecil.

“Kalau tidak ke sawah, Ayah tidak tahu harus melakukan apa di rumah.”

Aku tidak menjawab.

Aku tahu rumah itu terasa jauh lebih sunyi sejak Mak pergi.


Kami duduk di pematang sawah beberapa saat. Ayah jarang berbicara banyak. Namun keheningan di antara kami tidak pernah terasa canggung. Sudah sejak lama kami terbiasa seperti itu.

“Ayah,” kataku akhirnya.

Ayah menoleh.

“Kau rindu Mak?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

Lihat selengkapnya