Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #15

Catatan yang Tidak Pernah Tua #15

Malam di kampung selalu terasa lebih sunyi dibandingkan di kota. Setelah makan malam, Rahman dan Ayah masih duduk di ruang depan. Mereka berbicara tentang sawah, tentang harga padi, dan tentang beberapa orang kampung yang dulu pernah dikenal Rahman ketika ia pertama kali datang ke sini.

Aku tidak ikut dalam percakapan itu. Entah mengapa malam itu aku merasa ingin berjalan ke dalam rumah sendirian. Langkahku pelan melewati ruang tengah. Lampu yang menyala tidak terlalu terang. Cahaya kuningnya membuat bayangan di dinding terlihat lebih panjang. Rumah ini terasa sangat tenang. Namun di dalam ketenangan itu selalu ada sesuatu yang membuatku merasa seperti kembali ke masa lalu.

Aku berhenti di depan kamar yang dulu digunakan Mak. Pintu kamar itu masih sama seperti dulu. Kayunya sudah sedikit tua. Namun Ayah selalu merawat rumah ini dengan baik. Aku membuka pintu perlahan.

***

Kamar Mak tidak banyak berubah. Tempat tidurnya masih berada di sudut ruangan. Lemari kayu tua masih berdiri di tempat yang sama. Jendela kecil di dinding masih menghadap ke arah kebun.

Aku melangkah masuk. Udara di dalam kamar terasa berbeda. Seperti menyimpan banyak kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Tanganku menyentuh meja kecil di samping tempat tidur. Di atas meja itu masih ada beberapa benda yang dulu sering digunakan Mak.

Sisir kayu. Kotak kecil tempat Mak menyimpan jarum dan benang. Dan sebuah buku tipis yang langsung membuatku berhenti bernapas sejenak.

Buku itu.

Aku mengenalnya.

Itu adalah catatan Mak.

Buku yang dulu pernah kutemukan secara tidak sengaja.

Buku yang pernah membuatku menangis ketika pertama kali membacanya. Tanganku gemetar sedikit ketika mengambilnya. Aku duduk di tepi tempat tidur. Beberapa halaman buku itu sudah sedikit menguning. Namun tulisan Mak masih terlihat jelas. Tulisan yang rapi dan pelan. Aku membuka halaman pertama.

Tulisan di dalam buku itu tidak panjang-panjang. Mak menulis seperti seseorang yang hanya ingin menyimpan beberapa pikiran kecil. Namun setiap kalimat terasa sangat dekat dengan hidupnya.

Salah satu halaman berbunyi:

"Hari ini anakku pulang sekolah dengan wajah murung.

Ia bilang dunia di luar rumah tidak selalu baik.

Aku hanya bisa mengatakan kepadanya bahwa dunia memang tidak selalu lembut, tetapi manusia harus tetap belajar menjadi lembut."

Mataku mulai terasa panas. Aku ingat hari itu. Aku pulang sekolah dengan kesal karena bertengkar dengan teman. Mak tidak memarahiku. Ia hanya mendengarkan.

Aku membuka halaman berikutnya.

Tulisan lain muncul.

"Kadang aku khawatir tentang masa depan anakku.

Bukan karena ia tidak kuat, tetapi karena dunia sering terlalu keras bagi hati yang lembut."

Aku menarik napas pelan. Mak selalu mengkhawatirkan hal-hal kecil tentangku. Namun ia jarang menunjukkannya secara langsung.

Aku terus membaca. Beberapa halaman berisi hal-hal sederhana.

Tentang sawah.

Lihat selengkapnya